Industri Penerbangan Dalam Perspektif Ketahanan Nasional

Oleh : Marco Umbas

Pengamat Penerbangan

Kenyataannya selama beberapa tahun belakangan telah terjadi perang harga yang masif dalam industri penerbangan nasional sehingga telah membawa kerugian bahkan telah membangkrutkan beberapa operator penerbangan seperti Batavia, Mandala Air, Adam Air, Merpati dan Bauraq.

Karena itu diperlukan pendekatan baru, berupa kiat-kiat jitu yang memprioritaskan usaha peningkatan kesehatan operator penerbangan dan penciptaan industri penerbangan yang kondusif, dalam konteks ketahanan nasional.

Mengingat geografi Indonesia yang demikian luas maka peran operator penerbangan menjadi sangat vital untuk menjangkau provinsi-provinsi di Indonesia dalam waktu singkat dan pada gilirannya dapat mempererat persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Kegaduhan yang terjadi pada industi penerbangan kali ini, seperti strategi market driving Garuda group dengan akuisisi Sriwijaya Air dan peningkatan harga jual serta ‘perang’ antara AirAsia group dan Online Travel Agent, seyogianya dilihat didalam perspektif diatas.

Seperti yang dilakukan pemerintah sebelum tahun 90an, dengan memberikan subsidi khusus untuk penerbangan perintis kepada Merpati agar membuka aksesibilitas provinsi atau kabupaten terpencil.

Untuk itu pemerintah seyogianya dapat mengambil posisi yang lebih sentral didalam usaha meningkatkan ketahanan nasional secara menyeluruh. Meskipun diyakini akan ada keberatan dari beberapa pihak khususnya operator penerbangan yang dimiliki swasta, dimana hanya berorientasi kepada profitabilitas saja.

Untuk itu diperlukan rumusan baru agar operator penerbangan tidak saja menerbangi rute-rute dengan high density dan high yield dan menguntungkan tetapi juga ditugaskan untuk menerbangi rute-rute low density dan low yield dengan jumlah frekwensi tertentu.

Untuk  operator penerbangan yang melayani rute ‘kering’ maka akan diberikan hak terbang dirute-rute yang menguntungkan, kalau perlu diberikan insentif tambahan seperti discount airport charges dan air navigation charge bahkan subsidi dari pemerintah.

Tentunya kebijakan tersebut seharusnya mengakomodasi aspek lain seperti AirAsia grup, Garuda group dan Lion Group dapat diberikan kompensasi tertentu karena mendatangkan devisa dengan memfasilitasi kedatangan turis ke Indonesia.

Meskipun sudah ada perbaikan infrastruktur seperti jalan tol dan kereta api khususnya di pulau Jawa, ternyata penumpang belum berpindah dari transportasi udara ke transportasi substitusi yang lain seperti bus/mobil dan kereta api, meskipun telah terjadi peningkatan harga tiket transportasi udara. (Sumber BPS Januari 2019).

Kesimpulannya bahwa transportasi udara masih menjadi moda andalan apalagi transportasi antar pulau dimana angkutan laut belum dapat diandalkan.

Lebih jauh harga avtur yang relative tinggi dan penguatan kurs dolar telah menjadi kendala operator penerbangan untuk kembali ke ‘zona hijau’

Memperhatikan kompleksitas diatas, seyogianya pemerintah dapat bergerak cepat untuk membuat peraturan-peraturan yang dapat menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif. Agar operator penerbangan domestik kembali berkonsentrasi untuk menekuni bisnis penerbangan dimana safety dan security menjadi prioritas utama.

Kepercayaan capital market telah menerbangkan saham Garuda group menuju level 575 pada 15 Maret, merupakan ’keajaiban’ mengingat pada awal desember 2018 masih berada pada level 200 atau telah terjadi peningkatan hampir 300% dari level sebelumnya. Artinya capital market mendukung langkah korporasi Garuda group untuk menaikan harga dan akuisisi Sriwijaya air, sehingga dapat membantu cash flow dan profitabilitas perusahaan dalam jangka pendek dan menengah.

Ternyata kebijakan peningkatan harga telah didukung oleh Lion group sebagai market leader dipasar domestik. Akibat kebijakan tersebut telah terjadi penurunan penumpang sebesar 13% pada Januari 2019, namun diharapkan akan tercapai keseimbangan supply dan demand baru dalam waktu dekat.

Sebagai konsekuensi aksi korporasi Garuda group, KPPU mencium adanya dugaan kartel operator penerbangan domestik.

Dipihak lain telah terjadi ‘perang’ antara AirAsia group dengan Traveloka dan beberapa Online Travel Agent (OTA) di Indonesia. Ketidaksepahaman ini seyogianya dapat dihindari apabila terdapat business term yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Lebih jauh capital market ternyata memberikan respons negatif akan langkah korporasi IAA terbukti harga saham tetap stagnan dilevel 226.

Faktanya bahwa kebijakan kerja sama dengan OTA dalam batas tertentu adalah sejalan dengan marwah LCC agar penumpang langsung membeli ke website LCC sekaligus penghematan biaya distribusi, seperti yang dilakukan oleh Southwest dan Ryan air.

Lingkungan industri penerbangan yang sehat akan memberikan jaminan bagi peningkatan kinerja operator penerbangan diera persaingan global,sehingga akan meningkatkan ketahanan nasional serta pada gilirannya akan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta.

You may never know what results come of your action, but if you do nothing there will be no result!     “Mahatma Gandhi”

Share :
You might also like