Industri 4.0 Bisa Jadi Peluang Majunya Pariwisata Nasional

Jakarta, Airmagz.com – Hadirnya industri revolution 4.0 merupakan tantangan tersendiri yang dihadapi dunia bisnis apa pun di dunia saat ini, tak terkecuali pariwisata. Namun Universitas Prasetiya Mulya memandang justru tantangan ini bisa menjadikan pariwisata nasional lebih maju dengan cepat beradaptasi atas model bisnis masa kini itu.

“Industri paling subur adalah pariwisata, baik itu ticketing, perjalanan, destinasi, perhotelan, memang megah yang bintang-bintang, selain berbintang ada bisnis perhotelan yang kecil seperti homestay. Jadi tantangan kita adalah bagaimana pelaku usaha pariwisata kita elevated standart internasional,” ucap Dekan Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Prasetiya Mulya Prof. Agus W. Soehadi di sela-sela seminar bertema ‘Next Generation Embracing Technological Changes’ yang berlangsung di Auditorium Universitas Prasetiya Mulya, Kampus Cilandak, Jakarta, Kamis (25/7).

Acara ini turut menghadirkan Pramodita Sharma, Professor & Daniel Clark Sanders Chair dalam bidang Entrepreneurship & Family Business (Bisnis Keluarga) dari Grossman School of Business, Universitas Vermont, USA.

Selain itu hadir pula beberapa grup bisnis yang ternama Indonesia seperti Salam Subakat dari Wardah, Noni Purnomo dari Blue Bird Group, dan Teresa Wibowo dari Kawan Lama Group.

Menurut Prof. Agus W. Soehadi, banyak yang memiliki pandangan salah dengan beranggapan bahwa dunia bisnis menuju kehancuran, dengan hadirnya model bisnis baru ini. Padahal, kehadiran dunia industri revolution 4.0 bukan hanya menjadi tantangan tapi peluang yang besar untuk bisa berkembang lebih maju dunia pariwisata nasional.

Diakuinya melalui model bisnis ini, homestay bisa dimanfaatkan dengan best practice telekomunikasi, service kebersihan, hingga service pelayanan yang nantinya bisa disejajarkan dengan dunia perhotelan. Otomatis membuat wisatawan kian memiliki banyak pilihan dalam berwisata.

“Seharusnya upaya pemerintah jangan dibatasi pada infrastruktur fisik melainkan pada pelatihan kultur layanan, hygine, tepat waktu dan mestinya univesitas juga turut serta pada pleyanan yang menarik,” bebernya lagi.

Baginya, kehadiran industri digital tidak membuat pariwisata semakin lemah, melainkan bisa menjadikan bisnis pariwisata semakin hidup bertumbuh dengan pesat. Kesalahan tentu ada pada siklus bisnis itu sendiri.

“Digital revolution akan memakan banyak lowongan kerja di dunia industri, maka waktu luang bertambah dan permintaan akan jasa pariwisata semakin naik. Dari pariwisata berbasis hedonisme ke pariwisata yang lebih reflektif atau pariwisata cultural dan itu harus dipelajari dengan baik,” bebernya.

Baginya, pariwisata harus menjadi bagian sehingga bisa dijual kepada wisatawan, di mana dunia digital mendorong industri pariwisata di Indonesia semakin dikenal. Apalagi, Indonesia sangat unggul di bidang geografi yang luar biasa di Asean.

“Indonesia pantas diposisikan sebagai lokasi pariwisata yang besar di dunia tetapi jangan terperangkap dalam hedonisme itu sendiri. Tak itu saja, pelaku sumber daya manusia bisa diaplikasikan ke dalam digital, di mana kultur bisa didesain dengan baik. Sebelum datang ke Indonesia harus tahu soal kultur Indonesia,” tukasnya.

Share :
You might also like