Workshop Women in Aviation, Cara Indonesia Aviation Communities Peringati Hari Ibu

Jakarta, airmagz.com – Penyelenggaraan penerbangan Indonesia ditujukan untuk memperlancar arus perpindahan orang atau barang secara tertib, teratur, selamat, aman, nyaman, dengan harga yang wajar, dan dalam rangka memperlancar kegiatan perekonomian dan ketahanan Nasional.

Hal ini meliputi kegiatan manajemen dan operasi pada Airlines, Airport dan Air Navigation Services, Aircraft Manufacturers dan Lessors, Maintenance, Fuel Suppliers, dan Ground Handling Services, serta Product Distribution, yang keseluruhannya merupakan ‘value chain’ dari penerbangan.

Dari serangkaian ‘value chain’ tersebut, pada umumnya, didominasi oleh kaum Adam. Namun, belakangan, kaum wanita mulai banyak menghiasi bahkan mulai mengekspansi berbagai lini dan fungsi di dunia kedirgantaraan dan kebandarudaraan. Mulai dari back office seperti human capital, hingga frontliner seperti ground handling dan pilot. Mulai dari security check hingga CEO.

Tema-tema itulah yang kemudian dikupas lebih dalam, sebagaimana tema besar yang diusung oleh Indonesia Aviation Communities (IAC) sebagai penyelenggara, yakni ‘The Future of Flight is Female: Women in Aviation’, pada acara workshop guna memperingati Hari Ibu. Acara yang terselenggara pada hari Sabtu, (22/18), di lantai 4 Menara Cardig, Halim, Jakarta Timur, berusaha mendorong peran serta wanita di dunia kedirgantaraan dan kebandarudaraan Indonesia di beberapa tahun mendatang.

Tak sampai di situ, pada acara yang digelar sejak pukul 9 pagi ini, IAC juga berharap, bahwa kegiatan tersebut dapat menjadi awal pembentukan wadah komunitas masyarakat penerbangan yang dilaksanakan secara berkala untuk menyelaraskan pemikiran, khususnya peningkatan peran para wanita yang berawal dari kegiatan pendidikan dan pelatihan serta ‘capacity building’ bagi pertumbuhan dan ketahanan industri penerbangan Nasional, serta kompetensi profesi penerbangan Indonesia.

Dalam gelaran yang dihadiri berbagai wanita karir di berbagai sektor tersebut, seperti Kemenristek Dikti, KNKT, kepala bandara, pilot, praktisi penerbangan, Ditjen Hubud, psikolog, entrepreneur, profesional, dosen, hingga mahasiswa, Kepala Bandara Banjarmasin, Indah Prawesti, berbagi tentang bagaimana perjalanan karirnya hingga bisa seperti sekarang.

Selain itu, wanita yang mulai menggeluti dunia kebandarudaraan sejak tahun 1995 ini, juga meyakinkan kepada para peserta workshop, khususnya para mahasiswi, bahwa sejak lahir, mereka (wanita) sudah dibekali dua kemampuan, yakni organizer dan service yang baik. “Kita pemberi layanan yang baik loh” ujarnya.

Sementara itu, Hedy Angghreini, mengakui bahwa dunia aviasi Indonesia masih di kuasai oleh kaum pria. Menurutnya, selama ini, perempuan hanya ditempatkan pada posisi yang berkaitan dengan pelayanan. Paradigma ini tentu sangat disayangkan. “Padahal, kalau diberikan kesempatan, kita bisa menjadi leader,” jelasnya, saat memaparkan materi leadership.

Setali tiga uang, hal itu pun juga diamini oleh Diana Oetomo. Dalam kacamatanya, dunia penerbangan Indonesia mengalami stagnasi dalam mendorong wanita untuk mencapai pucuk pimpinan tertinggi di sebuah arlines.

“Dari tahun 2010 hanya ada 18 airlines yg menempatkan wanita di posisi CEO. Tahun 2018 tidak ada perkembangan. Tetap diangka 18. Di negara Arab, Kuwait misalnya, itu sudah banyak menempatkan perempuan di posisi CEO,” tegasnya, di sela-sela pemaparan materi service excellent.

Selanjutnya, di tempat terpisah, Capt. Toto H. Subagyo, secara pribadi, berharap bahwa kelak acara ini dapat menjadi langkah awal untuk ikut berpartisipasi dalam program next generation of aviation professionals (NGAP) yang digagas Internasional Civil Aviation Organizational (ICAO).

“Indonesia perlu mempersiapkan diri untuk ikut berpartisipasi dalam program next generation aviation profession, supaya dunia penerbangan tetap terus berlangsung di masa mendatang,” jelasnya.(AH)

Share :
You might also like