Tidak Ada Masalah, Lion JT 610 Sempat Terbang dari Bali

Jakarta, airmagz.com – Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 yang jatuh di Perairan Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) lalu terakhir terbang dari Denpasar menuju Cengkareng, Jakarta, Minggu (28/10) dengan kode penerbangan JT-43. Berdasarkan informasi yang beredar, pesawat sempat mengalami masalah teknis hingga delay di Bandara Ngurah Rai. Namun demikian, Otoritas Bandara Wilayah IV Bandara Ngurah Rai menyatakan sudah dilakukan ram cek terhadap pesawat tersebut hingga dipastikan layak terbang.

Kepala Otoritas Bandara Wilayah IV Bandara Ngurah Rai, Herson di sela ram cek sejumlah pesawat, Minggu (4/11) menyatakan pesawat-pesawat yang mendarat dan akan terbang kembali melalui Bandara Ngurah Rai dilakukan pengecekan.  “Sebetulnya, setiap saat dilakukan ram cek. Mengevaluasi keseluruhan, dalam hal ini berupa administrasi dan teknis. Terkait teknis, dilakukan inspeksi terhadap mesin, maintenance, termasuk validasi kru,” ungkapnya.

Ramp cek tersebut kata dia menentukan pesawat layak terbang atau tidak. “Jika ada hal-hal yang harus diperbaiki dan lain-lain, kami menyarankan agar diperbaiki dulu,” jelas Herson.

Disinggung apakah ada pengecekan ekstra terhadap pesawat maupun kru, mengingat insiden jatuhnya pesawat Lion Air bernomor penerbangan JT 610 di Perairan Karawang, Jawa Barat beberapa waktu lalu, ia menyatakan masih berdasar Standar Operasional Prosedur. Khususnya, kata dia  jenis pesawat Boeing 737-Max 8 yang salah satunya jatuh tersebut. “Yang Max Lion Group sudah kami periksa periksa kemarin. Max itu kan pesawat baru, semuanya sebetulnya tidak ada masalah, semua normal,” ujarnya.

Disinggung mengenai informasi sempat adanya kerusakan terhadap pesawat yang baru beroperasi sejak Agustus lalu tersebut, Herson menegaskan berdasarkan pengecekan saat itu tidak ada. Meski sempat delay, ia memastikan hasil evaluasi menyatakan pesawat dalam kondisi normal sesaat sebelum terbang dari Bandara Ngurah Rai. “Kalau di data dari evaluasi otoritas Bandar udara, semuanya normal, dari Bali ya. Hasil evaluasi seluruh inspektur kami menyatakan data-datanya semuanya normal. Tidak ada kerusakan, sesuai data kami dan sudah kami laporkan ke pimpinan,” tegasnya.

Herson pun menjelaskan, ram cek sebetulnya dilakukan secara rutin. Secara periodik, bisa tiap minggu, bulan, dan tahun. Pun ram cek bisa dilakukan sewaktu-waktu saat ada keluhan dari teknisi. Ram cek ini kata dia menyasar seluruh maskapai. “Kami hari ini secara random. Ada Garuda, ada Lion. Ini kan bukan pemeriksaan yang kemarin ada kejadian, hanya Lion, ndak. Secara keseluruhan setiap saat kami lakukan,” jelasnya.

Satu pesawat, kata dia membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit untuk ram cek. “Hal-hal yang kami lakukan, yang prioritas berupa validasi sertifikasi pilot maupun kru. Kemudian mengevaluasi hasil-hasil sebelum penerbangan. Demikian pula pengecekan teknis, seperti mesin dan lain-lain. Selama penerbangan kan pilot ada catatan di logbooknya. Nah, itu dilihat dan dievaluasi oleh tim inspektur kami. Hal ini untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan penerbangan,” tandasnya seraya menyatakan berdasarkan hasil ram cek yang dilakukan, sementara kata dia tidak ditemukan permasalahan siginifikan alias normal. (IMN/jawapos.com)

Share :
You might also like