Analisis Kerjasama Operasi Garuda-Sriwijaya Air

Oleh : Marco Umbas

Pengamat Penerbangan

Sriwijaya Air (SR) telah gagal mengelola bisnis penerbangan sehingga menyerahkan Operasi dan Keuangan kepada Garuda Group. Adapun implementasinya dalam bentuk Kerjasama Operasi (KSO) dimana Citilink (CT) menjadi kendaraan untuk menjalankan manajemen Sriwijaya Air. (Garuda Ambil Alih Operasional & Finansial Sriwijaya Air Group, CNBC Indonesia,14 November 2018).

Ternyata KSO tersebut merupakan bagian kesepakatan karena SR tidak mampu membayar hutang kepada Garuda Maintenance Facility (GMF) sebesar Rp.433 M. Untuk itu Garuda Group melalui CT mengambil alih operasi dan keuangan SR. (Sriwijaya Air Punya Utang Perawatan Pesawat ke Garuda Rp433 M, CNN Indonesia,16 November 2018).

Pelajaran penting dari SR adalah kegagalan bisnis model hybrid, bukan LCC atau Full Service Carrier (FSR) untuk melakukan penetrasi di pasar yang sangat kompetitif. Pemilihan bisnis model hybrid dengan menawarkan layanan premium tetapi target market middle down segment ternyata tidak dapat berkompetisi dengan LCC di pasar Indonesia.

Berdasarkan temuan diatas maka operator LCC seharusnya mempertajam bisnis modelnya dengan sasaran middle down segment yaitu no service on board, frekwensi tinggi, multi skill personnel, ground time 20 menit, penerbangan less than 3 hours, point to point, direct booking to website operator, auxiliary service: penjualan makanan di pesawat, iklan di body/seat/cabin pesawat dan Operate at Secondary Airport. Atau menggunakan bisnis model Full Service Carrier (FSC) untuk melayani Middle Up Segment.

Meskipun Indonesia Airasia (IAA) telah menerapkan bisnis model LCC secara konsisten namun kerugian tetap dialami oleh IAA, yang ditandai oleh penurunan lebih dari 50% nilai saham semenjak awal tahun ini atau pada level 208 (IDX 14 Nov 2018). Begitu pula kinerja Garuda yang masih merugi sehingga diperlukan pendekatan baru agar LCC dan FSC di Indonesia kembali menguntungkan.

Faktanya bahwa aksi korporasi Garuda Group telah menciptakan sentimen positif optimisme capital market, terbukti terjadi peningkatan harga saham GIAA menuju level 242 (Luar Biasa! Saham Garuda Meroket 25% Usai Ambil Sriwijaya Air, CNBC Indonesia,15 November 2018).

Pada tanggal 16 November, CNN Indonesia memberitakan bahwa ternyata KSO tersebut merupakan bagian kesepakatan dalam kaitan hutang SR kepada Garuda Group. Capital market langsung bereaksi negatif sehingga menjungkalkan saham Garuda ke level 222 atau turun 10 %. (IDX 16 November 2018).

Melihat kondisi saat ini, langkah Garuda untuk melakukan KSO dengan SR adalah sebuah paradoksal! Pertanyaannya adalah bagaimana mungkin Garuda yang sedang ‘sakit’ mampu menolong SR yang sudah ‘koma’ di ICU? Kritik terhadap langkah Garuda adalah tidak pada momen yang tepat mengingat kedua operator sedang merugi dan GMF harus kehilangan pendapatan Rp433 M!

Lebih jauh KSO ini merupakan solusi sementara mengingat SR dan CT mempunyai segmen pasar, visi/misi, strategi bisnis, corporate culture yang sangat berbeda sehingga integrasi 2 entity bisnis tersebut akan mendapatkan tantangan yang besar. Lebih jauh CT dan SR juga mempunyai permasalahan masing-masing khususnya dalam meningkatkan Load Factor dalam jangka pendek sehingga memerlukan penanganan yang holistic dari mulai aspek marketing/sales, operasi, keuangan dan HRD.

Seperti kegagalan integrasi Garuda-Merpati tahun 80-an (elibrary.dephub.go.id/elibrary/media/catalog) atau usaha Tony Fernandes mengintegrasikan Malaysian Airlines dan Airasia yang gagal total (Malaysian Airlines and AirAsia Scrap Share Swap Deal, BBC, 3 May 2012). Kenyataannya saat itu, Garuda-Merpati dan Airasia-MH sedang tidak mengalami kerugian, kesulitan keuangan dan depresiasi nilai tukar serta harga fuel yang tinggi seperti yang dihadapi penerbangan nasional saat ini.

Langkah korporasi ini semestinya mempunyai perspectif yang lebih luas yaitu terdapat road map perbaikan kinerja Garuda dan SR secara menyeluruh. Khususnya dalam jangka pendek pada aspek peningkatan pendapatan/load factor CT/SR dan Financial Engineering terhadap hutang SR, bukan hanya segi operasi dan keuangan.

Dipihak lain kondisi Lion Air Group dengan tingkat kepercayaan masyarakat yang relatif rendah tentunya akan memudahkan Garuda dan KSO CT/SR di dalam meningkatkan load factor dan memenangkan persaingan pada setiap rute penerbangan.

Capital market tentu akan menghukum Garuda apabila aksi korporasi ini lebih membebani daripada meningkatkan kemampuan untuk menciptakan keuntungan. Namun dengan trend penurunan harga minyak dunia dan penguatan rupiah yang tentunya akan membantu penurunan biaya dan peningkatan pendapatan penerbangan nasional. (Harga Minyak Anjlok 7 Persen Terseret Wall Street, CNN Indonesia, 14/11/2018/ Sejak Awal Bulan, Penguatan Rupiah Tertinggi Sejagat, CNBC Indonesia, 17 November 2018).

Semoga Garuda segera mengambil langkah yang cepat dan akurat agar memanfaatkan momentum bisnis penerbangan untuk meningkatkan kinerja sekarang dan dimasa depan.

Share :
You might also like