Windsock! Penanda Arah Angin di Sebuah Bandara

Jakarta, airmagz.com – Windsock adalah sebuah kain berbentuk silinder mengerucut disatu ujungnya, diterjemahkan secara bebasnya sebagai sarung angin. Sebutan lain dalam bahasa Indonesia yang sering didengar di lapangan adalah dengan sebutan kondom udara atau kondom angin. Bentuknya memang seperti kondom namun berlubang di dua ujungnya.

Fungsi windsock adalah sebagai penanda arah angin dan relatif kecepatan angin. Terkadang windsock tidak dilengkapi pengukur kecepatan angin (anemometer). Kecepatan angin hanya bisa dilihat secara perkiraan kasar yakni dari sudut relatif windsock terhadap tiang mounting. Jika angin rendah maka windsock terkulai dan angin kencang maka windsock lurus horizontal.

Pemasangan windsock selalu ditempatkan diketinggian, di area-area yang dilalui angin dan mudah dilihat dari arah manapun. Windsock dibuat dengan warna mencolok/menyala agar dapat dilihat baik pada siang maupun malam hari. Warna windsock umumnya oranye dengan strip berbahan memantulkan cahaya. Arah angin yang ditunjukkan windsock akan berkebalikan dengan arah datangnya angin. Misal windsock berkibar mengarah ke barat maka angin menunjukkan datang dari arah timur.

Bandar udara wajib dilengkapi dengan alat pemerkira arah dan kecepatan angin atau windsock. Alat yang memiliki warna menyolok ini wajib ditempatkan di area terbuka yang dapat terlihat langsung oleh pilot pesawat.

Dalam dunia penerbangan, mengetahui arah angin sangatlah penting. Pesawat terbang sangat rentan terhadap pergerakan angin. Dalam kondisi tertentu, dimana kecepatan dan arah angin dianggap telah melebihi batas maksimal keselamatan penerbangan, sebuah pesawat terbang pun dilarang terbang atau mendarat di sebuah bandar udara.

Angin di dekat permukaan bumi memiliki kecepatan lebih rendah dibandingkan angin pada lapisan udara yang lebih tinggi. Namun sekali lagi, tanpa adanya alat bantu, manusia tidak bisa melihat dan memperkirakan arah dan kecepatan angin. Sementara pada sebuah penerbangan, arah dan kecepatan angin itu sangat berpengaruh terhadap keselamatan. Karenanya, setiap bandar udara wajib dilengkapi dengan windsock.

Foto : flightflight.com

Pada sebuah lapangan terbang windsock biasanya ditempatkan di dekat ujung landasan. Mengapa? Agar petugas pengatur lalu lintas udara dan/atau awak pesawat bisa memperkirakan arah angin di landasan. Pada bandar udara yang belum dilengkapi peralatan modern, mengamati windsock secara visual, sangat membantu. Berbekal hasil pengamatan windsock, petugas pengatur lalu lintas udara bisa memberikan arahan kepada awak pesawat tentang sisi landasan mana yang aman untuk tinggal landas dan mendarat. Berbekal hasil pengamatan windsock pula awak pesawat bisa memperkirakan teknis pendaratan yang harus dilakukannya.

Windsock terbuat dari bahan ringan, dan memiliki lubang terbuka pada kedua ujungnya. Lubang berdiameter lebih besar terdapat pada ujung dekat tiang penyangganya, sementara lubang yang lebih kecil pada ujung lainnya.

FAA (Federal Aviation Administration) menetapkan dua ukuran tinggi windsock, yakni yang memiliki tinggi maksimal 3 meter dan yang memiliki tinggi maksimum 4,8 meter. Sementara itu ICAO (International Civil Aviation Organisation) mensyaratkan tinggi windsock 6 meter.

Foto : windsockonline.co.za

Untuk ukuran windsock sendiri, FAA menetapkan dua ukuran. Ukuran pertama adalah ukuran panjang 2,5 meter dengan lubang terbesar sebagai jalan masuk angin adalah 0,45 meter. Ukuran kedua adalah panjang 3,6 meter, dan diameter lubang terbesar adalah 0,9 meter. Sementara itu ICAO mensyaratkan ukuran panjang 3,6 meter dan lebar lubang terbesar adalah 0,9 meter. Windsock juga harus didesain bisa berkibar seluruhnya jika kecepatan angin mencapai 15 knot atau 28 km/jam, warnanya harus cerah, dan bisa dilengkapi dengan sumber cahaya di bagian dalam atau di bagian luarnya. (IMN/indoaviation.co.id/sekolahaja.com)

Share :