Terkait Insiden JT 610, Boeing dan FAA Keluarkan Instruksi Keselamatan Penerbangan

Jakarta, airmagz.com – Pesawat Boeing 737 MAX 8 yang diterbangkan maskapai Lion Air celaka di Teluk Karawang, 29 Oktober lalu. Sebanyak 189 orang penumpang maupun awak dinyatakan meninggal dunia.

Merespons kejadian tersebut, produsen pesawat, Boeing, bersama otoritas penerbangan Amerika Serikat atau Federal Aviation Administration (FAA) akan mengeluarkan imbauan keselamatan terkait kemungkinan perangkat lunak pengendali penerbangan (flight-control software) yang dapat membingungkan pilot.

Seperti dikutip dari The Wall Street Journal, Rabu (7/11), sejumlah sumber menyebut, langkah tersebut adalah indikasi pertama yang terkuak bahwa para investigator menduga, ada kemungkinan terjadi malfungsi sementara pada perangkat lunak atau misinterpretasi dari sisi pilot–yang terkait sistem penting yang mengukur seberapa tinggi atau rendah hidung pesawat saat terbang–yang mungkin memainkan peran penting dalam kronologi peristiwa yang menyebabkan Boeing 737 MAX 8 terjun ke Laut Jawa.

Data yang salah tentang sudut (angle) pesawat bisa mengarah pada serangkaian peringatan atau sinyal warning yang bisa salah diinterpretasikan oleh pilot saat terbang secara manual, bahkan tatkala sistem keamanan secara otomatis menyesuaikan flight-control surfaces atau bagian dari pesawat terbang yang berfungsi untuk mengontrol gerakan atau sikap (attitude) pesawat terbang tersebut.

Tindakan antisipasi yang dilakukan Boeing dan U.S. Federal Aviation Administration adalah aksi pendahuluan, demikian menurut para sumber.

Langkah berikutnya adalah menghentikan sementara, mewajibkan penggantian atau pemeriksaan sistem onboard tertentu.

Di sisi lain, itu adalah “bendera merah” atau peringatan bahaya bagi pilot, karena menggarisbawahi potensi bahaya yang berasal dari interaksi perangkat lunak tertentu dengan berbagai sistem peringatan kokpit lainnya. Penerbang diingatkan untuk mengikuti prosedur yang digariskan.

Para awak Lion Air Penerbangan JT 610 kembali ke penerbangan manual setelah menjumpai indikasi kecepatan (airspeed indications) yang tak bisa diandalkan, sesaat setelah lepas landas dari Jakarta, dalam cuaca cerah, demikian menurut bukti awal yang dikumpulkan para penyelidik.

Beberapa menit setelah pilot menginformasikan situasi yang dihadapi ke pengendali lalu lintas udara, dan secara bertahap menyesuaikan ketinggian sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi masalah, jet bermesin ganda itu terjun ke air dengan kecepatan tinggi.

Harus dicatat, meski ditemukan kemungkinan masalah pada software, peringatan tak secara eksplisit mengaitkan sistem tersebut dengan kecelakaan pada 29 Oktober 2018. Masih ada faktor-faktor lain yang harus diselidiki untuk menyimpulkan penyebab pasti kecelakaan Lion Air.

Sebelumnya, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang dibantu sejumlah lembaga menyelidiki 69 informasi yang didapat dari flight data recorder (FDR), yang mencatat 19 penerbangan.

Misteri penyebab jatuhnya Lion Air rute Jakarta-Pangkalpinang itu mulai terkuak, meski belum seluruhnya.

Temuan awal menyebut, pesawat sudah mengalami kerusakan dalam empat penerbangan terakhirnya, termasuk kecelakaan pada 29 Oktober 2018. Kerusakan diketahui terjadi pada penunjuk kecepatan atau airspeed indicator.

Data penerbangan Boeing 737 MAX 8 dengan nomor registrasi PK-LQP yang dioperasikan Lion Air (Flightradar24)

Berdasarkan data yang diunggah situs pemantau penerbangan Flightradar24, sebelum berakhir di perairan Tanjung Pakis, Karawang, pesawat Boeing 737 MAX 8 dengan kode registrasi PK-LQP sebelumnya digunakan dalam penerbangan dari Denpasar-Jakarta (JT 043), Manado-Denpasar (JT 775), dan Lombok-Denpasar (JT 829). (IMN/Merdeka.com)

Share :
You might also like