Harus Semangat dan Pantang Menyerah

Jakarta, airmagz.com – Dua puluh tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi Dhias Widhiyati menapaki karirnya di PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Pengalamannya yang mumpuni itu, kemudian mengantarkan dia menerima amanah untuk bertugas di PT Bank BNI Syariah sejak Februari 2016.

Karena kemampuannya yang baik di bidang perbankan, Ibu tiga orang anak ini didapuk menjadi Senior Executive Vice President (SEVP) Bisnis Komersial dan Menengah BNI Syariah. Lagi-lagi, kinerjanya yang luar biasa membuat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BNI Syariah mengangkatnya sebagai Direktur Bisnis BNI Syariah pada  23 Maret 2017.

“Saya masih tergolong baru di syariah. Karenanya masih belajar dan  tanya sana-sini. Saya tidak malu untuk belajar dengan siapapun dan hal ini juga yang saya sampaikan kepada teman-teman. Jangan malu bertanya kalau memang tidak tahu, dan jangan malu jika memang ingin terus belajar,” ujar Dhias kepada Airmagz pertengahan November di ruang kerjanya.

Dhias mengatakan proses belajar juga dapat diperoleh dari hasil bertanya kepada siapapun. Soal belajar, kelahiran Semarang, 15 Juli 1970 ini mengaku memiliki kenangan tersendiri.

“Belajar dan sekolah setinggi mungkin. Ayah saya menyampaikan belajar, sekolah agar bisa menjadi manusia yang mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Termasuk bagi seorang wanita,” kata Dhias mengenang almarhum ayah.

Semangatnya dalam bekerja dan pantang menyerah, kata Dhias, merupakan hasil didikan orang tua. “Kami dididik dengan disiplin dan tidak ada kata, tidak bisa. Jadi berusaha dulu. Kalau mentok, kemudian tidak bisa apa-apa, baru bisa ngomong, aku sudah berusaha tapi tidak bisa,” kenangnya.

Pola motivasi tersebutlah yang dia terapkan di jajaran internal BNI Syariah, khususnya yang berkoordinasi langsung dengan dirinya. “Jadi kalau sudah lebih dahulu mengatakan tidak bisa, maka saya ‘lumat’ dulu. Kira-kira sudah berusaha sampai sejauh mana dan  baru sampaikan, sudah usaha tapi ternyata tidak bisa,” lanjutnya.

Menurutnya, segala sesuatu baik keberhasilan maupun kegagalan dalam bekerja, didasari suatu alasan. “Jika misalnya, ada ketentuan yang isinya kita tidak bisa jalankan. Atau, kalau kita jalankan ada risikonya. Dan apakah risikonya bisa kita mitigasi? Kalau sifatnya eksternal dan mandatori, kami tidak akan melanggar,” tegas Dhias.

Pemilik hobi makan yang juga memelihara kucing ini mengatakan, setiap orang harus memiliki kemampuan. Tujuannya tak lain untuk meningkatkan nilai si orang itu sendiri.

Nah, untuk meningkatkan nilai dimaksud, Dhias mengatakan, bisa diperoleh dari bertanya serta belajar dari orang lain. Serta yang terpenting adalah sekolah. Menurutnya, kesadaran untuk meningkatkan atau menambah skills maupun soft skills, perlu terus ditingkatkan oleh siapapun.n (MP/AVE)

Share :
You might also like