Maskapai Asing, Jangan Mau Enaknya Doang

Jakarta, airmagz.com – Rencana masuknya maskapai asing untuk ikut mengambil alih rute penerbangan domestik, akibat harga tiket pesawat yang tak kunjung murah. Hal ini menuai pro dan kontra dari sejumlah kalangan.

Bagi masyarakat yang kerap menggunakan transportasi udara, jika rencana tersebut direalisasikan agar terciptanya harga yang kompetitif dengan harapan jauh lebih murah dibanding saat ini. Tentu ini akan didukung oleh masyarakat, mungkin aksi ini berbeda dengan maskapai penguasa penerbangan domestik. Buktinya, hingga saat ini harga tiket pesawat masih terpampang mahal pada laman agen travel online.

Dari rencana tersebut, sejumlah maskapai asing siap berkompetisi membuka rute penebangan domestik. Hal ini ditanggapi oleh Direktur Arista Indoensia Aviation Centre (AIAC) Arista Atmadjati. Menurutnya, maskapai asing yang ingin masuk ke Indonesia untuk membuka rute penerbangan domestik, perlu memperhatikan persyaratan atau aturan yang berlaku.

Arista menjelaskan, keinginan maskapai asing untuk masuk ke Indonesia bukan tanpa alasan, melihat potensi pasar domestik dan perputaran uang di industri aviasi Indonesia ini jelas menarik minat maskapai asing, terlebih penumpang rute pesawat domestik selalu meningkat setiap tahunnya. Namun, sebelum masuk industri aviasi Indonesia harus menengok pengalaman-pengalaman yang dahulu, di mana maskapai asing yang membuka rute penerbangan domestik banyak yang gulung tikar.

“Maskapai asing harus berbadan hukum Indonesia, kemudian juga harus mengambil rute-rute perintis ke remote area. Jangan hanya maunya membuka ke rute-rute gendut saja, kalau begitu namanya mau enaknya doang,”ucapnya.

Lebih lanjut, Arista menceritakan, pada tahun 2000-an maskapai asing sudah masuk ke rute penerbangan domestik Indonesia, Cuma hal itu tak berjalan mulus. Seperti nasib buruk yang menimpa Mandala Tiger Air, pada Januari 2011 maskapai ini menghentikan kegiatan operasionalnya, lantaran terlilit utang.

Kemudian maskapai ini sempat selamat melalui suntikan modal dari Tiger Airways Singapore Pte Ltd., anak usaha Singapore Airlines Limited (SIA) dan PT Saratoga Investama, masing-masing sebesar 33 persen dan 51 persen saham dan kembali resmi mengudara. Sayangnya, maskapai itu hanya mampu mengudara selama tiga tahun. Seluruh operasionala ditutup pada 2014 dengan alasan serupa, menanggung beban operasional yang jauh lebih besar dibanding pendapatan perusahaan.

“Ini sebagai contoh pengalaman terdahulu, jadi masuknya maskapai tidak semudah yang diperkirakan. Pendapatan rupiah tapi pengeluaran dolar, jadi tambah berat mau banting harga pasti juga mikir-mikir. Iklim bisnis penerbangan di Indonesia memiliki tantangan tersendiri dan ini kurang kondusif untuk maskapai asing,” pungkasnya. (CNR)

Share :
You might also like