Keranjingan Spot-Spot Outdoor

Selalu berusaha mandiri adalah kebiasaan hidup yang sejak kecil tertanam di dalam diri Triana Saputri. Perekonomian keluarga yang sederhana memaksa perempuan kelahiran Palembang, 2 Oktober 1989 ini harus akrab dengan keterbatasan. Setiap kali menginginkan sesuatu, Triana harus memulainya dengan menabung agar kemudian bisa mendapatkannya sendiri. Bahkan untuk kuliah pun, dulu ia tidak tega mengutarakan keinginan itu kepada orang tua.

Tamat SMA, Triana bekerja sebagai sales promotion girl di sebuah mall selama hampir dua tahun. Suatu hari, ia mendengar kabar melalui siaran radio tentang lowongan pramugari di maskapai Garuda Indonesia. Triana lalu mencoba peruntungan dengan mendaftarkan namanya sebagai pelamar.

“Hamdallah, Allah baik banget. Ngikutin proses penerimaannya satu demi satu, saya lolos dan diterima. Di antara ratusan pelamar, saya termasuk dari empat orang yang berangkat ke Jakarta. Rasanya wow banget. Sejak saat itu, Garuda Indonesia mengubah kehidupan saya dan keluarga,” ungkap Triana, mengenang.

Menjadi pramugari, bagi Triana, harus multitasking. Profesi ini menuntutnya harus bisa menjadi dokter dadakan ketika ada penumpang sakit. Ia pun harus mampu berperan sebagai ibu saat ada anak kecil atau balita yang rewel.

“Saya juga harus bisa menjadi polisi saat penerbangan malam untuk mengawasi gerak-gerik penumpang, termasuk ketika ada yang mabuk atau berbuat anarkis di pesawat,” tutur pemilik tinggi badan 169 cm dan berat 59 kg ini.

Saat libur, Triana acap membawa koper atau tas kerilnya ke daerah-daerah yang bisa dibilang susah dijangkau demi menimbulkan keseruan. Bak keranjingan spot-spot outdoor, Danau Gunung Tujuh di Kerinci, Danau Ranukumbolo di Semeru, Puncak Rinjani di Lombok, Menjangan di Bali, atau Wae Rebo di Flores adalah beberapa tempat dari rentetan destinasi yang sudah disambanginya.

“Yang paling epik sih waktu hiking ke Wae Rebo. Saya berdua teman naik motor selama enam jam dari Labuan Bajo, melewati sawah, hutan, dan gunung. Kena hujan, dan jalanan tanjakan di beberapa spot rusak parah. Sampai di desa terakhir, Desa Denge, sudah jam setengah enam sore. Jadi saya nanjak ke Wae Rebo saat sudah gelap. Nanjaknya sendiri kurang lebih tiga jam,” kata dara cantik yang ingin sekali melangsungkan pemotretan prewedding di Puncak Jayawijaya ini. (BD)

Triana Saputri  

(Pramugari Garuda Indonesia)

Share :