“Think Tank” Sektor Penerbangan Indonesia

Oleh : Teddy Hambrata Azmir
Dewan Perwakilan PPPI

Sektor penerbangan tidak bisa lagi dipungkiri sebagai core business dari sebuah Negara berkembang dengan bentuk kepulauan seperti Negara Kesatuan Republik Indonesia. Komponen strategis Negara yang dalam kurun waktu lima tahun terakhir telah banyak mendapatkan peningkatan pembangunan di dalamnya dengan terbangunnya infrastruktur seperti bandara-bandara hingga kepelosok negeri.

Akan tetapi, dirasa amat penting, untuk membangun sektor penerbangan dari sisi sumber daya manusia, dimana hingga tahun 2019 ini masih terdapat banyak lulusan sekolah penerbang jurusan pilot yang belum mendapatkan kesempatan bekerja yang layak sesuai dengan bidang kemampuan dan pengetahuan yang mereka miliki.

Terdapat tidak kurang dari 1200 pilot abinitio yang belum bekerja di Indonesia saat ini. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain, telah terjadi oversupply lulusan pilot disertai menurunnya kemampuan maskapai nasional Indonesia untuk menampung lulusan pilot tersebut untuk bekerja sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan.

Dalam kurun waktu tahun 2007 hingga 2012, pertumbuhan industri penerbangan cukup tinggi sehingga menyebabkan permintaan kebutuhan pilot ikut meningkat secara drastis, sehingga menyebabkan menjamurnya sekolah penerbangan di Indonesia. Kemudian, pada tahun 2013 telah terjadi perlambatan dari pertumbuhan industri penerbangan tersebut sehingga menurun pula kebutuhan suplai pilot di Indonesia, padahal, produksi sekolah pilot tetap berkembang hingga tahun 2016 yang lalu.

Perlunya peran pemerintah untuk meningkatkan iklim investasi dalam dunia industri penerbangan di Indonesia sehingga dunia penerbangan kembali menjadi primadona yang menarik bagi investor untuk mau menginvestasikan bisnisnya di dunia penerbangan nasional. Iklim investasi akan menjadi menarik jika:

  1. Pengurangan jumlah nilai pajak pesawat sebagai barang mewah. Sehingga harga pesawat dan suku cadang menjadi sesuai tanpa perlu pebisnis merasa dikejar-kejar oleh nilai investasi yang telah dikeluarkan.
  2. Pembangunan bandara-bandara hendaknya tidak hanya sekedar membangun terminal yang modern, namun juga disertai dengan pembangunan landasan pacu yang panjangnya lebih dari 1500 meter agar dapat didarati oleh pesawat ATR 72 atau sekelasnya. Dengan demikian, frekuensi penerbangan dapat bertambah hingga kepelosok negeri dan membuka lapangan pekerjaan baru bagi pilot Indonesia.
  3. Penambahan operating hours pada berbagai bandara di Indonesia. Kita ketahui, saat ini jam operasi kebanyakan bandara hanya terbatas hingga pukul 17.00 waktu lokal setempat. Jika jam operasional bandara dapat ditingkatkan, maka otomatis maskapai penerbangan nasional bisa menambah rute penerbangan, sehingga bertambah kebutuhan terhadap jumlah pilot berkualitas di Indonesia.

Sehingga, menciptakan lapangan pekerjaan bagi pilot Indonesia bukan hanya dengan menambah jumlah maskapai saja, namun dengan melengkapi infrastruktur dan iklim investasi yang sehat, tepat guna dan tepat sasaran adalah sebuah upaya yang dapat menembus keniscayaan bahwa pilot abinitio Indonesia akan segera mendapatkan kesempatan bekerja yang layak dikemudian hari.

Share :
You might also like