Pemulihan Industri Penerbangan Nasional

Oleh : Marco Umbas

Pengamat Penerbangan

Tubuh yang sakit ditandai dengan kondisi badan yang lesu, lelah, letih, lemah dan apabila terus dibiarkan maka harus segera dibawa kerumah sakit bahkan harus masuk Unit Gawat Darurat (UGD) supaya segera dicari pertolongan untuk menyelamatkan pasien dari kematian.
Selanjutnya dokter akan melakukan diagnosa roots of problem agar dapat diberikan obat yang tepat agar segera dapat sembuh

Berdasarkan observasi, saat ini industri penerbangan nasional berada di ‘UGD’. Niscahya industri penerbangan akan mati apabila tidak diambil tindakan segera karena sel kanker sudah menjalar keseluruh tubuh yang ditandai dengan kerugian yang massif beberapa tahun terakhir dan sel kanker tersebut telah menyerang beberapa organ vital berupa negative cash flow akibat kerugian tersebut.

Salah satu indikator kesehatan industri penerbangan nasional adalah harga saham, terbukti harga saham Garuda cenderung under pressure dan tidak menunjukan positive growth yang stabil pada level 400 atau saham saham Indonesia Airasia yang cenderung terus tertekan pada level 185 perhari ini tanggal 1 Agustus 2019.

Kenyataannya kondisi diatas terus dibiarkan namun dalam ‘keputusasaan’ dan ketajaman ‘insting bisnis’, operator penerbangan telah mengambil langkah berani dan penuh resiko. Agar dapat terus survive ditengah peningkatan direct operating cost / indirect operating cost khususnya biaya avtur dan pelemahan kurs rupiah yang menjadi biang keladi kerugian dan negative cash flow.

Langkah yang diambil operator penerbangan adalah menaikan harga tiket pada semua rute-rute domestik bahkan Garuda telah menerapkan satu harga sekaligus memanage supply seat yang tersedia dipasar domestik. Walaupun terdapat pengurangan demand akibat pengurangan supply namun masih dapat membuahkan keuntungan operator penerbangan.

Akibat langkah tersebut, Garuda group diduga telah melakukan kartel harga tiket pesawat yang mana sedang dalam proses pemeriksaan akhir oleh KPPU.
Bahkan Lion dan Garuda telah dipanggil oleh DPR untuk klarifikasi atas dugaan tersebut. Untuk itu operator penerbangan telah memberikan gambaran sehubungan kondisi yang dihadapi dan langkah penyelamatan yang diambil untuk keluar dari kesulitan tersebut.

Dipihak lain Kementerian Koordinator Perekonomian telah membuat kebijakan tiket pesawat Low Cost Carrier (LCC) agar dapat menurunkan harga tiket pesawat hingga 50 persen dengan kapasitas 30 seat, khusus hari Selasa, Kamis dan Sabtu antara pukul 10.00-14.00 WIB untuk Lion Air dan Citilink sehingga masyarakat dapat menikmati harga tiket yang murah.

Namun demikian berdasarkan pengamatan di situs Online Travel Agent (OTA) untuk keberangkatan hari kamis 1 Juli 2019 ternyata kebijakan diatas belum sepenuhnya diikuti operator penerbangan. Kenyataannya keberangkatan malam diatas jam 9 masih lebih murah ketimbang jam 10-14 siang.

Dalam perspective yang lebih luas, kebijakan pemerintah yang membantu efisiensi biaya Operator Penerbangan seyogianya menjadi prioritas utama sehingga akan menyehatkan industri penerbangan nasional.

Seperti kebijakan pemberian insentif fiskal atas jasa persewaan, perawatan, dan perbaikan pesawat udara, jasa persewaan pesawat udara dari luar daerah pabean, impor, penyerahan atas pesawat udara dan suku cadang.

Kebijakan harga Avtur ,insentive perpajakan, insentive biaya landing fee/route charge dan biaya parkir pesawat akan menjadi area yang perlu mendapatkan perhatian sehingga dapat mendorong akselerasi kebangkitan industri penerbangan nasional. 

Lebih jauh bahwa insentive-insentive tersebut hanya bersifat sementara, apabila kesehatan industri penerbangan nasional sudah pulih tentunya kebijakan-kebijakan diatas dapat dikaji ulang bahkan dibatalkan seperti kebijakan Tarif Batas Atas (TBA) dan Tarif Batas Bawah (TBB).

Kesehatan industri penerbangan nasional ditandai terjadinya keseimbangan supply dan demand pada rute-rute domestik dengan tingkat harga yang memuaskan konsumen dan operator penerbangan

Apabila kondisi diatas tercapai, diharapkan akan ada penambahan frekwensi penerbangan pada rute-rute domestik dan pada gilirannya pemain baru dipasar domestik akan bertambah.

Fokus utama pemerintah sebagai regulator adalah menciptakan atmosphere usaha yang sehat sehingga masing-masing operator penerbangan dapat bersaing dalam rangka memenuhi keinganan dan kebutuhan konsumen.

Dengan potensi pasar yang besar diharapkan industri penerbangan nasional dapat menjadi lokomotif perkembangan ekonomi Indonesia sekarang dan dimasa mendatang.

The government involvement in the economy is so overwhelming and beyond anything we have ever seen, that we risk moving this country away from a government the people to a government of the regulator- Thomas J Donohue 

Share :
You might also like