Awali Safety Campaign, Operator Penerbangan Tanda Tangani Komitmen Keselamatan

Jakarta, airmagz.com – Pelayanan angkutan udara, selalu menjadi minat masyarakat dunia, khususnya di Indonesia. Dengan perkembangan industri penerbangan Indonesia yang semakin pesat yaitu terdapat lebih dari 2 ribu pergerakan penerbangan setiap harinya di antara bandara di Indonesia, Kementerian Perhubungan terus meningkatkan tingkat keselamatan dan keamanan maskapai dan bandaranya dan juga memutakhirkan pelayanan navigasi udara Indonesia.

Foto : Istimewa

Setiap tahunnya jumlah pengguna moda transportasi udara selalu mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Kementerian Perhubungan sebagai regulator penerbangan Indonesia akan mampu mengembangkan pelayanannya bagi pengoperasian penerbangan sipil di Indonesia.

Oleh karena itu, Kementerian Perhubungan melalui Ditjen Perhubungan Udara, selalu berupaya untuk memberikan pelayanan terbaik, terutama dalam hal keselamatan dan keamanan penerbangan. “Yang terpenting adalah keselamatan, tidak ada toleransi dalam keselamatan, ini no go item, harus dipenuhi bila ingin berangkat!” tegas Dirjen Perhubungan Udara Polana B Pramesti.

Bersamaan dengan Pembukaan Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Kementerian Perhubungan, Ditjen Hubud melaksanakan penandatanganan Safety Commitment, bersama para operator penerbangan, agar dapat meningkatkan keselamatan, keamanan dan pelayanan. Disaksikan oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya, Sumadi, penandatanganan dilakukan di Hotel Merlynn Park, Jakarta.

Dihadiri oleh 70 operator penerbangan di Indonesia, terdiri dari maskapai penerbangan, Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara, operator navigasi penerbangan, operator bandara dan maintenance. Adapun perwakilan operator yang melakukan penandatanganan safety commitment adalah Garuda Indonesia, Lion Air, AP 1 dan AP 2, Airfast, SAS, Airnav Indonesia, Batam Aero Teknik, GMF, JAS, UPBU Sebtani dan UPBU Tarakan.

“Melalui penandatanganan Safety Commitment, kami berharap untuk dapat meningkatkan kerja sama antara regulator dan industri penerbangan untuk meningkatkan safety, kita tidak bisa mengesampingkan safety. Meningkatkan safety adalah cara untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap dunia penerbangan nasional,” ungkap Polana.

Menurut Polana, keselamatan dan keamanan merupakan salah satu hal yang paling penting dalam industri penerbangan. ”Kuncinya di sini adalah untuk mewujudkan kelaikan udara yang berkelanjutan”, tambahnya.

Kedepannya Direktorat Jenderal Perhubungan Udara akan melaksanakan Campaign Safety secara Below The Line atau tatap muka langsung kepada masyarakat selaku pengguna moda transportasi udara. Sebelumnya Dirjen Hubud telah melaksanakan Aviation Goes To School sebagai sarana pendidikan dunia penerbangan semenjak dini kepada siswa/i SMA se DKI Jakarta.

“Pelayanan dan fasilitas sebagai faktor penunjang akan senantiasa kami tingkatkan, agar para pengguna semakin terlayani dengan baik dan semakin meningkat pula antusias masyarakat memilih trasnportasi udara dalam menjalankan aktifitas”, imbuh Polana.

Menteri Perhubungan yang hadir untuk membuka secara resmi Rakernis Ditjen Hubud 2018, menyambut baik adanya penandatanganan Safety Commitment. “Transportasi sebagai bagian yang sudah sangat terinternalisasi dalam kehidupan sosial masyarakat kita dan telah menjadi bagian dari rutinitas kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, keselamatan transportasi penerbangan juga menjadi isu penting dan menjadi perhatian kita bersama, baik dalam kehidupan sebagai sebuah bangsa maupun dalam skala global”, ungkap Budi Karya.

Kaitannya dengan operasional penerbangan selama masa angkutan udara Natal dan Tahun Baru 2019, Menteri Perhubungan juga mengimbau maskapai penerbangan untuk tetap mengutamakan keselamatan. Selain itu, Menhub juga meminta airlines untuk tidak mematok tarif tiket pesawat hingga mendekati batas atas.

“Semakin dekatnya masa angkutan Nataru, kami berharap agar maskapai jangan mematok tarif hingga batas atas, agar para pengguna angkutan udara terutama mereka yang merayakan Natal di dominasi oleh saudara saudara kita di daerah Indonesia Timur bisa menikmati layanan penerbangan tanpa dibebani biaya yang mahal”, ujar Budi.

Pada periode Nataru 2018/2019, jumlah penumpang angkutan udara diprediksi mencapai 6,5 juta orang atau meningkat sekitar 8,76 persen ketimbang tahun lalu yang berjumlah 6,01 juta penumpang. (IMN)

Share :
You might also like