Dongkrak Pendapatan, AP II Kembangkan Bisnis Diluar Bandara

Jakarta, airmagz.com – PT Angkasa Pura II mengakui pada semester I tahun ini mengalami penurunan penumpang sebesar 21% dibandingkan periode tahun 2018 (year on year/yoy). Dampak ini terjadi akibat kenaikan tarif tiket pesawat.

Meskipun mengalami penurunan jumlah penumpang, namun Direktur Operasi & Teknik PT Angkasa Pura II Djoko Murjatmoko menyatakan rasa optimismenya pendapatan perseroan tak mengalami penurunan.

Djoko membeberkan, perseroan terus berinovasi sehingga revenue stream tidak hanya bergantung pada aero revenue stream saja.  “Saat ini manajemen lebih menggerakkan bisnis di luar bandara,” ujar Djoko dalam sebuah acara diskusi di Jakarta, Jumat (9/8) pekan lalu.

Dia mengungkapkan selama ini AP II sangat bergantung pada tiga pokok bisnis, antara lain aero, nonaero, dan kargo. Hal ini dilakukan dalam rangka mengcover turunnya pendapatan dari bisnis bandara.

AP II juga memberikan insentif biaya mendarat, parkir, dan pajak bandara (passenger service charge). Diharapkan upaya ini bisa mendongkrak jumlah penumpang pesawat terbang.

“Kita juga telah membangun hotel kapsul di airport Soekarno-Hatta. Itu laris terutama pada Jumat malam, terutama bagi penumpang yang akan naik pesawat di waktu dini hari,” terang Djoko.

Selain itu, lanjut dia, perseroan juga terus melakukan investasi untuk menambah kapasitas penumpang di Bandar Udara Soekarno-Hatta.

Djoko memprediksi bisnis industri penerbangan akan kembali bergairah di masa mendatang. “Kami optimis indutri pesawat udara akan terus tumbuh. Prospek ke depan industri penerngan di Indonesia akan bisa maju,” pungkas dia.

Bisnis yang tengah dijalani AP II tentunya sejalan dengan apa yang diinginkan perseroan guna mendongrak pendapatannya. Pada tahun 2019 ini, AP II targetkan pendapatan Rp11,4 triliun. Sebanyak dengan Rp500 miliar di antaranya berasal dari addition revenue dengan cara inorganik.

Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengutarakan perusahaan mulai mengembangkan addition revenue stream nonaero untuk menyikapi dinamika industri penerbangan saat ini dengan mengembangkan konsep bisnis beyond core.

“Kita mulai pertimbangkan APII bukan sebagai perusahaan airport operator saja, tapi masuk ke daya inovasi bisnis dan pengembangan produk serta jasa ke depannya ” ungkap Awaluddin.

Dia menuturkan pada tahun ini perusahaan menganggarkan belanja modal sebesar Rp14 triliun dengan Rp1,7 triliun di antaranya untuk mendorong addition revenue secara inorganik. (IRM)

Share :
You might also like