Bisnis Penerbangan Komersial Tahun 2020 Diprediksi Tetap Optimis

Oleh : Arista Atmadjati SE.MM 

Pengamat Penerbangan

Dengan jumlah penduduk Indonesia saat kini yang mencapai sekitar 268 juta orang, tak pelak jumlah traffic penumpang udara di Indonesia dalam satu dekade terakhir telah meningkat dengan tajam. Bahkan beberapa analis penerbangan di tanah air memperkirakan jumlah penumpang udara di Indonesia pada 2019 rasanya akan  bisa menembus 100 juta penumpang di pasar domestik saja.

Di Indonesia saat ini tercatat ada 237 bandara kecil sampai dengan bandara berlabel international. Data dari Kemeterian Perhubungan menyebutkan bandara aktif komersial yang dipergunakan secara regular ada 76 bandara dimana sekitar 30 bandara dikelola oleh  PT Angkasa Pura I dan II yang tersebar mulai Aceh sampai dengan Papua. Itulah beberapa penopang revenue, jumlah traffic pesawat dan penumpang di Indonesia. Tak pelak sejak 2003, pertumbuhan penumpang komersial kita selalu bertumbuh diatas angka dua digit dan tidak pernah turun dua digit sampai dengan detik ini.

Kebangkitan bisnis penerbangan niaga di Indonesia dalam lima tahun belakangan ini memang sungguh luar biasa. Salah satunya Susi Air, maskapai komuter yang didirikan pada 2007, sangat pesat perkembangannya dalam waktu empat tahun terakhir ini. Armadanya saat ini sudah mendekati sekitar 45 pesawat turbo propeller jenis grand caravan berpenumpang 12 seater ke atas sampai dengan 20 seater.

Lanskap bisnis aviasi di daerah juga menggeliat. Di daerah pelosok tanah air banyak sekali tumbuh maskapai operator yang kelas komuter seperti TransNusa di NTB serta sudah mulai ekspansi ke penerbangan intra Sulawesi dan Kalimantan. Ada juga Aviastar, Express Air yang melayani beberapa kabupaten di Kalimantan dari kota-kota di Yogyakarta dan Solo.

Kita baru menyadari kalau potensi traffic udara di Indonesia saat ini sungguh luar biasa besar. Bahkan pilot asing dari Eropa dan Selandia Baru mau bergabung dengan maskapai Susi Air karena pilot Indonesia lebih memilih menjadi pilot pesawat bermesin full jet dan maskapai besar di Indonesia. Mereka sekedar mengejar jam terbang di Indonesia walau gajinya tidak terlalu besar. Apalagi bisnis penerbangan komersial di Eropa sedang lesu sehingga banyak flight dikurangi.

Dua contoh yang bisa dilihat setelah kasus kecelakaan pesawat, masyarakat baru tahu bahwa pilot fan FO dari luar negeri. Pilot dari India di JT610 dan FO QZ 8501 dari Karibia membuktikan FO-First Officer  dan Pilot asing terbang di Indonesia menjadi sebuah kenyataan dan potensi aviasi kita dilirik dunia.

Jumlah armada pesawat komersial di Indonesia pada 2011 cuma ada sekitar 300 pesawat, tahun 2019 ini diperkirakan  tidak kurang dari 2.000 pesawat komersial yang melayani 2000 traffic sehari di langit Indonesia.  Jumlah penumpang domestik yang diangkut sekitar 80 juta dengan uang yang berputar di atas Rp20 triliun. Ini menunjukkan kekuatan ekonomi kita di bisnis penerbangan yang mempengaruhi bisnis yang lain misalnya perhotelan, pariwisata dan logistik antar pulau.

Sebagai gambaran dengan beberapa negara tetangga kita, seperti Singapura dengan jumlah penduduk hanya sekitar 6 juta orang bisa mendapatkan penumpangnya 30 juta per tahun. Amerika Serikat dengan jumlah penduduk 300 jutaan mempunyai armada pesawat komersial 3000 pesawat. Australia dengan jumlah penduduk 23 juta penumpang yang diangkut per tahun mencapai 71 juta.

Jadi idealnya Indonesia dengan dengan jumlah penduduk 262 juta harusnya jumlah pesawat yang tersedia mencapai 2.000 armada. Dengan jumlah penumpang setahun bisa mencapai 262 juta penumpang/tahun  jika rasio orang Indonesia akan naik pesawat minimal 1x kali per tahun. Apalagi mengingat negara kita adalah kepulauan yang memerlukan mobilitas dengan kecepatan yang cepat di era modern saat kini.

Jadi memang potensi penumpang udara kita masih sangat luar berkembang lagi ke masa depannya.. Harapan selalu ada dengan banyak di upgrade nya kapasitas runway bandara bandara di Indonesia serta muncul pula banadara baru seperti Kertajati di Jawa Barat serta Bandara Yogyakarta Internasional di Kulon Progo, DIY. Lebih baik bandara Hussein Sastranegara di Bandung dan Bandara Adi Sucipto di Yogya, tidak ditutup untuk penerbangan komersial. Ini artinya memang ada penambahan kapasitas traffic di tahun 2020 yang cukup memadai.

Tantangan

Ini semua menunjukkan betapa langit di Indonesia memang memiliki potensi finasial yang dahsyat. Tony Tyler , mantan Chairman IATA waktu berkunjung  di Jakarta memprediksi perkembangan market penerbangan niaga di Asia Pasifik beberapa tahun ke depan yang paling besar adalah Tiongkok, India, dan Indonesia.

Tak heran sampai dengan 2020 di Indonesia akan tetap memerlukan sumber daya baru sekitar dua juta di bidang penerbangan mulai dari pilot, pramugari , staf mekanik, staf reservasi, staf tiket, dan karyawan karyawan di bandara di seluruh Indonesia.

Perkembangan pertumbuhan bisnis yang konsisten pesat bukannya tanpa kendala. Masih banyak yang bisa dilakukan oleh otoritas penerbangan di Indonesia, misal saja operating hours (jam kerja) di bandara bandara di luar Jawa masih  sangat terbatas,l. Ini maslah yang sudah lama.

Belum lagi equipment ILS  (Intrument Landing System) yang tidak merata di bandara bandara remote area luar  pulau, sangat membatasi utilisasi pesawat kita. Pasalnya, sebelum waktu magbrib harus kembali ke home basenya, misal ke Makassar, Denpasar atau Medan agar tidak terjebak kegelapan jika hanya mengandalkan visibility mata sang pilot semata sangat berbahaya bagi keselamatan penerbangan.

Hampir semua bandara kelas dua tidak mungkin membuka penerbangan malam karena kekurangan sumber daya manusia, dan minimalnya fasilitas. Ini sungguh sebuah pekerjaan besar bagi kita untuk mengoptimalkan pasar potensi bisnis penerbangan di Indonesia .

Belum lagi tahun 2019 antara maskapai dan pemerintah terjadi tarik ulur tentang penetapan tarif yang reasonable bagi masayarakat dan kehidupan kelangsungan hidup maskapai itu sendiri. Maskapai menerapkan tarif batas atas masih dinilai terlalu tinggi bagi masyarakat dan perhotelan, tapi bagaimanapun juga maskapai perlu untung. Menurut saya , jalan terbaiknya berilah insentif insentif ke dunia penerbangan kita, khususnya bagi import terbatas spare parts, perlu diberikan insentif pajak import.

Posisi kita yang lebih strategis, dengan jumlah penduduk yang besar, letak geografis yang luas, serta indikator pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, diperkirakan 2020 Indonesia masih mencapai pertumbuhan ekonomi 5,1 %. Logika bisnis masih ada pergerakan arus penumpang domestik karena growth ekonomi 5,1% di tahun 2020 masih diatas rata rata growth di negara-negara ASEAN dan Asia .

Angka positif  ini merupakan daya tarik Indonesia yang sangat kuat dan Indonesia harus mengambil sikap yang menguntungkan dalam setiap air talk bilateral di antara negara ASEAN.

Hal yang perlu diperhatikan dengan semakin meningkat pesatnya pertumbuhan bisnis penerbangan di Indonesia adalah unsur keselamatan, agar penumpang juga nyaman selama menikmati jasa penerbangan setimpal dengan harga tiket yang mereka beli.

Bersyukur dunia keselamatan udara Indonesia pada 2017 lalu meraih capaian yang memuaskan dari ICAO dan FAA dengan meraih peringkat pertama FAA dan score 81,5 dari ICAO untuk keselamatan penerbangan. Semoga pekerjaan-pekerjaan besar tersebut bisa segera dicari jalan keluarnya.

Pemerintah  tidak mustahil mengundang investor untuk segera membenahi fasiltas kebandarudaraan sehingga potensi bisnis penerbangan di Indonesia akan terwujud dalam waktu tidak lama lagi. Tentu dengan tetap mengutamakan faktor kenyamanan dan keselamatan penerbangan serta menjadi raja di langitnya sendiri.

Share :
You might also like