Pernah Jaya, Maskapai-Maskapai Ini Kini Tinggal Kenangan

Jakarta, airmagz.com – Mengelola bisnis penerbangan bukanlah hal mudah. Sejumlah maskapai ini bangkrut karena rugi hingga dituntut serikat pekerjanya sendiri.

Sebagaimana diwartakan Forbes, 2019 bukanlah tahun yang mudah bagi industri penerbangan. Berbagai tantangan sepanjang tahun seperti kompetisi dengan maskapai berbiaya murah, harga bakan bakar yang tinggi, masalah upah pekerja, hingga biaya perawatan dan pembaruan armada, membuat maskapai di dunia harus bekerja keras.

Pekan ini, Hong Kong Airlines telah mendapatkan suntikan dana untuk menyelamatkannya dari kebangkrutan. Maskapai ini nasibnya masih lebih baik ketimbang Jet Airways di India, WOW dari Islandia, dan Thomas Cook dari Inggris yang tahun ini diputuskan gulung tikar.

Selain sejumlah maskapai itu, beberapa maskapai berikut ini juga gagal bertahan alias bangkrut. Ada siapa saja?

1. PanAm

PanAm merupakan salah satu maskapai terkenal di dunia bahkan sampai sekarang walaupun telah bangkrut pada 1991. PanAm dikenal sebagai maskapai yang mencetak perjalanan massal pada masa kejayaannya. Maskapai ini telah mengoperasikan pesawat terbesar kala itu, Boeing 747 jumbo jets. Ini membuatnya tak terkalahkan pada 1960-an.

Foto : dailymail.co.uk

Sayangnya ekspansi berlebihan yang mereka lakukan mulai berdampak negatif pada akhir 1970 hingga 1980-an. PanAm ternyata tidak bisa menghasilkan cukup uang karena harga bahan bakar yang naik dan terjadinya krisis minyak dunia pada 1973.

Selain itu, isu serikat pekerja dan peristiwa jatuhnya pesawat PanAm penerbangan 103 yang menewaskan 259 penumpang, akhirnya membuat pesawat ini gulung tikar.

2. Trans World Airlines (TWA)

TWA adalah maskapai yang digagas Howard Hughes, seorang insinyur yang sempat jadi salah satu orang terkaya di dunia. Hughes memiliki ambisi untuk bersaing dengan PanAm yang kala itu menjadi maskapai top di Amerika Serikat. Sama seperti PanAm, TWA kini menjadi ikon budaya dimana bekas terminal TWA telah disulap menjadi hotel di Bandara John F. Kennedy dan kota New York selama setahun terakhir.

Foto : whitebodyaircraft.nl

Pada masa jayanya, TWA melakukan pemesanan pesawat Boeing dalam skala besar supaya bisnisnya berkembang. Hughes bahkan telah menggunakan sumber keuangan terakhirnya untuk membeli pesawat. Kondisi ini akhirnya memaksa perusahaan untuk mulai menolak pengiriman pesawat dari produsen dalam upaya untuk menunda pembayaran.

TWA yang tengah mengalami krisis kemudian harus merelakan sejumlah jabatan diganti melalui konsorsium bank yang sebenarnya tidak sepenuhnya mendukung industri penerbangan.

Pada 1988, TWA telah dihantui sejumlah utang yang menumpuk. Mereka juga harus menjual rute London yang berharga pada American Airlines. Sejak saat itu, aset TWA semakin berkurang sampai akhirnya bangkrut pada 1992.

3. Laker Airways Skytrain

Rupanya ambisi bersaing dengan PanAm tak hanya dimiliki Hughes. Sosok lain yang ingin turut meramaikan industri penerbangan adalah Sir Freddy Laker. Beliau secara khusus memiliki visi untuk mengalahkan PanAm yang kala itu punya penerbangan melintasi Atlantik.

Foto : wikimedia

Laker akhirnya membeli pesawat DC-10 dan A300 yang melintasi Atlantik dengan harga setengah dari harga lainnya di pasaran. Sayangnya, kesalahan yang sama dari beberapa maskapai sebelumnya itu terulang kembali pada Laker.

Ekspansi berlebihan pada 1970-an membuat maskapai itu meminjam uang sebesar USD 270 juta atau sekitar Rp 3,8 triliun dengan tingkat bunga yang hanya bisa terbayar bila mereka berhasil melakukan ekspansi dengan cepat.

Laker gagal membayar utangnya sehingga pada 1982 maskapai ini bangkrut. Kegagalan itu disebut sebagai kegagalan bisnis terbesar di Inggris kala itu.

4. Ansett Australia

Foto : airlinesgeeks.com

Maskapai ini merupakan rival utama dari Qantas pada masanya. Berbeda nasib dengan Qantas yang sukses menguasai pasar dari dan menuju Australia, Ansett justru harus berjuang menghadapi masalah finansial. Pada September 2001, Ansett harus menyerah karena tak lagi bisa bertahan dalam bisnis tersebut.

5. Braniff International

Bagi para pecinta penerbangan mungkin ingat dengan maskapai Braniff. Maskapai asal Texas ini dulu terkenal dengan pesawat warna-warninya, mulai dari hijau sampai oranye.

Foto ; fineartamerica.com

Serupa dengan nasib maskapai pada masanya, Braniff juga mencoba melakukan ekspansi ke rute internasional. Namun upaya ini gagal karena pendapatannya tak bisa menutup biaya bahan bakar. Maskapai ini akhirnya juga harus menelan pil pahit dengan menutup bisnisnya dan bangkrut pada 1982 karena tak sanggup membayar utang.

6. Eastern Air Lines

Eastern Air Lines merupakan contoh maskapai yang gulung tikar karena hubungan tak akur dengan pegawainya. Kendati brand dari pesawat itu masih kerap diperebutkan investor, mereka tak bisa mengingkari sejarah masa lalunya yaitu aksi mogok yang dilakukan serikat pekerja.

Foto : fortune.com

Pada 1984, maskapai ini memberikan 25 persen saham perusahaan pada 38 ribu pekerjanya agar 190 penerbangan tetap berjalan. Akan tetapi, aksi mogok itu tidak berhenti hingga maskapai yang berbasis di Miami ini tutup lapak pada 1991.

7. Interflug

Foto : pinterest.com

Jerman dulu punya maskapai pesaing Luthansa, namanya Interflug. Maskapai ini dulunya difungsikan untuk penerbangan masyarakat Jerman Timur namun setelah reunifikasi Jerman, maskapai ini kalah saing dengan Luthansa. Interflug gagal menemukan pembeli bisnisnya pada 1991 dan akhirnya berhenti beroperasi.

8. Transaero

Foto : ruaviation.com

Transero pernah menjadi kompetitor Aeroflot di Rusia. Setelah beberapa tahun merasakan kesuksesan, Transaero terjebak utang sebesar USD 4 jua atau sekitar Rp 56 triliun. Maskapai ini harus bernasib sama seperti maskapai lainnya yang gagal mendapatkan bantuan dana. Mereka berhenti beroperasi pada 2015.

9. Monarch dan Thomas Cook Airlines

Foto : thesun.co.uk

Kedua maskapai ini bisa disebut gagal karena kondisi pasar daripada strategi ekspansi yang terlalu agresif. Mereka kalah saing dengan maskapai berbiaya rendah dari Eropa seperti Ryanair dan EasyJet yang lebih banyak membuka rute.

Foto : campaignlive.com

Keduanya telah mencoba untuk mengurangi beberapa rute untuk mempertahankan keuntungan. Namun kenaikan biaya bahan bakar dan pembatalan paksa rute tujuan Mesir dan Turki membuat maskapai itu tidak bisa bertahan lagi

10. Sabena

Sabena adalah maskapai nasional Belgia yang telah beroperasi selama 78 tahun sampai mereka tidak bisa mendapatkan investasi lagi pada 2001. Maskapai ini gagal mendapatkan bailout karena mendapatkan protes dari para pegawai Sabena. Ditambah lagi, operator lain mengalihkan penerbangan dari ibukota Belgia.

Foto : wikipedia

Aturan Komisi Eropa tentang bantuan negara mencegah pemerintah Belgia untuk turun tangan memberikan dukungan pada maskapai. Hal ini juga dipengaruhi situasi politik pada masa itu yang tak menguntungkan maskapai.

11. Mexicana

Foto : pinterest.com

Dari seluruh daftar maskapai bangkrut, Mexicana menjadi salah satu yang paling lama beroperasi yaitu dari 1928 hingga 2010. Sedihnya, maskapai terbesar di Meksiko itu akhirnya gagal bertahan akibat kontrak kerja yang mahal. Maskapai ini tidak mendapatkan dana talangan atau investasi untuk melanjutkan bisnisnya.

12. Air Berlin

Sebagai maskapai ternama, bangkrutnya Air Berlin sempat disayangkan berbagai pihak termasuk para penumpang setianya. Tak cuma kehilangan brand penerbangan, Air Berlin juga melelang sejumlah barang bermerek milik mereka mulai dari makanan sampai kursi penumpang.

Foto : thelocal.de

Etihad menolak untuk memberikan lebih banyak uang ke maskapai yang merugi ini. Kerugian dari maskapai terbesar keempat di Eropa ini memang terus meningkat sampai USD 900 juta atau sekitar Rp 12,6 triliun selama lebih dari 2 tahun. (IMN/Detik.com)

Share :
You might also like