Pasca Teror Bom, Sri lanka Banting Harga Tiket Pesawat dan Hotel

Jakarta, airmagz.com – Teror bom saat peringatan Paskah di Sri Lanka turut menghajar industri pariwisata di sana. Demi mendatangkan lebih banyak turis setelah peristiwa berdarah tersebut, pemerintah Sri Lanka melakukan promosi dengan menurunkan harga tiket pesawatnya.

Tiket pesawat dari dan ke Sri Lanka hingga enam bulan ke depan bakal lebih murah, dengan siasat pemerintah yang menurunkan biaya bahan bakar pesawat sampai embarkasi di Bandara Internasional Kolombo. 

Dengan demikian pemerintah berharap semakin banyak maskapai penerbangan yang membawa turis mancanegara datang ke Sri Lanka.

Jumlah turis mancanegara ke Sri Lanka turun sebanyak 57 persen pada bulan Juni 2019, setelah terjun bebas sebanyak 71 persen pada Mei 2019, seperti yang dikutip dari data Badan Pariwisata Sri Lanka.

Kedatangan sebanyak 63.072 turis mancanegara pada bulan Juni disebut sebagai titik terang bangkitnya industri pariwisata Sri Lanka, karena sudah banyak negara yang melonggarkan peringatan perjalanan mereka ke sana, salah satunya Inggris. 

Dikutip dari The Guardian, jumlah turis mancanegara merosot setelah serangan yang menewaskan 253 orang terjadi pada 21 April 2019. Delapan korban merupakan warga negara Inggris. 

Sejak peristiwa tersebut banyak negara yang mengeluarkan peringatan perjalanan. Tercatat juga pembatalan pemesanan akomodasi sebanyak 80 persen.

Tak cuma negara, maskapai penerbangan juga mengurangi rutenya ke Sri Lanka. Bahkan maskapai Rusia, Rossiya, memberhentikan aktivitasnya di sana.

“Pada April 2018 sebanyak 29 maskapai penerbangan terbang ke Sri Langka sebanyak 300 kali seminggu. Setelah serangan hanya 239 kali seminggu. Kami kehilangan 8.000 bangku setiap minggunya,” kata ketua Badan Pariwisata Sri Lanka, Johanne Jayaratne.

Sepanjang tahun lalu sebanyak 2,3 juta turis datang ke Sri Lanka. Sekitar 98 persennya datang dengan penerbangan dari luar negeri.

Kedatangan turis mancanegara diharapkan juga memberi negara pemasukan sebesar US$3,7 miliar pada tahun ini, target yang lebih rendah dari harapan awal sebesar US$5 miliar.

Bukan cuma tiket pesawat, jajaran hotel di Sri Lanka juga diminta menurunkan harganya.

Bulan ini merupakan musim panas di Sri Lanka, dimana biasanya hotel-hotel terisi penuh setiap harinya.

Industri pariwisata adalah penghasil devisa terbesar ketiga di Sri Lanka, dengan jutaan orang bergantung pada pariwisata, baik secara langsung maupun tidak langsung. (IMN/CNNIndonesia)

Share :
You might also like