Menjadi PR Butuh Kepiawaian Membangun Relationship

Muda, pintar dan tampan adalah modal awal bagi seorang Saka Rimara untuk menjadi seorang Marketing Eksekutif di Wilmar Consultasy Service yang merupakan anak perusahaan dari Wilmar International yang bergerak di bidang pump oil agrobisnis.

Berangkat dari seorang Marketing Komunikasi di salah satu TV swasta pada tahun 2006, pria lulusan Universitas Satya Negara Indonesia ini memang mempunyai cita – cita menjadi seorang Public Relation (PR). Apalagi, menurutnya, posisi PR pada saat sekarang bisa berkembang besar.

Pada jaman dulu, bisa dibilang pekerjaan seorang PR lebih sering disibukkan untuk urusan internal. Tapi seiring bejalannya waktu ruang lingkup PR berkembang semakin luas. Saking ‘eksekutifnya’, seorang yang menyandang Marketing Eksekutif diwajibkan untuk bisa meng-handle semua pekerjaan di suatu perusahaan baik eksternal  maupun internal.

“Marketing eksekutif bukan seorang marketing yang kerjanya jualan seperti sales. Tapi ia ditugaskan menyusun strategi, membuat planning, membangun brand image sekaligus menyiapkan ‘alat perang’ untuk perusahaan. Jadi Marketing Eksekutif itu tugasnya untuk eksternal dan internal, “ ujar Saka kepada Aimagz beberapa waktu lalu.

Pria yang pada awal Agustus lalu mendapatkan penghargaan mengenai IT Solution Agribusiness di Yogyakarta ini menyukai tantangan di setiap karirnya. Saka berprinsip jika bekerja di suatu perusahaan maka  harus dikenal oleh khalayak luas.

“Tantangannya disaat kita membuat strategi apakah strategi kita ini bisa berjalan dengan baik atau tidak untuk perusahaan. Juga mesti dilihat apakah strategi itu menguntungkan bagi perusahaan atau malah justru sebaliknya,” ungkap bapak satu anak ini.

Saka berpesan bagi yang ingin menggeluti bidang Public Relation, haruslah mempunyai modal komunikasi yang baik. Karena dalam dunia PR dibutuhkan kepiawaian membangun relationship, baik dengan partner maupun kompetitor. (BP)

Share :