Ini Kata Garuda Indonesia Soal Mahalnya Tiket Pesawat

Jakarta, airmagz.com – Perusahaan penerbangan nasional, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., menyebut terpaksa menerapkan biaya tiket yang tergolong tinggi lantaran mempertimbangkan sejumlah indikator kesehatan keuangan perseroan. Keterangan tersebut mencuat usai penyelenggaraan Public Expose yang digelar di Garuda City, Komplek Bandara Soekarno-Hatta, 27 Desember 2019.

Dalam laporan yang ditandatangani oleh Plt. Direktur Utama Garuda Indonesia, Fuad Rizal, perusahaan plat merah itu mengaku mengalami kerugian kala menjual tiket dalam kisaran 60% di bawah level batas atas pada periode 2016. Padahal, saat itu tingkat price competition-nya cukup tinggi. Untuk itulah, Garuda kemudian melakukan beberapa penyesuaian terhadap biaya operasional, salah satunya adalah tiket pesawat.

“Garuda Indonesia memang BUMN, namun kami juga ditargetkan untuk tetap untung justru dengan memperhatikan semua aspek salah satunya juga investor, [sehingga] kami melakukan penyesuaian tarif ini,” ujar Fuad dalam keterangan tertulis, seperti yang dikutip Tagar, Minggu, 5 Januari 2020.

Lebih lanjut, bos maskapai penerbangan nasional itu berusaha untuk menjaga kinerja keuangan perseroan agar tetap berada di jalur hijau atau sehat. Sebab, apabila terindikasi merugi dalam laporan keuangan, maka akan berdampak pada penurunan harga saham Garuda di lantai bursa. Dalam hitungannya, valuasi saham Garuda bahkan diprediksi bisa terjun bebas ke angka Rp200-an perlembar saham. Untuk itu, penaikan tarif tiket pesawat menjadi cara perseroan untuk mengatrol harga saham agar tetap pada nilai terbaiknya, yaitu Rp500-an perlembar.

“Kenaikan tarif ini menjaga kami untuk terus berkinerja positif, selain kondisi fundamental perseroan yang cukup baik,” tegas dia. Langkah ini turut pula diyakini sebagai dasar meningkatnya level kepercayaan investor pada emiten dengan kode saham GIAA itu. Dalam kesempatan tersebut, Fuad juga memberikan penjelasannya bahwa langkah strategis Garuda menaikan harga tiket pesawat masih dalam koridor hukum sesuai dengan ketetapan Kementerian Perhubungan saat ini.

Adapun terkait rencana ekspansi pada 2020, Garuda disebut-sebut bakal fokus pada pengembangan beberapa rute internasional. Keseriusan tersebut nampak pada upaya perseroan dalam mengoptimalkan jaringan mancanegara melalui alliance skyteam dan non-alliance skyteam. Sehingga, diharapakan dapat menambah lalu lintas penumpang yang lebih banyak, baik pada tingkatan internasional maupun domestik. Selain itu, Garuda juga disebut-sebut akan terus memperluas cakupan bisnis kargo di masa mendatang.

“Untuk rencana buka rute masih ada di RKAP [Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan], mungkin detailnya akan disampaikan apabila sudah mendapat approval,” katanya. (IMN/tagar.id)

Share :
You might also like