Menpar: Memimpin Orang Lama di Era Baru Serta Transformasi Digital

Jakarta, airmagz.com – Setiap perubahan, selalu menyisakan pro dan kontra. Jangan ragu akan perubahan. Kita mungkin kehilangan sesuatu yang baik, namun kita akan peroleh sesuatu yang lebih baik lagi. Karena itulah, selama empat tahun ini, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya tidak melakukan revolusi besar-besaran di Kemenpar.

“Saya memilih evolusi dipercepat, dalam bertransformasi menuju Digital Tourism 4.0,” kata Arief Yahya.

Orang nomor satu di Kemenpar itu menyebut proses transformasi birokrasi menuju ke professional itu ada konsep 3B. To Build, to Borrow dan to Buy. Semua punya plus minus serta dampak pro dan kontra.

Apa yang dimaksud To Build itu membangun dari nol, mendidik dari yang ada, menuju ke profesional. Risikonya, membutuhkan waktu panjang, kesabaran tinggi, dan lima tahun tidak cukup. Sementara
yang dimaksud dengan To Buy, adalah mengganti semua pejabat dengan orang baru, yang lebih fresh, dan lebih akomodatif dengan perubahan.

Ini yang disebut revolusi dan akan membawa kontraksi yang besar di pegawai. Ini juga bukan pilihan Menpar Arief Yahya dalam bertransformasi, juga untuk melambungkan pariwisata Indonesia.

Mantan Direktur Utama PT Telkom ini memilih To Borrow, atau menggunakan shadow management. Meminta tenaga profesional yang ahli di bidangnya, punya reputasi, untuk mendampingi pegawainya dalam bertransformasi.

“Ini cara yang paling smooth, tidak gaduh, tidak menimbulkan kontraksi yang berlebihan, tetap bisa bekerja dengan sentuhan korporasi dan menuju profesional,” ungkapnya.

Apakah perubahan yang dilakukan di lingkungan Kemenpar itu tidak menyisakan “residu”? Jawabnya, pasti ada dan pasti terjadi. Bahkan dalam menyongsong era digital pun, tetap ada sekitar 30 persen yang belum juga beranjak, belum move on. Sementara customers atau travelers sudah 70 persen go digital.

“Jadi memang yang masih ada 30 persen yang konvensional dan lebih nyaman dengan cara orang lama,” tutur Menpar.

Roadmap menuju Go Digital yang diusung Kemenpar, bukan terjadi kemarin, minggu ini atau tahun ini. Tetapi sudah diawali sejak 2015 dan diperkuat dalam Rakornas Go Digital Be The Best yang berlangsung pada September 2016.

Maka kalau muncul kritik belakangan ini, sebenarnya juga sudah tidak aktual lagi. Bisa juga, karena imbas “musim politik” yang sedang nge-hits belakangan ini.

Kompetisi Global

Presiden Joko Widodo juga selalu menyampaikan tantangan ke depan, untuk memenangkan persaingan di level dunia, harus lebih cepat (speed). Kecepatan menjadi kunci. Yang cepat akan mengalahkan yang lambat, bukan yang kecil mengalahkan yang besar.

Selanjutnya, diperlukan soliditas, dari atas sampai ke bawah, harus punya tone yang sama. Inline dengan semacam “corporate culture” yang sudah dibangun Arief Yahya di lingkungan Kemenpar dengan 3S, Solid, Speed, dan Smart.

Budaya kerja itu selanjutnya diimplementasikan oleh Menpar dengan istilah: WinWay. Bisa diterjemahkan sebagai Wonderful Indonesia Way atau The Way to Win!

“Budaya kerja untuk memenangkan persaingan global. Maka seluruh unsur pariwisata dikelola dengan spirit WinWay,” ungkap pria yang lahir di Banyuwangi, Jawa Timur ini.

Cara Smart yang dimaksud Menpar itu, seperti apa? Singkatnya adalah Go Digital. Lantas muncul magic words atau tiga kalimat yang selalu dipopularkan pada tiap momen sejak 2015. Yakni, The more digital, the more personal; The more digital the more global; The more digital the more professional.

Implementasinya di dalam seluruh aktivitas Kemenpar, menuju ke Digital Tourism 4.0 dijadikan tema besar Rakornas I Tahun 2019. “Transforming Tourism Human Resources, Winning The Global Competition in 4.0 Era.”

“Tourism 4.0. lahir seiring dengan mulai tersedianya big data perilaku travelers yang mampu dikumpulkan via apps dan sensor yang kemudian diolah dan menciptakan seamless dan personalized travelling experience,” jelas Arief Yahya.

Seamless dan personalized experience itu, lanjut Menpar, bisa diwujudkan karena adanya peran teknologi Revolusi Industri Keempat (4.0). Yaitu: artificial intelligence, internet of things (IoT), big data analytics, robotics, augmented reality, cloud computing, blockchain, dan sebagainya.

“Inilah berbagai teknologi yang kini sering disebut sebagai Teknologi 4.0. Kita semua tahu, target besar Presiden Jokowi adalah 20 juta wisman tahun 2019. Itu artinya double, dari start awal 9,3 juta di 2014. Dan untuk mendapatkan hasil yang luar biasa, hanya bisa ditempuh dengan cara yang tidak biasa! Cara yang tidak biasa itu adalah Go Digital,” ungkap Arief Yahya.

Apakah “Go Digital” yang selama empat tahun disosialisasikan Menpar ini 100 persen diterima publik? Minimal di lingkungan Kemenpar sendiri? Tentu, jawabannya, tidak semua. Masih ada 30 persen yang masih menggunakan cara berpikir lama, konvensional, meskipun customers-nya, atau travelersnya sudah menuju ke digital.

Karena itu, tidak heran, jika masih ada yang menggunakan pisau analisa “orang lama” untuk menjawab tantangan kekinian dan masa depan yang semakin milenial, yang sudah digital, mobile dan interaktif.
Lalu apa yang akan dilakukan untuk menyamakan frekuensi cara berpikir “baru” itu?

“Ya, harus sabar, terus mendidik, dan menularkan pemahaman kepada SDM kita, yang sesuai dengan arah pergerakan customersnya. Era digital, creative industry atau cultural industry ini berjalan sangat cepat. Kita berpacu melawan kreativitas dan era milenial yang makin cepat,” pungkasnya.

Share :
You might also like