INACA Sebut Industri Penerbangan Dalam Negeri Sudah Merah

Jakarta, airmagz.com – Ketua Indonesian National Air Carriers Association (INACA), I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, mengakui bahwa maskapai dalam negeri sedang lesu untuk berkompetisi. Lebih dari itu, bahkan ia berani menyebut bahwa industri penerbangan dalam negeri kini tengah memasuki masa-masa sulit, bahkan merah.

“Kita tau, dalam 10 tahun ini 24 maskapai sudah tutup. Itu artinya sudah bads time. Industrinya itu sudah merah. Nah, kami minta perhatian ini kepada pemerintah dan regulator untuk lebih memperhatikan kita,” kata pria yang juga akrab disapa Ari Askhara kepada Airmagz, beberapa waktu lalu.

Selanjutnya, Ari yang juga Dirut Garuda Indonesia tersebut mengungkapkan, bahwa pihaknya juga telah meminta kebijakan dari pemerintah untuk menjaga keberlangsungan maskapai yang ada. Termasuk dalam hal pembatasan maskapai asing. Ia tak menyangkal adanya permintaan tersebut dari organisasi yang diketuainya.

“Ya, jadi, yang seperti disampaikan Alvin Lie itu bener, jadi itu yang kita minta pemerintah untuk memproteksi. Bukan memproteksi, kita minta untuk membatasi. Kalu memproteksi itu kan tidak bisa masuk sama sekali. Tolong jangan lagi diberikan kepada mereka untuk langsung tetapi langsungnya hanya ke Singapura dan Kuala Lumpur jadi, itu membuat mereka menjadi besar Hubnya,” ujarnya.

Setali tiga uang, di tempat terpisah, anak perusahaan Garuda Indonesia, Citilink, melalui Direktur Niaga Benny Rustanto, juga mengungkapkan bagaimana industri penerbangan dalam negeri tengah terseok-seok. Meskipun dengan malu-malu, Benny mengakui bahwa penerapan bagasi berbayar yang dilakukan Citilink bagian dari strategi agar bisa tetap survive.

“Seperti saya katakan maskapai industrinya selalu complicated, sangat berat komponen biaya yang tak bisa kita kompromikan. kita juga harus bisa sedikit berinovasi, ujung-ujungnya bisa survive tetap layani penumpang kita. Kita tak mau Citilink berhenti atau stop operation selamanya sehingga kita lakukan bagasi tercatat dengan biaya,” ujarnya.

Melihat indikasi keterseok-seokan maskapai dalam negeri, pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio ikut buka suara. Menurutnya, maskapai dalam negeri tak hanya mendapat rapor merah, melainkan tinggal menunggu waktu untuk bangkrut.

“Nah sekarang, ketika mereka semua sudah merah, balanced-nya sudah merah semua nih, bangkrut aja tinggal bangkrut. Sudah merah, tentu yang bisa dioptimalkan ya dioptimalkan karena ada batas atas batas bawah. Nah, optimalnya apa, ya bayar. Karena aturannya boleh kok, no frills. Berapa? Ya terserah, bisnis to bisnis,” katanya.

Meskipun masuk dalam mazhab yang sepakat bahwa maskapai bebas mengatur ‘kehidupannya’ dengan berbagai cara, ia tetap mewanti-wanti maskapai agar matang dalam membuat perhitungan. “Kalau kemahalan kan gada yang naik, rugi juga. Jadi dia (maskapai) harus cari jalan keluar. Namanya juga bisnis to bisnis,” pungkasnya. (AH)

Share :
You might also like