Arab Saudi Gelar Operasi Antikorupsi, Pemilik Pesawat Pribadi Risau

Jakarta, airmagz.com – Operasi antikorupsi yang digelar di Arab Saudi beberapa waktu lalu berpengaruh buruk bagi bisnis pesawat pribadi. Puluhan pesawat terbang, baik yang dimiliki perorangan atau perusahaan persewaan, kini banyak yang menganggur dan parkir di berbagai bandara di sekujur negeri itu.

Sejumlah narasumber yang meminta nama mereka dirahasiakan kepada kantor berita Reuters yang memberitakannya pada Rabu (9/1) mengungkapkan bahwa ada pesawat pribadi yang lantas diserahkan kepada pemerintah sebagai bagian harta sitaan atau jaminan setelah operasi antikorupsi yang dilaksanakan di akhir 2017 silam. Saat itu puluhan pangeran, pengusaha, dan pejabat pemerintah yang disebut terlibat aneka kejahatan koruptif sempat ditangkap dan ditahan dalam operasi yang diperintahkan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman.

Alasan resmi operasi itu adalah bagian dari upaya reformasi yang menjadi program Sang Putra Mahkota. Namun ada yang menyebut operasi antikorupsi adalah tabir upaya untuk “membersihkan” atau menekan pihak-pihak yang berbahaya bagi pemerintah.

Pesawat lain yang juga menganggur adalah milik warga kaya Saudi yang dicekal ke luar negeri terkait operasi antikorupsi itu. Ada juga pemilik atau pelanggan sewa pesawat yang jadi ogah terbang dengan pesawat pribadi atau sewaan karena tak mau terlihat terlalu menyolok karena khawatir memicu kecurigaan soal kekayaan mereka.

Pesawat-pesawat yang menganggur itu ada berbagai jenis, mulai dari pesawat jet berukuran kecil namun mewah seperti Bombardier Gulfstream, hingga pesawat jet yang lebih besar seukuran pesawat penumpang umum seperti Airbus dan Boeing. Jumlah pesawat jet pribadi yang terdaftar di Arab Saudi hingga Desember 2018 adalah 129 buah, turun dari jumlah 136 buah yang terdaftar pada 2017. Pesawat jet pribadi atau sewaan selama ini banyak jadi andalan orang kaya Timur Tengah karena tak tergantung jadwal seperti pesawat komersial umum dan memungkinkan mereka bepergian tanpa banyak diketahui orang lain.

Ian Moore dari perusahaan persewaan pesawat VistaJet membandingkan situasi di Arab Saudi ini dengan kondisi di Tiongkok di mana kerasnya penindakan terhadap korupsi juga mempengaruhi pasar pesawat pribadi dan sewa. “Dalam kondisi seperti itu secara politis tak menguntungkan jika terlihat menggunakan pesawat sewaan, apalagi pribadi,” kata dia.

Sejumlah sumber menyebut, sejauh ini ada cara untuk mengantisipasi pemantauan yaitu para orang kaya itu naik pesawat umum ke negara tetangga seperti Uni Emirat Arab atau Bahrain, lalu baru dari sana mereka melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat pribadi atau sewa. (IMN/Solopos.com)

Share :
You might also like