Low Cost Tourism, Vitria Ariani : Homestay Butuh Pendampingan Dan Kearifan Lokal

Sawahlunto, airmagz.com -Pertumbuhan industri homestay di tanah air mampu menjadi solusi bagi wisatawan di segmen low cost tourism, karena sektor ekonomi kerakyatan ini bisa tumbuh dan berkembang dalam dinamika pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal itu sejalan dengan konsep yang dikembangkan Asosiasi Homestay Sawahlunto, Sumatera Barat. Meski dikelola oleh kalangan empowering oma-oma atau senior cityzen secara sporadis, tapi kehadirannya terbukti memberi kontribusi bagi kota tambang ini dalam menyongsong visinya “Sawahlunto Kota Wisata Tambang Berbudaya tahun 2020”.

Potensi ini sekaligus untuk menghadapi berbagai prediksi akan membanjirnya kalangan turis dari berbagai belahan dunia datang ke kota tambang heritage ini,   pasca ditetapkannya Ombilin Coal Mine  Heritage of Sawahlunto sebagai World Heritage UNESCO, pertengahan tahun ini.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Pedesaan dan Perkotaan, Vitria Ariani, dalam pembicaraan khusus bersama airmagz.com mengemukakan, pertumbuhan homestay sebagai sebuah insustri cukup mendapat tempat dikalangan wisatawan, selain dikatagorikan sebagai low cost tourism,.Homestay adalah rumah inap dengan konsep bagaikan dirumah sendiri.

Namun, yang paling penting menurut Vitria, para pengelola harus diberikan pendampingan,baik tentang struktur fisik bangunan, ornamen-ornamen yang menggambarkan budaya kultur dan budaya setempat, dilengkapi dengan adanya atraksi kebudayaan yang ditampilkan di homestay supaya lebih menarik, menghibur wisatawan yang menginap.

Menurutnya, homestay Sawahlunto cukup unik,  punya kekuatan karena terletak dilingkungan Ombilin Mine Heritage. Namun pengelolaannya masih empowering oma-oma atau senior citizen yang butuh pendampingan. Sebab, mereka dituntut profesional soal manajemen pengelolan homestay. Inilah yang membuat mereka perlu diprhatikan dan diberikan pendampingan.

Dalam pengelolaan homestay yang terbaik adalah pendampingan, karena pendampingan adalah kata kunci, jika kita bicara banyak soal apapun yang berhubungan dengan komunitas pengembangan. Apalagi homestay merupakan rumah warga yang kamarnya bisa dijadikan tempat inap atau akomudasi.

Bicara homestay sebagai struktur  dan ruang, tentu ada bangunan fisik dan kamar sebagai acomodation amenities, dilengkapi dengan atraksi yang diciptakan dari kearifan lokal yang terjaga.  Misal, Sawahlunto ini sangat kolonial banget, sesuatu yang menarik jika dilengkapi berbagai atraksi kultur dan budaya. Begitu juga ornamennya dengan sentuhan kearifan lokal misalnya seperti songket.

“Bicara sebagai ruang, itu, tadi, homestay sebagai fasilitas inap harus diperkaya dengan kearifan lokal masyarakat setempat. Yang pasti, dari aktifitas yang dibangun, akan ada pengalaman, keramahtamahan, ada nilai edukatif dan ilmu pengetahuan yang bisa dibawa wisatawan. Contoh, anda datang ke Sawahlunto, anda belajar soal Sawahlunto, atraksinya ? bisa buat rendang dan masakan ala Minang” ungkap perempuan tangkas ini.

“Ini adalah sesuatu hal yang menarik dan uniqness bagi homestay. Jadi, struktur dan ruang jadi body and soul tak boleh lepas dan di kesampingkan”. tukuknya.

Vitria mengingatkan, kalau mau berdaya saing menyambut Sawahlunto sebagai  word heritage UNESCO, maka pengelola homestay harus siap dengan segala perubahan dan perkembangan teknologi dan aplikasi yang digunakan. Karena nanti akan ada promosi yang luar biasa, dimana orang akan datang melihat tambang bawah tanah satu-satunya yang ada di Indonesia.

Ingat, perhatikan toiletnya seperti apa, kemudian kamar tidurnya seperti apa, karena ada pakem-pakem yang harus dijalankan. Homestay itu walau sebagai ruang tidur tapi juga harus punya ruang kenyamanan yang dilengkapi dengan ornamen-ornamen tradisionil dengan gimik menarik serta ventilasi udara, sehingga akan terbangun aura kenyamanan dan keindahan bagi wisatawan.

“Homestay boleh membuat aturan sendiri dan kearifannya sendiri, apalagi ada asosiasi yang mengatur itu. dan asosiasi harus profesional, serta mampu jadi milenial atau paling tidak berpikirnya milenial dan paham dengan teknologi. Saran saya, setiap homestay upayakan ada Wi fi” katanya mengakhir pembicaraan.

Sementara itu, Doto Yugantoro,  praktisi Desa Wisata, mengomentari perihal kemajuan homestay Sawahlunto. Menurut dia, hiomestay sawahlunto merupakan sebuah produk akomodasi yang lain karena mengakar di masyarakat, serta mendapat dukungan dari pemerintah setempat.

Tetapi, ulas Doto, jika ingin mengejar standar homestay Asean, homestay sawahlunto harus memperkuatnya dengan menambahkan berbagai atraksi berbasis masyarakat dengan budaya alam da kreatifitas.

“Saran saya, perlu regulasi untuk mengurangi persaingan bebas dengan mengatur jumlah maksimal kamar bagi homestay. Kemudian harga kamar yang disesuaikan dengan kelasnya. Terakhir, adalah hospitality yang harus diterapkan dengan standar layanan prima.” ujar Doto, mengapresiasi Asosiasi Homestay Sawahlunto, dibawah pimpinan Hj.Kamsri Benti,SE. (IY).

Share :
You might also like