Tahun 2025, Industri Pesawat Drone Bisa Capai US$ 2.500 Miliar

Jakarta, airmagz.com – Pada tahun 2025, industri UAV (Unmaned Aero Vehicle) atau pesawat tanpa awak di dunia sediperkirakan akan tumbuh mencapai US$2.500 miliar.  Angka ini tentunya akan berdampak positif bagi industri penerbangan di tanah air.

President World Unmaned Aero Vehicle Federation (WUAVF) atau Federasi Dunia Pesawat Udara Tanpa Awak Indonesia Sanny Suharli mengatakan, secara global industri pesawat drone akan terus tumbuh, termasuk di Indonesia.

Saat ini, kata dia, di Cina terdapat sekitar 600 perusahaan pembuat drone yang semuanya didukung oleh dana korporasi pemerintah Cina.

Dari sisi teknologi, Turki telah menciptakan drone tingkat menengah yang bida terbang 40 ribu kaki diatas ketinggian pesawat  komersil umumnya dengan daya jelajah selama 24 jam nonstop. “Namun tak sedikit pesawat drone yang dirahasiakan perkembangan karena kebutuhan militer dan perang,” kata Sanny kepada airmagz.com, Kamis (22/8).

Sementara dari sisi kategori, drone dimulai dari mainan anak-anak yang harganya mulai Rp150 ribu. Kemudian drone untuk kebutuhan pemetaan udara berskala kecil harganya sekitar Rp20 jutaan, sedangkan kebutuhan pemetaan skala besar harganya sekitar Rp2 miliar.

“Untuk kebutuhan menengah strategi perang yang sangat mahal, namun di butuhkan,” sambung Sanny.

Pembuatan pesawat terbang tanpa awak di Indonesia diproduksi secara terbatas dan hanya dibuat bodynya saja. Sedangkan, motor penggerak baik listrik maupun tenaga motor penggerak bahan bakar, serta keseluruhan system control yang otomatis banyak mempergunakan teknologi import yang sudah lebih mapan.

“Saya sudah mengunjungi banyak industri kecil menengah sampai ke industri militer di Cina yang menyatakan sangat ingin bekerja sama dengan perusahaan di Indonesia dan diketahui oleh pemerintah kedua negara yang terkait,” kata Sunny.

Tak hanya Cina, beberapa perusahaan Amerika Serikat dan Filandia yang membuat software untuk pengendalian pesawat tanpa awak sangat ingin bekerja sama dengan pihak Indonesia.

“Kita harus menyambut baik kesempatan ini dan saya memberikan rekomendasi kerja sama yang menguntungkan bagi bangsa dan NKRI,” tutup Sunny. (IRM)

Share :