Anggota Omdusman, Alvin Lie Bela Maskapai Soal Tiket Mahal

Jakarta, airmagz.com – Mahalnya moda transporatasi udara belakangan menjadi polemik berkepanjangan. Pantauan Airmagz, sejak awal tahun hingga sekarang, banyak masyarakat, khususnya di media sosial, ramai-ramai memprotes harga tiket  yang melambung tinggi.

Akan tetapi, jumlah pihak yang memprotes mahalnya harga tiket pesawat juga diikuti dengan jumlah pihak yang membela maskapai, mulai dari praktisi, analis, hingga pengamat penerbangan; salah satunya Alvin Lie. Menurutnya, kenaikan harga tiket adalah hal yang wajar bila dilihat dari berbagai sudut.

“Tarif batas atas dan batas bawah sudah tiga tahun lamanya tidak di-review pemerintah. Akibatnya, airlines ini berdarah-darah semua,” jelas Alvin yang juga anggota Omdusman Republik Indonesia kepada Airmagz, beberapa waktu lalu.

Ketika tarif batas atas dan tarif batas bawah ditetapkan pada 2016, lanjut Alvin, kondisinya tentu tak sama dengan kondisi sekarang ini. “Pada saat itu, harga avtur berapa, nilai tukar berapa, dan sekarang harga avtur berapa, nilai tukar dollar berapa, ini perlu direvisi oleh pemerintah,” tegasnya.

Selanjutnya, ia juga mengingatkan kepada pemerintah, bila kebijakan tarif batas atas dan tarif batas bawah tak direvisi, maka, hal tersebut akan berdampak pada kemampuan keuangan perusahaan penerbangan untuk melakukan operasinya.

Baca jugaINACA Sebut Industri Penerbangan Dalam Negeri Sudah Merah

Baca juga: INACA Minta Status Bandara Internasional Dibatasi

Kekhawatiran Alvin pun diamini oleh Ketua Indonesian National Air Carriers Association (INACA), I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra. Menurut pria yang juga akrab disapa Ari Askhara itu, saat ini maskapai dalam negeri sedang lesu untuk berkompetisi. Lebih dari itu, bahkan ia berani menyebut bahwa industri penerbangan dalam negeri kini tengah memasuki masa-masa sulit, bahkan merah.

“Kita tau, dalam 10 tahun ini 24 maskapai sudah tutup. Itu artinya sudah bads time. Industrinya itu sudah merah. Nah, kami minta perhatian ini kepada pemerintah dan regulator untuk lebih memperhatikan kita,” ungkapnya.

Senada dengan Ari, pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio, juga menilai demikian. Mantan wakil ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) itu pun kemudian mengambil contoh salah satu maskapai yang tengah dalam kondisi merah.

“Ya uda merah semua, ga bisa sudah merah semua. Anda kira tahun kemarin Lion masih biru sekarang masih biru juga? Enggak laah. Sekarang LIon sudah merah,” katanya, saat ditanya kemampuan maskapai dalam negeri untuk bersaing dengan maskapai asing.

Nah sekarang, ketika mereka semua sudah merah, balanced-nya sudah merah semua nih, bangkrut aja tinggal bangkrut. Sudah merah, tentu yang bisa dioptimalkan ya dioptimalkan karena ada batas atas batas bawah. Nah, optimalnya apa, ya bayar. Karena aturannya boleh kok, no frills. Berapa? Ya terserah, business to business,” tutupnya. (AH)

Baca juga: Pengamat Kritisi Arah Kebijakan Maraknya Bandara Internasional

Baca juga: Pengamat Nilai Konsep Hub and Spoke Sudah Tak Relevan

Share :
You might also like