Peta Persaingan Baru Industri Penerbangan Nasional

Oleh : Marco Umbas

Pengamat Penerbangan

Capital market telah menjawab langkah Garuda Group sebagai new market leader dipasar domestik khususnya inisiatif kerja sama operasi Sriwijaya Air, dengan terus memberikan sentimen positif berupa peningkatan nilai saham GIAA sebesar 58% kelevel 316. Begitu juga peningkatan nilai saham IAA (Indonesia Airasia) kelevel 296 atau peningkatan lebih dari 48% di awal tahun 2019 dibanding tahun lalu dimana saham GIAA dan IAA masih di level 200.

Sentimen positif didorong oleh prediksi pertumbuhan penumpang dipasar domestik sebesar 10-12% sehingga industri penerbangan akan lebih sehat di tahun 2019

Sementara itu komunikasi Garuda Group dengan Airasia untuk melakukan kerjasama operasi cenderung stagnan. Apalagi dengan pernyataan Tan Sri Tony Fernandes selaku Chairman Airasia Group yang akan fokus untuk melakukan penetrasi dipasar Indonesia pada tahun ini.

Kemungkinan besar Airasia Group akan mengembangkan potensi pasar domestik Indonesia dengan brand Indonesia Airasia seperti yang dilakukan dibeberapa negara Asia.

Kejutan besar diawal tahun 2019 adalah langkah agresif Lion Group dengan menerapkan biaya excess baggage, dengan demikian otomatis akan menaikan harga jual Lion Air pada semua rute penerbangan domestik.

Kebijakan kenaikan harga tersebut telah mengubah positioning Lion Group, mengingat selama ini Lion Air sudah dipersepsikan sebagai operator penerbangan termurah di Indonesia.
Di dalam perspektif yang lebih besar, Garuda Group sebagai market leader telah menjalankan strategi market driving secara efektif.

Terbukti telah mempengaruhi kebijakan harga Lion group dengan mengenakan biaya excess baggage untuk setiap penumpang.

Konsekuensinya maka akan terjadi kenaikan harga dipasar domestik secara umum berkisar 10-20% atau peningkatan pendapatan dan yield operator penerbangan domestik rata-rata 15%.
Di pihak lain telah terjadi perubahan perilaku penumpang di mana terdapat penurunan penumpang domestik pada liburan Natal 2018 dan Tahun Baru 2019.

Namun demikian tujuan Bali masih terdapat peningkatan penerbangan sebesar 1,69%. Sedangkan peningkatan penerbangan untuk tujuan luar negeri sebesar 8,89% (Kompas.com, 7 Januari).

Perubahan Perilaku Penumpang
Perubahan customer buying behavior akan terus berlanjut di tahun 2019 mengingat terdapat kenaikan harga tiket penerbangan khususnya di domestik, perubahan tujuan destinasi liburan mengingat terjadi gempa bumi/tsunami di daerah tertentu.

Untuk itu operator penerbangan sebaiknya mereview ulang market positioning untuk memperebutkan lebih dari 100 juta penumpang di tahun 2019 khususnya market milenial (CAPA, April 2018).

Mengingat harga bukanlah satu-satunya metode untuk memenangkan hati penumpang maka seharusnya masing-masing operator penerbangan khususnya LCC (Low Cost Carrier), untuk meninjau ulang target market segment dan value proposition. Tujuannya agar dapat mempertahankan bahkan meningkatkan load factor, yang pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan dan keuntungan operator penerbangan.
Diprediksi peperangan sengit akan terjadi pada rute-rute dengan high density dan high yield, sementara ini yang diuntungkan adalah Garuda group.

Mengingat Brand Image yang relative kuat dan didukung tingkat OTP (On Time Performance) yang baik sehingga selalu menjadi Top of Mind penumpang Domestik.

Garuda Group, Sriwijaya Air juga dapat mengambil keuntungan dengan mengambil posisi unik di pasar domestik khususnya aplikasi bisnis model hybrid, dimana penumpang membayar sedikit lebih mahal tapi mendapat layanan premium.

Namun tantangan terbesar Garuda Group adalah untuk membagi rute-rute yang dioperasikan sehingga brand Garuda, Citilink dan Sriwijaya tidak saling membunuh! Keberpihakan kepada preferensi penumpang dan penentuan besarnya target market segment pada setiap rute untuk masing-masing brand akan menentukan keberhasilan Garuda group agar terus mendominasi pasar domestik.

Peningkatan harga jual di pasar domestik tentunya akan menjadi kesempatan untuk Indonesia Airasia untuk melakukan penetrasi di pasar high density/high yield. Alalagi dengan brand image yang kuat dan inovasi dibisnis proses untuk terus menekan biaya operasi, akan merupakan penantang tangguh bagi lawan-lawan di tahun 2019.

Pekerjaan rumah Lion Group sangat banyak khususnya setelah musibah JT 610. Karenanya perbaikan brand image seharusnya menjadi prioritas utama. Brand image campaign menjadi sangat krusial melalui program perbaikan perusahaan yang seyogianya dikampanyekan secara intensif sehingga segera meningkatkan kepercayaan pelanggan.

Kekuatan network dengan jumlah frekuensi penerbangan Lion Group di domestik, tentu akan menjadi new value proposition yang tidak dapat ditiru pesaing.

Peperangan memperebutkan pasar domestik, diprediksi akan berlanjut pada strategi komunikasi khususnya di media sosial agar menjadi pilihan utama konsumen khususnya pada segment milenial.

Selamat bersaing dengan kreatif untuk memuaskan passenger needs and wants! Seperti yang dikatakan oleh Mercedes Lackey, Change or stagnant! Keep moving or Die!!

Selamat Tahun Baru 2019.

Share :
You might also like