Dongkrak Kunjungan Wisman, Ngurah Rai Kembangkan RETW

Jakarta, airmagz.com – Angkasa Pura I selaku pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung mewacanakan pengembangan rapid exit taxiway (RETW), dengan tujuan mendongkrak kunjungan wisatawan manca negara.  Diharapkan, pengembangan RETW ini bisa mempercepat pergerakan pesawat di landasan pacu. Selama ini Bandara Ngurah Rai hanya memberlakukan 2 RETW dalam operasional sehari-hari.

Communication and Legal Section Head Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Arie Ahsanurrohim, mengungkapkan upaya peningkatan kunjungan wisatawan ke Bali, dinilai tidak cukup dilakukan oleh pihak Angkasa Pura I melalui peningkatan kapasitas bandar udara itu sendiri. Dukungan dari berbagai pihak mulai dari mitra kerja, stake holder, dan pemerintah daerah sangat diperlukan dalam pengembangan fasilitas yang ada di bandara. Pihaknya tidak menampik, terkait pengembangan bandara ke depan, perluasan landasan ke arah Barat alias ke arah laut sangatlah dimungkinkan untuk dilakukan. Namun untuk merealisasikan itu waktunya masih relatif panjang. Saat ini pihaknya lebih berkonsentrasi dalam upaya merampungkan wacana pengembangan rapid exit taxiway (RETW) yang kini sudah mulai proses administrasi dan diperkirakan selesai akhir tahun ini.

“Kesiapan fasilitas di bandara akan terus kami tingkatkan, salah satunya meningkatkan sisi kapasitas landasan dengan pembangunan rapid exit taxiway,” kata Arie, Minggu (7/4) sore.

Rapid exit taxiway adalah taxiway yang dihubungkan dengan landas pacu, di mana bertujuan agar pesawat yang mendarat dapat segera ke luar dari landas pacu. Tingkat kecepatan pesawat ke luar dari landas pacu ini juga lebih tinggi ketimbang taxiway lainnya.

Diakuinya saat ini kapasitas landasan hanya mampu melayani 30 pergerakan per jam. Dengan membangun rapid exit taxiway, maka kapasitas landasan dimungkinkan dinaikkan mencapai 35 pergerakan per jam. Secara otomatis hal itu akan menambah penerbangan ke Bandara Ngurah Rai. Masih menurut Arie, dengan adanya RETW tersebut, maka proses lepas landas pesawat akan lebih cepat. Hal ini dikarenakan ketika pesawat lepas landas, maka pesawat bisa langsung menepi dari runway penerbangan.

“Rapid exit taxiway ini akan mempercepat proses pesawat ke luar dari runway. Kalau semakin cepat keluar runway, maka akan semakin bagus bagi pesawat yang lain untuk cepat lepas landas. Ini yang kita harapkan segera terealisasi. Kalau untuk tahapannya masih digodok karena ada beberapa penyesuaian, termasuk jumlahnya nanti,” imbuhnya.

Arie menjelaskan, saat ini Bandara Ngurah Rai hanya memiliki 2 RETW, yang dulunya dibuat sebelum beroperasinya pesawat berukuran besar. Namun seiring dengan pengembangan apron dan rencana penambahan landasan sepanjang 400 meter ke arah Barat, maka semakin diharapkan adanya rapid exit taxiway yang akan dibuat di ujung landasan. Ketika ini terealiasasi, pihak AP I akan menghitung ulang terkait kapasitas penerbangan per jam.

“Dari kondisi saat ini 30 penerbangan per jam. Di mana penerbangan reguler jumlahnya 29 dan ireguler 1 penerbangan. Ya, harapannya agar menjadi 35 penerbangan per jam. Ini yang kita harapkan dengan adanya tambahan RETW ini, dengan demikian, bisa mendongkrak kunjungan wisatawan,” harapnya. (IMN/Nusabali.com)

Share :
You might also like