Hilangnya Kata Kita

Oleh : Ki Pandan Alas

   Tidak ada lagi kata “KITA”.
Rasanya sekarang hanya ada AKU dan KAMU. Dikotomi yang hanya hitam dan putih. AKU selalu benar, dan KAMU pasti salah. Tidak ada kompromi. Tidak ada ruang untuk berbagi dan saling mengerti. Perseteruan telah menggelapkan hati dan nurani. Tidak ada lagi yang ikhlas, apalagi berbesar hati. Dikotomi yang semakin tegas. Dan yang lebih mengerikan lagi : semua teman KAMU, adalah musuh AKU!

Lalu dimana hilangnya KITA? Rasanya kata itu sudah tidak terpakai lagi, hilang esensinya! Nggak ada lagi KITA! Yang ada cuman GUE ame ELU. Tayangan di TV itu sangat jelas menggambarkan situasi ini. Tidak ada yang benar sama KAMU, yang benar cuma AKU!

Lalu arogansi timbul, muncul dan semakin membesarkan AKU. Kemudian sumpah serapah muncrat kemana-mana, karena hanya AKU-lah yang paling benar. Modaarrr Lu … !!!

Siaran televisi itu mempertontonkan sumpah serapah dan perseteruan yang mengerikan! Masing-masing yang bicara menyandang predikat orang pintar dan terhormat. Tetapi mereka berlomba menyampaikan kalimat-kalimat kasar, yang merendahkan dan menjatuhkan lawannya. Bahkan orang-orang terhormat dan pintar itu saking berebutan ngomong, seperti anak-anak kecil yang ingin dan mau menang sendiri.

Dan mereka yang menonton sadar atau tidak diam-diam juga belajar untuk mempraktekkannya. Dan kemudian perseteruan ini merambat kemana-mana. Bukan hanya di masyarakat, dalam keluarga juga ribut. Antar saudara berantem, saling beradu benar sendiri.

Ibu Pertiwi menitikkan airmata dan menangis, melihat anak-anaknya terus menerus berseteru. Ibu Pertiwi pun tidak berdaya.

Sekarang, masih bisakah AKU dan KAMU berbicara bersama, atas dasar kepentingan KITA? Masih bisakah masing-masing menyisihkan arogansi dan egoisme, untuk berbicara atas nama KITA? Demi bangsa Indonesia yang besar. Bangsa pejuang, yang telah terbukti mampu mencapai tujuan besarnya; dengan mengutamakan kebersamaan dan gotong-royong.

Bagaimana … ?

Share :