Federasi Drone Indonesia Dukung Sertifikasi Pesawat Tanpa Awak

Jakarta, airmagz.com – President World Unmaned Aero Vehicle Federation (WUAVF) atau Federasi Dunia Pesawat Udara Tanpa Awak Indonesia Sanny Suharli menyambut baik rencana Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan yang akan memsertifikasi pesawat tanpa awak atau unmanned aircraft vehicle.

Dia mengatakan, upaya yang dilakukan oleh pemerintah sudah lama dinantikan. Malah Sanny ingin agar para pemangku kepentingan membuat regulasi bahwa semua drone yang bisa terbang diatas 150 meter harus disesuaikan dengan teknologi penerbangan sipil.  Hal ini agar jangan pesawat tanpa awak tersebut tidak saling tabrakan saat diterbangkan.

“Regulasi ini sudah lama dinantikan. Karena kacau.. bahaya mengancam. Jadi regulasi harus,” kata Sanny saat dimintai komentarnya oleh airmagz.com, Rabu (21/8).

Dia berharap nantinya penyusunan regulasi itu harus dikaji secara mendalam dengan melibatkan semua pihak terkait, termasuk wadah atau organisasi drone yang ada di tanah air. Dalam aturan itu, pemerintah lebih memperhatikan keselamatan.

World Unmaned Aero Vehicle Federation atau Federasi Dunia Pesawat Udara Tanpa Awak anggotanya terdiri dari 23 negara termasuk Amerika Serikat, Australia, Inggris, Indonesiaa, dan sejumlah negara Eropa.

Organisasi ini didirikan oleh Ketua Umum WUAVF Jincai Yang dengan tujuan untuk memainkan peran positif untuk kemajuan profesionalisme dalam industri drone. WUAVF bertugas untuk menerbitkan, mendistribusikan dan mengedarkan segala literatur informatif ke masyarakat luas segala hal terkait drone.

Di Indonesia, World Unmaned Aero Vehicle Federation (WUAVF) telah menjalin hubungan dengan beberapa instansi dan badan negara, diantaranya TNI Angkatan Udara, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, LAPAN, Polri, Badan Cyber Nasional, dan lembaga lainnya.

Selain WUAVF, di Indonesia sudah terbentuk ASTA (Asosiasi Sistim Tanpa Awak).

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Polana B. Pramesti mengatakan bahwa sertifikasi tersebut dilakukan guna menunjang rencana uji coba yang akan dilakukan oleh perusahaan maskapai Garuda Indonesia. Namun, dia menyatakan jangka waktu yang dibutuhkan dalam proses tersebut tidak dijelaskan lebih lanjut.

Polana menambahkan proses sertifikasi diharapkan bisa rampung pada akhir bulan ini atau awal September. Hal tersebut akan bergantung pada sikap kooperatif dari pihak pabrikan, yakni Beihang UAS Technology Co. Ltd. (IRM)

Share :
You might also like