Surat Elektonik Nadhira USIM Malaysia Sawahlunto Miliki Daya Tarik Tersendiri

Sawahlunto, airmagz.com – Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Muamalat (FEM), Universitas Sains Islam Malaysia (USIM), menyurati airmagz.com untuk mengabarkan ke elokan negeri ini. sebagai tempat mereka menimba ilmu pengetahuan melalui program Global Islamic Student Outreach (GISO) 2019.

Mereka mengungkapkan suka citanya  saat pertama kali menginjakan kaki di Kota Sawahlunto dan kota lain seperti Padang, Bukitinggi, Maninjau, dan kota lainnya di Sumatera Barat, dalam rangka melakukan aktifitas sosial dan kebudayaan antara negeri serumpun semenanjung Malaysia dengan Ranah Minang di Sumatera Barat yang sempat diberitakan airmagz.com.

“Kami diberi peluang menjejakan kaki ke Kota  Sawahlunto, sebuah kota peninggalan kolonial Hindia Belanda hanya untuk menyaksikan artefak penambangan batubara Tambang Ombilin, yang hingga kini masih terjaga baik, sebagai daya tarik destinasi wisata di Indonesia, khususnya Sumatera Barat.” ungkap Nadhira Nasir, mahasiswa jurusan Akutansi semester 6 USIM, Negeri Sembilan, Malaysia ini.

Nadhira Nasir, kagum dengan ke unikan artefak dan bangunan peninggalan Hindia Belanda yang terjaga dengan baik, sehingga menurutnya, Ombilin Coal Mine Heritage layak diakui sebagai warisan budaya dunia UNESCO, 6 Juli 2019 lalu dalam sidang World Heritage Committte ke 43 di Baku, Republik Azerbaijan.

Yang paling menyenangkan, katanya, perjalanan mereka selama 7 hari (14-17/7) ke Sumatera Barat, dan tiga hari di Kota Sawahlunto, sangat berbekas dihati rombongan 22 mahasiswa USIM ini. Apalagi mendapat pelayanan baik dari wali kota diwakili Sekretaris Daerah Drs.Rovanly Abdams,M.Si beserta pejabat lainnya,

Mereka mendapat penjelasan dan informasi seputar sejarah Kota tambang batubara Sawahlunto, sebagaimana visi Kota Sawahlunto tahun 2020 sebagai ‘Kota Wisata Tambang yang Berbudaya”.

Lalu Mereka mengunjungi destinasi Puncak Cemara menikmati panorama alam Kota Sawahlunto dari ketinggian. “Amazing!” katanya, saat melihat secara jelas kota tua Sawahlunto dengan susunan sederet bangunan tuanya.

Setelah hampir 30 menit menikmati pemandangan dari Puncak Cemara, dia bergerak menuju Museum Goedang Ransoem yang merupakan museum dengan koleksi peralatan masak yang digunakan untuk melayani ransum para pekerja tambang di zaman penjajahan Belanda.

Kemudian rombongan lenuju lubang tambang “Mbah Soero” yang terletak tidak jauh dari Museum Goedang Ransoem. Saat berada di lubang tersebut, Nadhira dan rekannya kagum melihat dinding lubang bekas penambangan batubara bawah tanah (underground mine) tersebut masih bergelantungan bongkahan batubara (arang batu) yang masih mengkilat dan kokoh. “Sangat menarik dan tak ada duanya” tuturnya.

Selesai menyelusuri lubang tambang ” Mbah Soero ” dia bersama pimpinan rombongan dosen senior Dr.Nurul Nazlia Jamil, Suhazlina Dt.Mohamed Samsudin dari Asosiasi Balap Mobil Malaysia, melanjutkan perjalanan terakhir ke Museum Kereta Api.

Museum ini merupakan museum kedua di Indonesia setelah Ambarawa di Pulau Jawa. Di museum ini mereka bercengkerama dan menyaksikan gerbong kosong dan loko uap yang masih tertidur sebagai gambaran dari sejarah masa lalu terhadap transportasi batu bara dari Sawahlunto menuju pelabuhan Teluk Bayur, Padang.

“Kami berikhtiar melaksanaan travelog amal di Sumatera Barat melalui GISO 2019.Banyak ilmu yang dapat ditimba selama berada disini. Sebuah pengalaman yang tak dapat dilupakan. Semoga semua ilmu yang kami peroleh dapat bermanfaat di masa datang” tutupnya, dalam surat elektronik yang ditulisnya sendiri.(IY)

 

 

Share :
You might also like