Pengamat : Miliki Banyak Bandara Internasional Indonesia Rugi

Jakarta, airmagz.com – Setelah gagal mencapai target 17 juta wisatawan mancanegara (Wisman) pada 2018, Kementerian Pariwisata (Kemenpar)  mengejar target berikutnya di 2019, yakni mendatangkan 20 juta Wisman. Oleh karenanya, Kemenpar menganggap butuh lebih banyak bandara internasional untuk memudahkan turis masuk ke Indonesia. Namun, hal tersebut justru mendapat kritik keras dari Agus Pambagio, Pengamat Kebijakan Publik.

“Kenapa Menpar mendorong supaya banyak bandara internasional? Itu nggak benar, karena kalau bandara internasional dibuka banyak, nanti hub-nya tidak di Indonesia tapi di Changi Singapura atau di Kuala Lumpur dan Bangkok. Jadi, orang dari mana-mana sampai sana dia ganti pesawat LCC-nya negara itu, bisa ke Solo, ke Jogja, Belitung, maskapai Indonesia dapat apa?” kata Agus kepada Airmagz, beberapa waktu lalu.

Harusnya, lanjut mantan Wakil Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tersebut, maskapai asing boleh saja masuk ke Indonesia, namun melalui lima bandara internasional yang ditunjuk pemerintah. Selebihnya, penumpang bisa menggunakan maskapai domestik untuk ke berbagai penjuru negeri ini.

“Harusnya, maskapai asing bebas saja masuk ke Indonesia tapi lewat internasional airport-nya yang cuma lima, nah dari situ pakai domestik. Ya kalau tidak begitu jelas mati pesawat domestiknya. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) juga nggak betul, jor-joran kasih izin dan membuka banyak banget bandara internasional,” tambahnya.

Agus berharap pemerintah mencabut status bandara internasional bagi bandara yang tidak semestinya dan mengembalikan konsep bandara yang sebelumnya sudah rapi tertata.  Yakni konsep hub and spoke, dimana terdapat bandara pengumpan, bandara pengumpul, dan bandara hub.

Tak hanya itu, ia juga meyakinkan tidak perlu takut terkait kekhawatiran akan efek negarif dari dunia internasional, yakni terhadap kebijakan pencabutan kembali status bandara tersebut.

“Tutup ya tutup aja, haknya ada di kita kok. Bandara ini sudah tidak ada penerbangan internasional. Sudah selesai. Itu kan biayanya mahal. Kita hanya memperkaya Singapura. Memperkaya Malaysia. Memperkaya Thailand dan lainnya,” pungkasnya. (AH)

Share :
You might also like