Terbanglah Tinggi Garuda!

Oleh : Marco Umbas

Pengamat Penerbangan

Dalam 15 tahun terakhir untuk PT Garuda Indonesia Tbk merupakan periode yang penuh keprihatinan, karena dalam kurun waktu tersebut telah ‘memakan korban’, 2  Direktur Utama masuk ‘hotel prodeo’, 1 orang Direktur dalam status tersangka dan 1 Direktur Utama dalam proses penyelidikan!

Berdasarkan pengalaman diatas maka proses evaluasi pemilihan direksi BUMN seyogianya diperbaiki. Karena kalau hanya berdasarkan persyaratan sekarang yaitu integritas, kompetensi dan psikologi yang termaktub dalam Keputusan Menteri BUMN No: KEP-09A/MBU/2005 untuk pemilihan anggota direksi BUMN ternyata kurang efektif.

Kenyataannya bahwa godaan sangat menggiurkan baik keuangan maupun kekuasaan sehingga telah membuat khilaf beberapa anggota direksi. Walaupun hasil evaluasi integritas, kompetensi dan psikologi sangat baik namun tanpa didukung akhlak yang baik akan membawa perusahaan kejurang kehancuran.

Belajar dari kondisi unik Garuda tersebut maka peran dari Dewan Komisaris sebagai pengawas dan wakil pemegang saham di BUMN dalam batas-batas tertentu harus di perluas, seperti keluhan awak kabin Garuda yang sudah mengirimkan surat kepada pihak-pihak yang berwenang namun tidak mendapat respon memadai.

Lebih dari itu rekam jejak dalam pemilihan direksi BUMN menjadi faktor kunci untuk mengetahui integritas,kompetensi dan psikologi serta akhlak kandidat anggota direksi BUMN.

Apalagi untuk menjadikan Garuda group sebagai Respected Global Airlines dan kebanggaan bangsa, maka kandidat anggota direksi seyogianya mempunyai pengalaman internasional yang memadai agar dapat memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada untuk mewujudkan misi tersebut. Salah satu cara efektif mewujudkan misi tersebut adalah untuk lebih aktif mengikuti program Sky Team (Garuda sebagai anggota) untuk memperluas network sekaligus menjual rute-rute domestik dan program-program marketing yang dapat menciptakan revenue stream baru.

Setelah dilanda pemberitaan negative beberapa bulan terakhir sehingga diperlukan kampanye Image Recovery Program dimana menekankan pada transparant, honesty yet smart organization

Revitalisasi Bisnis Model yaitu mengembalikan arah perusahaan untuk fokus kepada bisnis inti dan best practice bisnis penerbangan yaitu Full Service Airlines dengan target market segment bisnis dan Low Cost Carrier dengan target market holiday maker dan Visit Friend Relative (VFR) segment serta pengembangan bisnis Kargo

Salah satu permasalahan nasional yang ramai dibicarakan adalah tingginya harga tiket pesawat dimana Garuda diduga mengadakan kartel. Didalam usaha untuk menurunkan tarif penerbangan adalah menurunkan biaya penerbangan,salah satunya dengan meningkatkan utilisasi pesawat. Tidak hanya menurunkan biaya avtur yang relative tidak dapat dikontrol karena mengkuti harga pasar internasional.

Berdasarkan Investor Meeting Garuda bahwa utilisasi pesawat tahun 2018 Q1 adalah 9 jam 39 M/hari menurun 7 jam 51 M/hari pada tahun 2019 Q1 kemudian 7 Jam 47 M/hari pada Q2 akibatnya biaya perunit meningkat sehingga dibutuhkan tingkat harga yang tertentu untuk menutupi biaya tersebut.

Apalagi kalau dibandingkan dengan Aircraft Utilization Airasia group tahun 2018 yaitu lebih dari 12 Jam/hari, dalam rangka menurunkan biaya operasi penerbangan sehingga dapat menawarkan harga jual yang relative murah.

Maka solusi peningkatan utilisasi pesawat dengan kombinasi implementasi Yield Management System, nischaya akan menurunkan tarif penerbangan dan meningkatkan pendapatan serta  pada gilirannya meningkatkan profitability perusahaan.

Melakukan penataan kembali program-program Human Resources (HR) dari mulai recruitment, retention dan development dalam rangka meningkatkan kompetensi HR untuk mengantisipasi penambahan pesawat baru, tehnologi pesawat baru, peningkatan layanan in flight service  dan perubahan peta bisnis penerbangan khususnya dalam era digitalisasi.

Untuk memuaskan kebutuhan target market utama Garuda yaitu middle up khususnya segment bisnis maka diharapkan segera dilakukan perubahan standarisasi pelayanan khususnya in flight service berdasarkan konsep layanan  Indonesia hospitality melalui 5 senses (sight, sound, scent, taste, and touch).

Program diatas merupakan Wildly Important Goal (WIG) selain program-program Divisi Operasi, Pelayanan, Keuangan, Pemasaran dan Tehnik dengan Key Performance Indicator (KPI) sehingga dapat dimonitor secara berkala agar target dapat tercapai.

Akhirnya untuk marancang Garuda yang tangguh dan mampu menang dalam setiap  ‘war’ and ‘battle’. Maka diperlukan Team Dewan Direksi yang kompak karena dilandasi saling percaya, saling komplementer dan saling mengingatkan sehingga tercipta semangat kebersamaan agar Visi, Misi dan Tujuan Perusahaan dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Selamat Tahun Baru 2020. Semoga ditahun yang baru, Garuda segera berbenah dan terbang lebih tinggi Amin

Share :
You might also like