Warung Enthok Bu Siti Serasa Makan di Rumah Nenek

Jakarta, airmagz.com – Tidak jauh dari pusat Kota Wonosobo yakni di Jalan Raya Kalikajar depan  SMK 1 Kalikajar, terdapat satu tempat makan yang selalu disesaki pengunjung. Warung Enthok Bu Siti namanya, memang hanya satu menu yang ditawarkan yaitu opor Enthok atau Itik. Rasa yang lezat dan harga yang murah membuat warung makan ini laris manis setiap harinya.

Pasti hampir semua orang kangen makan di rumah nenek, terlebih kita dapat makan dengan puas jika berkunjung ke rumah nenek. Di sinilah kenangan menyantap makan serasa di rumah nenek kembali menyeruak. Siti Mohsanatun pemilik warung makan tersebut, sudah 14 tahun Siti bersama adik laki-lakinya Yusuf Suroso berjualan opor enthok.

Sejak awal membuka usaha itu, ia mengonsep warung miliknya seperti rumah nenek. Di mana memasak opor masih menggunakan kompor tungku dan kayu bakar. Tidak hanya itu, pengunjung juga diperbolehkan mengambil nasi, lalapan, dan sambal sepuasnya. Mungkin, warung Bu Siti menjadi satu-satunya yang mempertahankan konsep rumah nenek.

“Kalau makan di rumah nenek kan kita bisa makan sepuasnya, nah di sini pun seperti itu. Konsep tradisional ini masih kita pertahankan sampai sekarang, aroma dari kayu yang dibakar menambah kelezatan dari masakan,” ujar Siti.

Saat mencicipi opor Enthok yang lezat plus cita rasa yang kaya akan rempah, juga dagingnya sangat empuk. Apalagi sambal hijaunya dengan rasa pedas dan asam, segarnya bisa membuat mata kita melek. Selepas menyantap opor Enthok, rebusan singkong hangat pun disajikan sebagai makanan penutup.

Ditambah teh kampung hangat yang harum melengkapi rasa nostalgia seperti di rumah nenek. Lengkap sudah kenikmatan yang hakiki selepas menyantap hidangan itu semua. Tanpa basa-basi membocorkan resep rahasianya, apa yang membuat opor enthok buatannya bisa senikmat itu.

“Bumbunya sederhana saja mas, cuma bumbu kunyit, bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan lada itu untuk resep opornya. Sedangkan, sambal hijaunya hanya cabe hijau dan garam. Sebenarnya yang membuat enak itu ialah mengaduk opor dan ngulek sambalnya itu harus pakai cinta,” celotehnya.

Terkait bisnis kulinernya, Yusuf Suroso menjelaskan, di awal pembukaannya pada 14 tahun yang lalu, untuk satu porsi opor enthok dihargai Rp7500 dan kini harga telah mencapai Rp20-25 ribu. Harga segitupun masih tergolong murah, jika dibanding dengan warung makan lainnya yang serupa.

Omzet keuntungan dalam sehari tidak tanggung-tanggung, di mana Siti dan Yusuf bisa mendapatkan jutaan rupiah. Dari hasil pendapatannya Siti bisa menyekolahkan anaknya di universitas yang ada di Jakarta, dan dapat membayar enam orang yang diperbantukan sebagai pelayan rumah makannya.

“Sehari kita bisa menghabiskan 40 ekor Enthok atau lebih kalau lagi ramai-ramainya, yang makan di sini bukan hanya masyarakat sekitar tapi juga orang luar daerah, pejabat daerah bahkan artis Ibu Kota,” ungkap Yusuf.

Di samping itu, Kapala Bidang Promosi Dinas Pariwisata Wonosobo, Endang Lisdiyanti menyampaikan, memang di Wonosobo makanan khasnya diciptakan dari masyarakat sendiri. Selain Mie Ongklok, opor Enthok ini menambah keanekaragaman kuliner Wonosobo, dan berharap jika hidangan ini sudah menjamur bisa menjadi ikon kuliner Wonosobo, serta mendatangkan wisatawan yang penasaran ingin merasakan opor Enthok ini.

“Dinas Pariwisata Wonosobo selalu mendukung kreativitas masyarakat, adanya kuliner seperti ini juga mengenalkan Kabupaten Wonosobo ke dunia luar,” tutup Endang. (CNR)

Foto: Airmagz
Share :
You might also like