Tingkatkan Pelayanan Perhubungan dan Transportasi: Dishub Daerah Disarankan Adopsi Artificial Intelligence

Jakarta, airmagz.com – Artificial Intelligence (AI) bukan lagi barang yang aneh di era revolusi industri 4.0. Keberadaannya sudah dimanfaatkan banyak orang untuk menyelesaikan masalah. Salah satunya AI bisa diadopsi untuk mengurai masalah kemacetan di kota-kota besar yang tak kunjung terselesaikan.

Dalam upaya mewujudkan hal itu, Aliansi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (AKAPSI) menggandeng Nodeflux guna memberikan pemahaman tentang AI kepada 22 perwakilan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten di Indonesia.

Sekretaris Jenderal AKAPSI, Najmul Akhyar mengungkapkan dengan adanya kolaborasi dari perusahaan teknologi berbasis Vision AI seperti Nodeflux, dapat membantu setiap aparat sipil negara (ASN) di setiap daerah untuk mempercepat pembangunan.

“Untuk membangun pola pikir, karakter, serta sikap dari masyarakat dengan berorientasi pada kearifan lokal dan tidak mengacuhkan perhatian pada usaha pemberdayaan masyarakat dengan memberikan solusi berbasis teknologi ini, termasuk dalam mendukung peningkatan kualitas layanan di sektor perhubungan dan transportasi,” katanya.

Pelayanan publik dan era revolusi Industri 4.0 saat ini, sambung Najmul, pada dasarnya telah diakomodir dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, dimana pelayanan publik harus memilki sistem yang dapat memberikan kemudahan kepada masyarakat. Selain itu, terbitnya Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 95 Tahun 2018 tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). 

Direktur Angkutan Darat, Ahmad Yani mengatakan bahwa perkembangan teknologi adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari.

“Saya mengajak daerah-daerah lain yang belum menggunakan teknologi ini untuk segera menggunakan dengan bekerjasama dengan Nodeflux,  kalo pemerintah daerah belum bisa pemerintah pusat akan berusaha membantu,” jelasnya di Ballroom Kantor Sekretariat APKASI, Sahid Sudirman Center, Jakarta Pusat, Selasa (26/11).

Ia mengungkapkan Bidang Angkutan Darat sekarang ini sedang mengembangkan Area Traffic  Contorol System (ATCS) di kurang lebih 60 Kabupaten.

Ahmad Yani menambahkan, sejak tahun 90-an sebenarnya sudah ada jenis alat yang mirip dengan yang dikembangkan oleh Nodeflux, alat itu bisa menghitung jumlah kendaraan yang lewat dalam satu kawasan, tapi harganya sangat mahal.

Dengan adanya Nodeflux diharapkan biaya untuk alat pantau lalu lintas ini bisa lebih murah, karena yang produksinya anak bangsa sendiri.

“Kita harus berdayakan anak muda Indonesia, kita dorong penggunaan AI ini dalam menangani transportasi,” pungkasnya. (IH)

Share :
You might also like