Pesawat Ukraina Ditembak, Kanada Salahkan Konflik AS-Iran

Jakarta, airmagz.com – Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, menyesalkan kepergian 57 orang warganya dalam insiden jatuhnya pesawat maskapai Ukraine International Airlines akibat tertembak rudal usai lepas landas dari Bandara Imam Khomeini, Iran.

Menurut dia jika pertikaian Amerika Serikat dengan Iran yang menyebabkan tensi di Timur Tengah meninggi tidak terjadi, maka kemungkinan 176 awak dan penumpang yang ada di pesawat itu masih hidup hari ini.

“Seandainya tidak ada peningkatan ketegangan di kawasan tersebut, seluruh warga Kanada yang ada di pesawat itu akan berada di rumah bersama keluarga mereka. Ini yang terjadi ketika meletus perang dan konflik. Warga tak bersalah akan menjadi korban,” kata Trudeau dalam wawancara dengan stasiun televisi Global News, seperti dikutip Associated Press, Selasa (14/1).

Sejumlah warga Kanada, termasuk petinggi perusahaan ternama, menyalahkan Presiden AS, Donald Trump, atas insiden tersebut. Namun, Trudeau menghindari menuduh para pemimpin negara yang tengah terlibat konflik di Timur Tengah dan mengatakan sudah menyampaikan pernyataan terkait kejadian itu kepada Trump.

“Saya sudah berbicara soal rasa duka dan kehilangan yang sangat mendalam yang dirasakan seluruh warga Kanada, dan mereka membutuhkan jawaban tegas dan jelas tentang bagaimana insiden itu terjadi, dan memastikan hal tersebut tidak terjadi lagi,” ujar Trudeau.

Trudeau juga menyampaikan kekecewaan dengan sikap Trump yang tidak berkomunikasi terlebih dulu dengannya ketika akan menggelar serangan udara yang menewaskan seorang perwira tinggi militer Iran, Jenderal Qasem Soleimani, pada 3 Januari lalu. Sebab, dia mengatakan Kanada juga mengirim tentaranya ke Irak dalam misi pelatihan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Di sisi lain, Trudeau mendesak pemerintah Iran untuk mengadili pihak-pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Dewan Keamanan Perhubungan Kanada (TSB) menyatakan sudah menerima undangan dari Iran untuk menyelidiki kejadian tersebut, dan menganalisis rekaman penerbangan pesawat dari kotak hitam. Padahal, pesawat itu bukan dibuat di Kanada, dan kejadiannya pun bukan di negara tersebut.

“Kami akan bekerja keras untuk membangun kepercayaan. Peran Kanada akan terus berkembang,” kata Ketua TSB, Kathy Fox.

Direktur Penyelidikan Natacha Van Themsche menyatakan mereka bakal mendatangi lokasi jatuhnya pesawat. Mereka juga bakal mengusut mengapa Iran tidak menutup lalu lintas udara bagi penerbangan sipil ketika menggelar serangan peluru kendali ke dua pangkalan militer AS di Irak.

Sebanyak 138 penumpang pesawat Boeing 737 nomor penerbangan PS752 yang nahas itu berencana menuju Kanada. Mereka terdiri dari mahasiswa, pasangan suami istri yang baru menikah, dokter, orang tua dan anak berusia satu tahun.

Korban meninggal dalam pesawat itu berasal dari Afghanistan, Ukraina, Iran, Swedia, Inggris dan Jerman. Seluruh menteri luar negeri dari negara korban insiden akan bertemu di London pada Kamis mendatang untuk membahas soal penyelidikan dan santunan bagi keluarga korban. (IMN/CNNIndonesia.com)

Share :
You might also like