Bandara Kertajati Sepi, Ini Sebabnya!

Jakarta, airmagz.com – Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, Jawa Barat yang menghabiskan dana sekitar Rp 2,6 triliun faktanya sepi menumpang. Beberapa faktor menjadi alasan kenapa kurang berminatnya penumpang melakukan penerbangan melalui Bandara Kertajati.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengakui, saat ini Bandara Kertajati belum maksimal karena belum banyaknya penerbangan dan penumpang yang terbang melalui bandara tersebut. Namun dia meyakini, bandara di wilayah Jawa Barat itu akan ramai dalam 5 tahun mendatang.

“Bandara ini lima tahun mendatang apabila semua berjalan baik, Kertajati menjadi satu bandara yang ramai dan menguntungkan,” kata Menteri Budi.

Akses jalan ke Bandara Kertajati memang menjadi kendala sepi penumpang. Selagi menunggu Jalan Tol Cisumdawu rampung. Pemerintah telah menyiapkan solusi, salah satunya dengan bus Damri dari semua rute menuju Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati selama satu tahun per 1 Agustus 2019. “Jadi, selama satu tahun itu pemerintah menyubsidi Damri jadi gratis,” katanya.

Berikut ini fakta Bandara Kertajati sepi penumpang dan strategi pemerintah menarik minat penumpang:

1. Akses Jalan Tol Belum Rampung

Salah satu alasan kenapa Bandara Kertajati sepi penumpang karena akses jalan tol yang menghubungkan Bandung dan Bandara Kertajati belum rampung. Hal ini diungkap oleh Direktur Utama AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan.

“Memang yang dipertanyakan adalah jarak terdekat dari kota besar di wilayah sana, yang paling deket Bandung. Sementara tol yang hubungkan bdg kertajati, cisumdawu belum selesai,” kata dia, di Jakarta, Senin (24/6).

Sementara itu bila ditempuh melalui jalan non tol, perjalanan Bandung-Kertajati akan menghabiskan waktu hingga 2,5 jam. “Jadi kalau menggunakan jalan biasa 2 jam 30 menit itu kalau tidak macet. Tentunya ini akan jadi PR bagi orang yang ingin pergi dari atau ke Bandung, tentunya penumpang ini punya opsi lain, kalau 2,5 jam kenapa tidak lewat Jakarta saja. Ini masukan riil yang kami dapat dari penumpang,” jelas dia.

Sementara itu, Pemerintah tidak tinggal diam melihat bandara yang menghabiskan dana Rp 2,6 triliun sepi penumpang. Melalui Kementerian PUPR, pekerjaan Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) dikebut. Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menargetkan, konstruksi Jalan Tol Cisumdawu bisa rampung pada 2020 mendatang. Langkah percepatan ini diinisiasi lantaran aktivitas penerbangan di Bandara Kertajati kini telah dihidupkan.

“Ini kebetulan BIJB sudah mulai beroperasi, sehingga akses jalan ke BIJB Kertajati akan lebih ditunggu, akan lebih signifikan sekali manfaatnya untuk pergerakan lalu lintasnya,” tuturnya saat meninjau proyek Tol Cisumdawu di Sumedang, Selasa (2/7).

Secara kontrak, Menteri Basuki meneruskan, proses pengerjaan tol masih akan terus berlanjut hingga 2021. Namun, beroperasinya BIJB Kertajati membuatnya tergerak untuk segera merampungkan pengerjaan Tol Cisumdawu sepanjang kira-kira 60 km. “Dengan adanya percepatan pemanfaatan BIJB, kita juga harus ikutin itu. Untuk itu kita ingin coba mempercepat ini jadi 2020,” jelasnya.

2. Bandara Husein Sastranegara Masih Beroperasi Komersil

Corporate Secretary Bandara Kertajati, Arief Budiman membeberkan beberapa faktor menjadi penyebab Bandara ini memang belum dilirik masyarakat luas. Selain karena infrastruktur yang belum menunjang. Penyebab lainnya, bahwa beroperasinya Bandara Husein Sastranegara masih menjadi kendala untuk megoptimalisasi Kertajati.

Berkaca dari beberapa wilayah untuk pengembangan bandara baru bahwa ada pergeseran pergerakan pesawat. Ambil contoh Kualanamu yang menggantikan peran Polonia pada 2013 lalu. Selanjutnya ada Bandar Udara Internasional Minangkabau yang menggantikan Bandar Udara Tabing pada 2005 lalu. Bandara ini sekarang menjadi pilihan utama masyarakat Padang sebagai hub orang.

3. Citilink Berhentikan Sementara 3 Penerbangan

Efek sepinya penumpang di Bandara Kertajati, maskapai Citilink Indonesia memutuskan untuk memberhentikan sementara sejumlah rute penerbangan. Ada tiga rute yang diberhentikan sementara oleh pihak manajemen maskapai Citilink Indonesia, yakni Kertajati-Medan, Kertajati-Denpasar, dan Kertajati-Palembang. Kebijakan itu berlaku sejak Jumat (26/7).

“Keputusan ini dilakukan setelah hasil evaluasi. tingkat keterisian penumpang (load factor) dalam penerbangan itu relatif rendah,” ujar VP Corporate Secretary dan CSR Citilink Indonesia, Resty Kusandarina saat dihubungi.

Meski demikian, untuk rute lain, pihaknya memastikan masih tetap beroperasi. Yakni Kertajati- Pekanbaru serta Surabaya-Kertajati. Hanya saja, evaluasi tetap akan dilakukan untuk menunjang kinerja perusahaan.

“Sebagai maskapai berbiaya rendah (LCC) premium di Indonesia, Citilink senantiasa melakukan evaluasi terhadap rute-rute yang dibuka. Agar setiap rute penerbangan yang dioperasikan Citilink berlangsung dengan lebih optimal,” ujar Resty. (IMN/Merdeka.com)

Share :
You might also like