Paguyuban Golf Insan Cita PGIC, Tetap Eksis dengan ‘3S’

Paguyuban Golf Insan Cita berdiri sejak 27 September 2005. Paguyuban yang diketuai oleh Ahmad Ganis ini awalnya terbentuk dari ketidaksengajaan para anggotanya yang sering berkumpul untuk berdiskusi dalam sebuah perkumpulan bernama Forum Diskusi Insan Cita (Pordics). Dari semula hanya 10 orang, lama-lama jumlah anggota perkumpulan ini semakin banyak.

Akhirnya tercetuslah kesepakatan para anggota diskusi untuk membentuk wadah perkumpulan yang lebih besar lagi dengan nama Paguyuban Golf Insan Cita (PGIC), yang hingga saat ini jumlah member-nya hampir mencapai 700 orang. Sedangkan jumlah pesertanya yang aktif dalam dua tahun ini sekitar 250 orang.

Nama PGIC sendiri digunakan karena para pendirinya terinspirasi oleh semangat perjuangan para aktivis dari berbagai organisasi saat mereka masih menjadi mahasiswa di tahun 1966. Salah satunya adalah Ahmad Ganis. Dulunya, Ganis adalah Ketua Front Mahasiswa Islam di Bandung. Tokoh lainnya adalah Jusuf Kalla, Wakil Presiden Republik Indonesia saat ini, yang dulunya juga berperan sebagai Ketua Front Mahasiswa Islam di Indonesia Timur.

Menurut Ganis, para peserta paguyuban ini terdiri dari beraneka latar belakang profesi, mulai dari para pensiunan, mantan duta besar, dosen, birokrat, mantan pejabat, politisi, pengusaha, hingga artis.

“Para peserta peguyuban ini merupakan insan-insan terpelajar yang mempunyai semangat dan cita-cita yang sama untuk memberikan apa yang terbaik bagi bangsa. Dengan semangat itulah kami membuat nama PGIC. Bahkan mungkin PGIC saat ini adalah satu-satunya paguyuban golf yang paling tua dan tetap aktif setelah 12 tahun lebih me-maintain lebih dari 120 orang setiap bulannya,” tutur Ganis saat diwawancara selepas acara Monthly Medal di Rancamaya Golf & Country Club, Ciawi, Bogor, (19/12).

Ganis juga menjelaskan bahwa PGIC dibentuk dengan mengusung pilar “3S”, yakni Sehat, Silaturahmi, dan Sportivitas. Pilar “Sehat”, kata Ahmad Ganis, menunjukkan bahwa PGIC memotivasi para pesertanya untuk selalu berusaha hidup dengan cara dan gaya yang sehat, baik sehat jasmani maupun rohani.

Selanjutnya, pilar “Silaturahmi” mengandung makna bahwa paguyuban ini selalu menjaga hubungan kekerabatan dan kekeluargaan antar para anggotanya, terlepas dari perbedaan agama, suku, ideologi, dan lain sebagainya.

“Di sini, jabatan dicopot dan ditaruh di kantor. Jadi tidak peduli apakah dia menteri, presiden, wakil presiden, office boy, ataupun pensiunan, kami kumpul bersama-sama dengan semangat persauadaraan. Dengan begitu, yang punya jabatan jadi tidak memiliki beban mental harus menjaga image atau citra. Karena semuanya merasa sama dalam satu kekeluargaan,” paparnya.

Sedangkan pilar yang ketiga, “Sportivitas”, mengandung arti bahwa PGIC selalu mengedepankan kejujuran dan keteladanan dalam bertanding. “Sportif ya artinya bertindak jujur dan fair. Misalnya kalau dalam bermain golf hasilnya par yang par. Kalau double ya double. Jadi, meskipun kami semuanya akrab, tapi jalannya permainan golf harus tetap sportif,” ujarnya.

Aneka Turnamen PGIC 

PGIC secara rutin menggelar turnamen bertajuk “Monthly Medal” dan turnamen tahunan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Hingga bulan Desember 2017, secara total, PGIC sudah melaksanakan turnamen Monthly Medal yang ke 104 kali. Turnamen ini biasanya di gelar di Rancamaya Golf setiap hari selasa di pekan ketiga setiap bulannya. Selain Monthly Medal, PGIC juga kerap mengeglar berbagai turnamen dalam negeri dan luar negeri.

Foto : DOK Pribadi

Pada Open Turnament, PGIC sudah melaksanakan sebanyak 11 kali turnamen. Open Turnament yang baru saja digelar PGIC adalah turnamen “Jusuf Kalla Cup” yang berlangsung pada 22 Oktober 2017 di Pondok Indah Golf, Jakarta. Seperti turnamen-turnamen sebelumnya, nama besar Jusuf Kalla kembali diusung karena tokoh RI-2 itu merupakan Dewan Pembina PGIC.

Kurang lebih ada 134 pegolf yang hadir pada Turnamen Jusuf Kalla Cup. Sejumlah tokoh penting nasional pun turut menjadi peserta turnamen ini, antara lain Menkopolhukam Wiranto, Ketua Mahkamah Agung Hatta Ali, mantan Menkumham Andi Mattalatta, dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva. Hadirnya tokoh-tokoh tersebut tidak terlepas dari peran sang ketua umum PGIC, Ahmad Ganis, yang telah sukses memimpin PGIC selama kurang lebih 12 tahun.

Selain itu, PGIC juga pernah menggelar beberapa turnamen di Bali, Batam, Bintan, Yogyakarta, Magelang, dan Makassar. Sedangkan pada ajang tour golf luar negeri, PGIC pernah menurunkan pegolf-pegolf terbaiknya ke beberapa kota di dunia, mulai dari Bangkok, Kunming, Nanning, hingga Guangzhou.

Mencegah Post Power Syndrome 

Ada yang sangat unik pada paguyuban golf ini. Sebagian para anggotanya yang merupakan pensiunan tetap dipersilakan mengikuti berbagai acara dan event yang diadakan meskipun memang biaya olahraga ini terbilang mahal. Sebab, setiap bulannya, PGIC menjalani program pencarian dana untuk mensubsidi kegiatan golf para pensiuanan tadi agar tetap eksis di paguyuban ini.

Hal tersebut, menurut Ganis, diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada para anggota yang pada masa mudanya sudah mendedikasikan hidupnya demi kepentingan bangsa dan negara. “Karena mereka dulunya adalah para pejabat yang jujur yang patut dihormati dan diapresiasi.

Apalagi, menurut Ganis, para pejabat yang sudah pensiun mudah dan rentan diserang penyakit “Post Power Syndrome”, sehingga mereka membutuhkan suatu wadah yang bisa mencegah hal tersebut.

“Di paguyuban ini, para pensiunan tadi jadi tetap punya kesibukan, hubungan pertemanan mereka dengan para kolega juga tetap terjalin. Begitu juga saya, kalau tidak banyak bergaul dengan teman-teman di PGIC, saya bakal merasa kesepian. Jadi, dengan kegiatan ini, saya tetap merasa muda dan bergairah dalam menjalani hidup bersama teman-teman yang lain,” ungkap Ganis.

Kegiatan Sosial & Forum Diskusi 

Kendati merupakan sebuah klub golf, kegiatan PGIC tidak melulu dilakukan di atas lapangan hijau. Sebab, paguyuban ini juga acap menggelar kegiatan sosial bagi masyarakat luas, misalnya membagikan bantuan makanan dan pakaian bagi para korban bencana banjir. Selain itu, PGIC juga turut berpartisipasi dalam penggalangan dana untuk mendukung kegiatan Palang Merah Indonesia (PMI). Bahkan PGIC juga pernah dipercaya sebagai penyelenggara turnamen golf terbuka yang hasil usahanya disumbangkan kepada PMI.

Acap pula, bila ada kelebihan dana dari sebuah turnamen, dana tersebut langsung disumbangkan atau dialokasikan untuk kegiatan sosial,  misalnya diberikan untuk kegiatan qurban, dibelikan buku-buku sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu, dan lain sebagainya.

Tak cuma itu, bahkan PGIC juga sering menggelar forum diskusi dengan mengusung tema-tema yang aktual dan faktual, mulai dari masalah-masalah ekonomi, politik, hingga sosial, yang melibatkan nama-nama terkenal dan expert di bidangnya.

Tak lupa, didorong oleh semangat dan keinginan yang luhur untuk selalu memelihara, meningkatkan, dan membina silaturahim antar para anggotanya, PGIC juga secara rutin mengadakan acara halal bihalal dan buka puasa bersama, serta acara pengajian.  Bahkan, di setiap kali pertemuan, bila ada anggota PGIC yang berulang tahun, biasanya orang yang bersangkutan akan diberikan hadiah bingkisan serta ucapan selamat dari para anggota PGIC lainnya.

Share :
You might also like