Jajan di Pasar Ting Njanti dan Kumandang, Serasa di Film Angling Dharma

Jakarta, airmagz.com – Siapa yang tahu serial film Angling Dharma, film ini mempunyai suasana latar perkampungan Jawa zaman dahulu. Di Wonosobo ternyata memiliki dua pasar wisata yang mengemas seperti di film Angling Dharma.

Foto : Airmagz

Pasar Ting Njanti namanya berada di dusun Giyanti, Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo. Pasar Ting Njanti bisa menjadi salah satu pilihan yang tepat. Ting atau yang biasa disebut lentera menjadi salah satu ciri khas pasar itu. Uniknya, Benggol digunakan sebagai alat tukar jika ingin jajan kuliner, tentu kuliner yanmg dijajakan adalah makanan tradisonal. Selain itu, pasar Ting Njanti juga menjual asesoris khas desa dan Wonosobo. Tidak sampai disitu, untuk menghibur pengunjung diadakan pentas seni seperti tarian dan sebagainya.

Foto : Airmagz

One Andang Wardoyo, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo menjelaskan, saat ini Wonosobo sedang mempromosikan desa wisata. Adanya pasar-pasar bertema zaman dahulu menambah destinasi wisata yang dimiliki Wonosobo. Tak tanggung-tanggung, tidak hanya wisatawan lokal saja yang datang tetapi juga wisatawan mancanegara.

“Pasar Ting Njanti bisa punya keistimewaan dan menonjol di banding pasar-pasar serupa. Sebab pasar ini menghadirkan suasana malam yang hangat dan juga bisa menikmati atraksi kesenian yang ada,”ujarnya.
Di tempat yang sama Koordinator Pasar Ting Njati, Ahnaf Kustanto menuturkan, setiap minggu destinasi ini terdapat kenaikan jumlah pengunjung yang signifikan. Itu karena promosi lewat media sosial dan mulut ke mulut sudah semakin meluas.

“Suasana malam minggu di sini menurut kami sangat cocok bagi rombongan keluarga maupun pemuda untuk bisa bersantai sambil menikmati jajanan khas Njanti. Terlebih suasana yang remang menambah sisi romantis kalangan anak muda yang berkunjung” imbuhnya.

Selain unik karena Ting atau lenteranya, pada jam-jam tertentu akan ada semacam “flash mob” tradisional yaitu membunyikan kentongan, piring, dan lainnya secara bersama dan serentak. Bahkan jika beruntung, kita bisa ikut menari bersama lengger yang juga merupakan salah satu atraksi disana. pasar ini buka pada Sabtu pukul 17.00 WIB dan Minggu dibuka sejak pukul 06.00 WIB.

Selain Pasar Ting Njanti, terlebih dahulu Wonosobo memiliki pasar serupa yaitu Pasar Kumandang. Lokasinya yang berada di tengah hutan membuat udara pasar terasa sejuk. Dengan semilir angin membuat para pembeli betah berlama-lama di pasar Kumandang. Pasar ini berada di Desa Bojasari, Kecematan Kertek. Nuansa tradisional di Pasar Kumandang semakin kental saat melihat semua penjual kompak mengenakan pakaian lurik, salah satu pakaian adat jawa. Belum lagi di sudut-sudut pasar terdapat beberapa permainan anak tempo dulu.

igit Budimartono, Pengelola Pasar Kumandang menyampaikan, dengan adanya pasar ini menambah ekonomi masyarakat sekitar. Pasar ini dilengkapi dengan fasilitas seperti lahan parkir yang luas, tempat ibadah, toilet, panggung pertunjukan dan bahkan cek kesehatan gratis. Namun sayang pasar ini hanya buka setiap hari minggu saja.

“Kalau transaksi di sini pakai kepingan bathok kelapa, satu bathok harganya dua ribu. Pengunjung bisa menukarkannya dahulu, apabila masih sisa boleh dicairkan kembali dalam bentuk rupiah dengan cara menukarkannya. Saya berharap Pemerintah Wonosobo bisa membantu promosikan pasa-pasar seperti Kumandang ini,”tuturnya.

Dua pasar ini telah men jadi destinasi wisata yang unik, apabila berkunjung ke sini kita akan merasakan seperti berada di film kolosal Angling Dharma dengaan latar zaman dahulunya. (CNR)

Share :
You might also like