Sidang ICOMOS di Azerbaijan Tentukan Nasib Tambang Ombilin

Sawahlunto, airmagz.com – Titik akhir perjuangan Pemerintah Indonesia  mengusulkan pengakuan situs peninggalan sejarah tambang batubara Ombilin (TBO) di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, sebagai world heritage oleh  UNESCOmemasuki babak akhir. Nasibnya ditentukan dalam sidang paripurna ICOMOS (International Council on Monuments and Sites ) yang digelar hari ini (5/6) di Baku, Azerbaijan.

Anton Wibisono, Kasi Pengelolaaan Sub Direktorat Warisan Budaya Dunia, Kemendikbud RI di wawancarai airmagz.com disela pameran cagar budaya di Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto,8 Kamis (4/7) mengatakan, salahsatu daya tarik tim UNESCO tentang penambangan tambang batubara Ombilin adalah, masih utuhnya rangkaian distribusi industri batubara mulai dari ekploitasi, pengiriman dan transportasi hingga pengapalan di pelabuhan Teluk Bayur tidak hilang dari sejarah. Warisan inilah yang tak dimiliki daerah  lain, hingga Sawahlunto masuk proses penentuan di sidang ICOMOS Azerbaijan Jumat ini.

Anton menyebutkan, jika Sawahlunto dalam persidangan diakui sebagai warisan dunia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan membantu berbagai persoalan jika ada kendala dalam pengelolaannya setelah tambang Ombilin dietatapkan sebagai situs warisan dunia, karena ini bukan masalah yang harus diselesaikan oleh Sawahlunto saja, atau kabupaten dan kota yang dilalui jalur transportasi kereta api mauopun Pemerintah Provinsi Sumbar saja, melainkan jadi perhatian pemerintah pusat dengan kementerian terkait lainnya.

“Kami mengingatkan bangunan-bangunan peninggalan bersejarah harus tetap ada dan terjaga, boleh saja ada renovasi tapi tidak dilakukan secara gamblang tanpa adanya koordinasi dengan pihak cagar budaya”.ungkapnya

Terpisah, Kepala BPCB Sumbar Nurmatias Zakaria mengatakan, jika mengacu pada UU No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, ada titik temu yang harus di diskusikan dengan masyarakat pemilik bangunan yang masih punya pemahaman terhadap UU No 5 tahun 1992 dimana semua bangunan harus dilestarikan. Padahal dalam UU No. 11 th 2010 ada revitalisasi atau adabtasi, dimana pemilik bangunan cagar budaya bisa melakukan sebuah pelestarian dengan memperlihatkan keseimbangan masa lalu dengan masa akan datang.

“Menurut hemat kami yang perlu disosialisasikan kemasyarakt adalah pelestarian cagar budaya itu jangan membuat pemilinya merasa tak bisa mengembangkan bangunan cagar budaya yang mereka miliki, Padahal dalam UU 11 tahun 2010 bangunan mereka bisa di lestarikan dengan adabtasi atau revitalisasi” tuturnya.

Menurutnya,situs warisan penambangan batubara Ombilin layak memperoleh pengakuan karena banyak menyimpan nilai sejarah yang patut diakui, karena pada zaman Hindia Belanda tambang batubara Ombilin merupakan pemasok utama kebutuhan energi batubara berbagai industri di Eropah yang mulai berproduksi di akhir abad ke 18  dan eksploitsinya baru dihentikan pada tahun  2004 di abad ke 20 ini.

Batubara Ombilin memiliki kualitas terbaik didunia, dengan kalori diatas 6500 hingga 700 kcl menjadikan Sawahlunto jadi incaran berbagai industri berbahan bakar energi alternatif batubara. Hal ini tentu didukung sistim distribusi dan transportasi menggunakan kereta api mulai dari Sawahlunto, Solok, Padangpanjang, Kayutanam, hingga sampai ke pelabuhan Teluk Bayur atau Emma Haven. Inilah diantara yang jadi rujukan tim penilai ICOMOS di Azerbaijan.

Walikota Sawahlunto diwakili Sekdako Drs.Rovanly Abdams,M.Si menyampaikan, pameran kebudayaan yang digelar merupakan bentuk   harapan Kota Sawahlunto, Solok, Kab. Tanah Datar, Padangpanjang,  kab.Pariaman, dan Kota Padang agar meraih pengakuan UNESCO.

Sekaitan dengan itu, Rovanly Abdams, mengakui Sawahlunto tidak memilikidestinasi pantai dan panorama indah sebagaimana daerah lain ditanah air, tapi warisan sejarah tambang Ombilin dengan asset bangunan tua dan benda bersejarahnya yang masih adasampai sekarang.

Dia berharap perlunya dukungan penuh dari seluruh komponen masyarakat Sumatera Barat, khususnya warga Kota Sawahlunto untuk berdoa lolosnya tambang Ombilin Sawahlunto meraih pengakuan UNESCO sebagai world heritage. Khusus kepada PT Bukit Asam, Pemkot Sawahlunto berterima kasih karena semua pusaka yang dinilai ini semuanya adalah warisan milik perusahaan tambang batubara bawah tanah tertua di Indonesia tersebut.

Pameran cagar budaya budaya tersebut di ikuti 11 daerah di Indonesia diantaranya BPCB Bali, Jawa Tengah, Yokjakarta, Gorontalo, Jambi, dan Sumatera Barat. (iy)

Share :
You might also like