Latih Pejabat Afghanistan, BDTBT Ikut Promosikan TBO Sebagai Warisan Dunia

Sawahlunto, airmagz.com– Balai Diklat Tambang Bawah Tanah (BDTBT), Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Energi dan Sumber Daya Mineral (BPSDM ESDM), tidak hanya sebagai rujukan peningkatan kapasitas sumber daya manusia pengelola potensi sumber daya alam, tapi juga jadi destinasi wisata heritage yang erat kaitannya dengan tambang batubara Ombilin sebagai warisan dunia UNESCO.

Kepala BDTBT Asep Rohman,ST,MT, mengakui hal itu. Menurut dia, keberadaan dan kiprah balai diklat pelat merah itu mampu mewarnai iklim industri di sektor pertambangan batubara. Sebab, core business-nya lebih fokus kepada pengembangan sumber daya manusia, energi dan sumber daya mineral.

Dengan demikian, lembaga dibawah Kementerian ESDM ini mampu menjawab kebutuhan dan tantangan yang dihadapi kalangan industri di sektor pernambangan batubara tanah air. Bahkan, dunia internasional. Karena disinilah sertifikasi keahlian dapat dilegalisasi, guna meningkatkan capaian target produksi di berbagai perusahaan yang jadi mitra BDTBT.

Kepada airmagz.com (4/10), Asep Rohman, mengutarakan, BDTBT juga bagian dari sejarah tambang batubara Ombilin, karena pada masa Hindia Belanda diberi nama Mijnbouw School yang didirikan tahun 1918, untuk melahirkan tenaga pengawas tambang Ombilin saat itu. Dengan demikian, dia ikut aktif mempromosikan Ombilin Coal Mine Heritage of Sawahlunto sebagai Warisan Dunia UNESCO.

“Sejarah tambang Ombilin tak bisa dipisah dari BDTBT, karena terintegrasi dengan Mijnbouw School untuk menjawab kebutuhan tenaga pengawas penambangan batubara saat itu oleh Pemerintahan Hindia Belanda. Apalagi, di areal ini berdiri penjara pekerja paksa “orang rantai” dan lubang tambang pertama Sungai Durian”ucap Asep, bercerita sejarah.

Pelatihan Warga Afghanistan 

Populeritas dan brand BDTBT, BPSDM ESDM, ternyata bergaung hingga ke  Islamic Republic of Afghanistan. Negara terletak ditengah benua Asia, kaya mineral tambang itu lantas mengirimkan 65 pejabat dari Kementerian Pertambangan dan Perminyakan Afghanistan, 20 diataranya mengikuti program Coal and Mineral Mining Courses di BDTBT Sawahlnto.

Abull Qasim Shakeri, mahasiswa Afganistan, jurusan Teknik Geofisika Institut Teknologi Bandung (ITB) menjadi juru bahasa dan penterjemah selama ke 20 peserta mengikuti pendidikan dan pelatihan di BDTBT Sawahlunto.

Kepada wartawan koran ini, Abull Qasim mengungkapkan, pelatihan di BDTBT berakhir, Selasa (8/10) ini, namun masih berlanjut di Bandung hingga November nanti. Selama di Sawahlunto mereka merasa sangat puas, banyak ilmu diperoleh. Senang berada di  Sawahlunto, karena warganya ramah, penuh persaudaraan, sebuah negeri yang indah, aman dan nyaman.

“Peserta sangat puas, Indonesia sangat berpengalaman dibidang tambang bawah tanah. Di negara kami sangat sedikit sekali para ahli tambang. Untuk itulah kami antusias mengikuti pelatihan, karena kami tengah bertransformasi memulai penambangan dengan teknik dan sistim tambang bawah tanah.”ungkap Abull Qasim.

“Kami sudah banyak menimba ilmu yang sama di berbagai negara lai diantaranya India dan Turki. Yang paling kami sukai adalah Indonesia.” sambungnya.

Sementara, Hendri Agus, pejabat Diklat BPSDM ESDM di dampingi Afria Wulan Munir, staf BDTBT menyebutkan, program ini berlangsung dari 5 Agustus dan  berakhir 25 November 2019 nanti. Pelatihan ini merupakan program Capacity Building, dilaksanakan atas komitmen Pemerintah Indonesia  membantu Afghanistan, dan programnya disesuaikan dengan kondisi Afghanistan yang memiliki sumber daya alam seperti migas, mineral, dan batubara.

Lebih jauh menurut Hendri, rombongan ini termasuk gelombang pertama 65 peserta, termasuk  20 orang ke Sawahlunto. Sisanya 30 orang dikirim ke PPSDM Migas, Cepu, Jawa Tengah. Dibagi dua,15 peserta ikut pelatihan Welder Level III selama 86 hari, dan 15 lain ikut pelatihan Maintenance Technician and Training of Trainer HSE and Basic Fire Fighting for Petroleum Industry selama 107 hari.

Lainnya, 15 orang mengikuti diklat di PPSDM Geominerba, 15 ikut pelatihan Coal and Mineral Policy Courses selama 27 hari, dan Coal and Mineral Mining Courses selama 113 hari. Dan Mining Economic Feasibility Courses untuk 15 peserta selama 33 hari, serta Coal and Mineral Analysis Courses bagi 20 peserta selama 64 hari.(IY)

 

 

 

 

Share :
You might also like