Dilema PLTU Ombilin Ditengah Lingkung Pemukiman

Sawahlunto, airmagz.com- Dilema pembangkit di tengah pemukiman, jadi tantangan baru bagi PT PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Ombilin. Produsen setrum bertenaga uap, dibawah manajemen PT PLN (Persero) Pembangkit Sumatera Barat Bagian Selatan ini tak pernah sepi dari isu pencemaran udara katagori limbah B3.

Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ombilin yang dibangun pada Juli 1993 di areal seluas 21 hektare untuk unit 1 dan 2 berdaya 2×100 MW dengan biaya sebesar USD 377,6 juta dan mulai difungsikan Mei 1997 ini merupakan proyek strategis nasional yang produksi listriknya disalurkan secara interkoneksi untuk memenuhi kebutuhan listrik di beberapa kota besar di Pulau Sumatera, termasuk Sumatera Barat.

Foto : Airmagz

Menyikapi isu dugaan pencemaran udara, airmagz.com, coba mengkonfirmasi GM pembangkit uap itu, namun sedang dinas luar, tapi kewenangannya terkait informasi diwakili Manager SDM dan Umum, Ahmadi, didampingi Supervisor Maintenance Zulfikar dan staf SDM Lismawati. Mereka bersedia memaparkan kondisi PLTU Ombilin yang sempat branding topic dengan berita pencemaran lingkungan beberapa hari lalu.

Ditemui dikantornya, di Desa Sijantang, Kecamatan Talawi, Senin (24/6). Ahmadi mengatakan, secara umum, semua opini dugaan pencemaran limbah abu yang berkembang ditengah masyarakat menjadi asupan sehari-hari yang harus disikapi dan evaluasi pihak PLTU Ombilin untuk menciptakan suasana sejuk melalui informasi yang berimbang.

Dia mengakui, sebuah pembangkit listrik bertenaga uap dengan bahan baku batubara, proses pembakarannya pasti mengeluarkan asap dan abu yang dikatagorikan sebagai limbah B3, tapi memiliki unsur kandungan B3 kimia berbeda dengan jenis lainnya yang lebih membahayakan kesehatan warga.

Dalam konteks persoalan abu pembakaran batubara PLTU Ombilin, Ahmadi menyebutkan ada dua sumber keberatan sekelompok orang untuk jadi perhatian pihak PLTU yakni, asap dan abu yang keluar dari cerobong asap, dan abu dari tempat penumpukan abu yang masih berada di komplek PLTU jida ditiup angin beterbangan hingga menerobos wilayah ring 1 dengan radius 50 hingga 100 meter dari pusat pembangkit.

Sebagaimana Pasal 25 ayat (1) PP no.41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara berbunyi, setiap orang atau penanggungjawab usaha dan/atau kegiatan yang menyebabkan terjadinya pencemaran udara dan/atau gangguan wajib melakukan upaya penanggulangan dan pemulihannya.

Hal itu telah dilakukan pihak PLTU Ombilin dengan berbagai kegiatan dan program seperti mengatasi debu pembakaran dengan cara akan melakukan general overhaul penggantian peralatan secara umum bagi yang mengalami kerusakan karena dimakan usia.

“Semua barang yang akan digunakan sebagai pengganti sudah tersedia dan siap untuk dipasang. namun untuk eksekusi harus mendapat persetujuan dari Pusat Pengaturan Pengendalian Beban Sumatera (P3B) yang berkantor di Pekanbaru, Riau. Insyaallah Agustus sudah mulai dikerjakan”. ungkap Ahmadi optimis, sebagai solusi menghadapi kicauan warga terhadap limbah abu pembakaran yang keluar dari cerobong asap.

Kemudian, lanjutnya, abu yang berada dipenumpukan jika ditiup angin beterbangan juga sudah ada jalan keluarnya, dimana PLTU Ombilin akan membangun sebuah jembatan permanen yang menghubungkan pusat pembangkit dengan lokasi pembuangan limbah abu yang dirancang menggunakan teknologi penghumusan tanah, agar kelak dapat digunakan sebagai lahan pertanian produkstif.

“Kami tak akan lewat jalan umum lagi seperti sekarang. Untuk anggarannya sudah tersedia dan mulai dibangun pada tahun depan, tergantung pembangunan jalan yang dilakukan pihak pemerintah selaku fasilitaor yang akan melibatkan para kontraktor pemasok batubara untuk membangun jalan itu” tuturnya.

Selain rencana tersebut, pihak PLTU Ombilin terus melakukan pemantauan dan perhatian terhadap masyarakat lingkungan sekitar pembangkit. ada 180 murid SD 19 Sijantang dan SDIT di ring 1 yang terpapar abu diberikan makanan tambahan berupa susu dan telur 2 kal sebulan.

Kemudian, sambung Ahmadi lagi, penyaluran bantuan progran Corporate Social Responsibility (CSR) berkesinambungan seperti bulan lalu dicairkan total bantuan sebesar Rp 533 juta.terdiri dari Rp 46 juta untuk program bantuan Tanggungjawb Sosial Lingkungan (TJSL) dan sisanya untuk bantuan sembako untuk para mustahiq, anak yatim, garim masjid, dan guru tahfizh.

Suipervisor maintenance PLTO Ombilin, Zulfikar, secara teknis menyebutkan limah abu pembakaran dari aspek lingkungan menjadi perhatian khusus pihak PLTU Ombilin, dimana pembangkit unit 1 dan 2 ini dilengkapi dengan beberapa sarana untuk mengurangi kemungkinan timbulnya pencemaran lingkungan sampai ambang batas yang diizinkan.

Sarana tersebut adalah electrostatic precepirator, yaitu alat penangkap debu batubara dengan effesiensi 99,95 persen, cerobong asap dengan ketinggian 120 meter untuk meratakan distribusi gas buang, lalu waste water treatment plant, merupakan unit peralatan untuk mengolah limbah cairan sebelum dibuang. Aior hasil olahannya pH 6,8-7,0 (air normal), selain itu juga ada peredam suara dan lainnya. Sedang kualitas batubara yang digunakan berkalori 6000-7000 kalori.

“Kami beritahukan, jika ada warga yang melihat asap hitam muncul dari cerobong asap, itu bukan proses pembakarannya yang tidak baik, melainkan itu adalah proses awal untuk melakukan pembakaran batubara menggunakan solar sehingga asap menjadi hitam. Untuk mengatasi semua masalah sudah ada jalan keluarnya dengan segera memperbaiki dan mengganti peralatan yang rusak dimakan usia”. katanya. (IY)

Share :
You might also like