Flying Fish Jakarta, Kursus Diving dengan Biaya Terjangkau

Jakarta, airmagz.com – Didirikan pada tanggal 11 Maret 2011, lahirnya Flying Fish Jakarta (FFJ) bermula dari obrolan ringan para instruktur selam dari tim AURI. Lalu seiring berjalannya waktu, para instruktur selam

tersebut membuat klub diving yang hingga saat ini telah “meluluskan” 43 angkatan dan memiliki total member hampir 400 orang.

Menurut Antonius Restu Anggono (salah satu instruktur di FFJ), tempat kursus menyelam yang bermarkas di komplek gedung Lakespra Saryanto, Jln MT Haryono, Jakarta Selatan, ini dibentuk dengan tujuan untuk melahirkan penyelam-penyelam baru yang dapat ber tanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri, orang lain, serta ekosistem laut.

Restu lalu bercerita bahwa dive center ini awalnya merupakan sebuah dive club yang murni hanya mengurusi bisnis dan trip. Lalu, karena lama-kelamaan jumlah anggotanya semakin banyak dan berasal dari berbagai kalangan (termasuk masyarakat sipil), akhirnya terbentuklah Flying Fish Jakarta pada tahun 2011. “Nama FFJ adalah nama populer dari dive center ini. Tapi kalau berdasarkan akta hukum, nama tempat ini adalah Sayap Semesta Indonesia,” ungkap

Restu saat ditemui beberapa waktu lalu. FFJ, kata Restu, meliputi dua lingkup bisnis, yaitu safety training dan dive training. Peserta safety training biasanya karyawan perusahaan-perusahaan migas, aviasi, dan lain-lain. “Sedangkan dive training merupakan tempat untuk kursus menyelam, dan kebetulan saya adalah salah satu instrukturnya,” papar Restu.

Syarat Menjadi Member 

Untuk menjadi member FFJ, kata Restu, si calon harus berbadan sehat dan memiliki surat pernyataan sehat dari dokter atau surat keterangan berbadan sehat. Selain itu, calon tersebut juga tidak boleh pengguna obat-obat berjenis psikotropika, opioid, dekongestan, dan jenis semacamnya.

“Mereka juga harus mengikuti pelajaran teori di kelas, praktek di kolam, dan selanjutnya menjalani ujian di perairan terbuka atau open water di laut. Lalu kalau hasil ujiannya dinilai layak, maka kami akan memberikannya license kepada mereka. Tapi kalau mereka belum layak saat pengujian di laut, biasanya ada ujian susulan atau perbaikan,” tutur Restu.

Kegiatan diving, kata Restu, adalah olahraga yang serius dan menyenangkan. Disebut serius karena kegiatan ini termasuk olahraga yang beresiko. “Bahkan untuk melakukan kegiatan menyelam pun mereka tidak boleh dalam keadaan flu. Kalau dalam keadaan flu mereka tetap menyelam, hal itu bisa berakibat buruk bagi. Sedangkan disebut menyenangkan karena memang banyak hal menyenangkan dari kegiatan ini,” paparnya.

Lantas apa saja proses yang harus dijalani calon member untuk bisa bergabung di FFJ dan mengantongi license sebagai diver? Pertama, kata Restu, mereka harus mengikuti kelas teori selama satu hari yang di dalamnya ada pembekalan seputar dasar-dasar penyelaman.

“Misalnya pengenalan terhadap dunia bawah air, aspek-aspek yang harus mereka pahami, resiko-resiko yang akan muncul, pengenalan lingkungan laut , hingga bagaimana membuat rencana penyelaman yang baik dan benar,” papar Restu.

Proses kedua, Restu melanjutkan, para calon member harus mengikuti praktek di kolam. “Untuk pool session ada dua kali per temuan. Lalu, kalau sudah menguasai semua teori dan dinyatakan layak, mereka akan mengikuti ujian di laut selama dua hari. Jadi kalau ditotal, mereka menjalani program tadi selama lima hari,” tuturnya.

Foto : Dokumentasi FFJ

Dalam perekrutan anggota pun, FFJ tidak memberlakukan batasan gender. Tak mengherankan bila jumlah member perempuan di tempat kursus ini hampir mencapai 40 persen dari jumlah member yang ada. “Siapa pun bisa masuk, lakilaki ataupun perempuan. T idak ada pembatasan berat atau tinggi badan, ataupun tua-muda,” kata Restu.

Tapi ada satu hal yang ditegaskan Restu. Ia menggarisbawahi bahwa program yang diberikan di FFJ adalah recreational diving atau penyelaman rekreasi yang ada aturan batasannya. “Jadi bukan technical diving atau scientific diving,” ujar Restu.

Tarif yang Terjangkau 

Bagi calon peserta khusus menyelam, FFJ menawarkan dua pilihan, yaitu kelas privat dan kelas reguler. Menurut Restu, program yang hingga saat ini banyak dipilih adalah kelas reguler. Restu melihat hal itu karena harga kelas reguler lebih terjangkau.

Dokumentasi FFJ

“Sebab, pada dasarnya kami ingin menarik banyak peminat dan memberikan program yang pada nantinya melahirkan banyak diver yang benar-benar menggemari kegiatan penyelaman,” paparnya.

Komunitas JakDivers

JakDivers adalah komunitas penyelam yang jumlah anggota aktifnya lebih dari ratusan diver bersertifikat dan sebagian besar merupakan member FFJ. Komunitas ini, menurut Restu, dihuni oleh para diver dari berbagai agensi, misalnya FFJ, CMAS, PADI, SSI, NAUI, POSSI, RAID, dan lainlainnya. Jadi, bisa dibilang, 100 persen alumni dari FFJ adalah anggota JakDivers, tapi tidak semua anggota JakDivers adalah alumni FFJ.

JakDivers acap melakukan kegiatan bertema edukasi serta menyebarluaskan pengetahuan seputar konservasi alam di berbagai tempat. Misalnya seperti yang beberapa waktu lalu digelar di sekitar perairan Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu dalam rangka menyambut Hari Bumi.

Foto : Dokumentasi FFJ

“Di Pulau Pramuka beberapa waktu lalu, kami melakukan adopsi terumbu karang dan memberikan edukasi kepada anak-anak pulau tentang bahaya membuang sampah ke laut, terutama barang-barang berbahan plastik. Sebab, selain sampah plastik baru bisa hancur dalam 20 tahun lebih, sampah jenis itu juga dikhawatirkan dimakan oleh hewan-hewan laut yang nantinya akan membunuh hewan itu sendiri,” ungkapnya.

Sebelumnya, pada Agustus tahun lalu, komunitas Jak Diver juga menggelar kegiatan sosial di Pulau Sombori, Sulawesi Tengah. Mereka mendonasikan seribu buku yang dikumpulkan dari para member. Kegiatan itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian Jak Diver terhadap masyarakat yang membutuhkan. (BD)

Share :