Ujian Industri Penerbangan Nasional di Awal 2019

Oleh : Marco Umbas

Pengamat Penerbangan

Strategi market driving Garuda Group dengan akuisisi Sriwijaya Air dan kebijakan kenaikan tarif penerbangan, telah menelurkan persepsi bahwa kemungkinan terdapat kesepakatan dalam kebijakan kenaikan tarif  penerbangan. Mengingat saat  ini hanya Garuda dan Lion Group yang bermain di industri penerbangan nasional.

Tingginya tarif penerbangan telah direspon konsumen dengan petisi mahalnya tarif penerbangan sehingga INACA, Asosiasi Penerbangan Domestic mengadakan kesepakatan untuk menurunkan tarif penerbangan  secara bersama-sama.

Berdasarkan fakta diatas, KPPU seharusnya meneliti lebih jauh, apakah terdapat kesepakatan dalam hal kenaikan tarif penerbangan yang telah merugikan kepentingan konsumen?

Dari perspektif yang lain bahwa ketidakpahaman operator penerbangan akan preferensi passenger needs and wants merupakan biang keladi kisruhnya persepsi mahalnya tarif penerbangan nasional. Apalagi dalam  era digital dimana pembentukan opini publik dengan mudah dicapai  dalam waktu singkat.

Kelemahan kedua adalah kekurangpekaan operator penerbangan ditahun politik dimana mereka semestinya bisa menahan diri untuk tidak menerapkan kebijakan yang dapat memunculkan kegaduhan di industri penerbangan nasional.

Meskipun kebijakan tersebut masih di dalam aturan koridor batas atas, namun apabila diluncurkan tidak pada momen yang tepat, akan mendapat respon yang kurang diharapkan. Misalnya apabila kebijakan tersebut dilansir setelah 17 April 2019, maka kemungkinan respon regulator dan masyarakat akan berbeda!

Kenyataannya implementasi kebijakan tersebut telah memukul balik industri penerbangan nasional. Pasalnya, kebijakan menaikan tarif dimasa depan akan memperoleh tantangan besar dari konsumen. Apalagi sudah terdapat preseden dengan petisi yang diluncurkan pada sosial media, yang berhasil menurunkan harga tiket penerbangan.

Terbukti Chairman INACA telah meminta proteksi industri penerbangan nasional kepada pemerintah berupa pembatasan operator asing beroperasi di Indonesia, penurunan harga fuel, airport tax dan air navigasi. (Neraca, Sabtu, 19 Januari 2019)

Bahkan kalau ternyata memang terbukti ada indikasi kesepakatan untuk menaikan tarif yang merugikan kepentingan konsumen, tentunya KPPU akan memberikan sanksi kepada operator penerbangan sesuai dengan perundangan yang ada.

Untuk itu Capital Market kembali menghukum industri penerbangan dengan penurunan saham Garuda dan Indonesia Airasia sebesar 10% akibat kisruh mahalnya harga tiket dan prospek suram industri penerbangan nasional dimasa depan.

Pertanyaannya strategi apa yang akan diambil sebagai tindakan preventive agar spiral down tidak berkelanjutan?

Di dalam praktek bisnis penerbangan bahwa harga ditentukan oleh supply dan demand pada setiap rute. Pada rute dimana supply lebih besar dari demand maka harga turun. Sebaliknya harga naik apabila demand lebih besar dari supply.

Lebih jauh bahwa masing-masing rute mempunyai pertumbuhan penumpang sendiri-sendiri, tergantung pada pertumbuhan ekonomi masing-masing propinsi.

Seperti pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara sebesar 6,01 % di tahun 2018, salah satu yang tertinggi di Indonesia. Dengan prediksi pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih baik ditahun 2019 maka diantisipasi pertumbuhan traffic dari/ke Manado akan lebih dari 12%.

Untuk itu perlu diselidiki lebih lanjut arah pertumbuhan tersebut baik dari segi pertumbuhan penumpang  pada masing tujuan penumpang ke Manado dan preferensi penumpang dari aspek hari/jam operasi dll.

Berdasarkan observasi, sampai saat ini operator penerbangan menentukan pembukaan rute hanya berdasarkan data traffic yang sangat terbatas bahkan seringkali insting saja.

Pada pembukaan rute baru apabila load factor rendah maka  fekuensi  akan dikurangi sampai pada titik break even dengan frekuensi tertentu. Lebih lanjut apabila titik tersebut tidak dicapai maka rute akan ditutup.

Di pihak lain operator penerbangan terus menambah jumlah pesawat khususnya narrow body aircraft yang perlu dioperasikan karena harus membayar biaya sewa pesawat di dalam mata uang asing.

Meskipun bisnis model LCC mempunyai cara unik dalam melakukan pembukaan rute penerbangan baru, seperti rute Jakarta-Kota Kinabalu oleh Airasia Group yang kemudian ditutup ditahun 2016 karena terus merugi akibat jumlah penumpang tidak memadai.

Pembukaan penerbangan Kuala Lumpur-Siborong borong untuk penetrasi pasar wisata, dimana kelanjutan penerbangan ini akan tergantung promosi pariwisata di mancanegara.

Pengadaan riset yang andal untuk menentukan jumlah frekuensi dan rute penerbangan, baik existing dan new routes, serta menentukan preferensi penumpang masing-masing daerah yang unik. Niscaya merupakan  solusi agar terdapat keseimbangan antar supply dan demand pada setiap rute penerbangan dan dapat memuaskan kebutuhan pelanggan serta memenangkan persaingan sehingga pada gilirannya akan memberikan keuntungan operator penerbangan dimasa yang akan datang.

In the Midst of Chaos, there is Opportunity, Sun Tzu

Share :
You might also like