Di Embargo Amerika, Turki Siap Merapat ke Rusia

Jakarta, airmagz.com – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengancam akan semakin mempererat hubungan militer dengan Rusia, kecuali jika Amerika mencabut embargo penjualan pesawat tempurnya.

Peringatan itu disampaikan menjelang pertemuan Presiden Erdogan dan Presiden Donald Trump, yang direncanakan akan berlangsung minggu depan.

Turki dijadwalkan membeli pesawat jet tempur terbaru Rusia, Su-35. Negara itu telah memprovokasi peringatan di antara sekutu-sekutu Barat dengan pengadaan sistem rudal Rusia, S-400.

“Ketika kami membeli S-400, kami tidak meminta izin siapa pun. Jadi jika kami membuat keputusan, kami akan membeli Su-35,” tegas Erdogan.

Erdogan mengindikasikan keputusan akhir tentang pembelian pesawat jet tempur Rusia itu mungkin ada di tangan Amerika. Ia menyerukan Trump untuk mencabut embargo penjualan pesawat jet tempur F35 Amerika ke Turki.

Amerika memberlakukan embargo itu sebagai pembalasan atas pengadaan sistem rudal S400 Rusia, yang menurut Amerika tidak sesuai dengan standar sistem senjata NATO, khususnya teknologi siluman F35.

“Jika masalah F35 tidak terselesaikan, kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan,” tambah Erdogan.

Presiden Rusia Vladimir Putin pada bulan Agustus lalu telah menjamu Erdogan di sebuah pertunjukkan udara, yang ikut memamerkan Su35.

Oktober lalu surat kabar Turki “Daily Sabah” – yang memiliki hubungan dekat dengan pemerintah – melaporkan bahwa Turki hampir menyelesaikan pembelian 36 pesawat jet tempur Rusia.

Kepala Badan Kerja Sama Militer dan Teknis Rusia RFSMTC Dmitry Shugayev bulan lalu membenarkan bahwa sedang dilakukan pembicaraan tentang pengiriman dan kemungkinan produksi bersama Su35 dan pesawat yang lebih canggih lainnya, yaitu Su57, yang belum diproduksi penuh. Shugayev mengakui kontrak itu belum ditandatangani.

Peningkatan pengadaan peralatan militer Turki itu menggarisbawahi perkembangan hubungan Putin dan Erdogan. Tetapi pembelian pesawat jet tempur Su35 dipandang akan membawa hubungan Rusia-Turki ke tingkat baru, yang sebaliknya justru merugikan hubungan NATO-Ankara. (IMN/VOAIndonesia.com)

Share :
You might also like