Tantangan Awal Tahun Dunia Penerbangan Nasional

 Oleh Marco Umbas

Tantangan dunia Penerbangan Indonesia diawal tahun 2020 dimulai dengan pergantian Direksi Garuda Indonesia, yang mencanangkan program baru yaitu Safety, perbaikan layanan dan Profitability. Namun reaksi capital market cenderung negatif terbukti bahwa nilai saham Garuda telah melorot dari 440 pada saat  RUPSLB tanggal 22 Januari 2020 ke level 380 pada tgl 6 Februari  atau turun 60 point.

Kemudian  kejutan baru muncul dengan adanya laporan Serious Fraud Office (SFO) United Kingdom sehingga telah mengakibatkan President Direktur Airasia Group, Tony Fernandez mundur sementara. Lebih jauh  dalam laporan tersebut juga terdapat dugaan korupsi Garuda/Citilink dari tahun 2011-2014 atas pembeliaan Airbus 320.

Penurunan harga saham  diatas tidak terlepas dari mewabahnya virus Corona yang menyebabkan penutupan penerbangan dari dan ke China mulai 5 Februari 2020. Tentunya hal demikian akan menyebabkan terdapatnya pesawat yang nganggur khususnya untuk Garuda Group dan Lion Group karena tidak dapat terbang sesuai dengan jadwal penerbangan. Lebih lanjut akan mengakibatkan profitability operator  penerbangan akan menurun pada kuartal 1 2020.

Namun response Pak Jokowi atas kondisi wabah Corono bahwa untuk mengambil kesempatan dalam kondisi yang kurang menguntungkan. “Terakhir, dari sektor pariwisata, saya minta disiapkan langkah-langkah kontingensi, terutama untuk Bali dan Sulut, dua daerah yang selama ini banyak dikunjungi oleh wisatawan dari RRT. Dan dalam jangka pendek juga saya minta dimanfaatkan peluang untuk menyasar ceruk pasar wisman yang sedang cari alternatif untuk destinasi wisata karena batal berkunjung ke RRT,” pungkas Jokowi dalam Ratas dengan beberapa Menteri pada tanggal 3 Februari di Istana Bogor

Idea baru  Pak Jokowi seyogianya segera ditindak lanjuti dengan langkah-langkah yang nyata khususnya bagi operator penerbangan nasional dan industri pariwisata mengingat ada alat produksi yang menganggur, rendah okupansi hotel dan terdapat segment market Millennial mancanegara  seperti pasar Jepang Taiwan Thailand Malaysia Vietnam Singapore, Timur Tengah dan Australia, yang  dapat dipenetrasi secara intensif dengan memberikan penawaran-penawaran menarik sehingga segment Millennial untuk memindakan  liburannya  atau berlibur ke Indonesia.

Dari segi operator penerbangan, asal dapat menutupi direct operating cost seyogianya penerbangan dapat dilaksanakan karena biaya yang lain sudah ditutupi oleh penerimaan dari penjualan kursi pesawat. Artinya dengan peningkatan utilisasi pesawat tanpa ada tambahan beban cash flow, namun  dapat membantu sektor pariwisata untuk menarik turis asing untuk berkunjung ke Indonesia. Dengan perkataan lain dapat memberikan tariff yang sangat kompetitif sehingga tercipta  paket-paket liburan manarik.

Demikian pula pihak hotel dan restaurant,  tentunya dapat berkontribusi dengan  memberikan tariff hotel yang menarik mengingat tingkat okupansi yang rendah dalam periode 3 bulan kedepan , sehingga paket-paket liburan dapat lebih  menarik.

Dengan target market segment millennial manca negara, dengan  customer behavioral yang unik seperti  willing to experience new culture, pengguna aktif social media,kuliner  dan kegandrungan selfie, serta cenderung sangat flexible penentuan  waktu liburan.

Tentunya diperlukan langkah yang cepat dan tepat agar program diatas dapat segera dilaksanakan dan segera menghasilkan tambahan kedatangan turis mancanegara mengingat jendela waktu maksimum 3 bulan sampai bulan Mai 2020. Lebih jauh berdasarkan pengamatan bahwa recovery dari wabah SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) tahun 2003 memerlukan 3-6 bulan sampai pemulihan.

Mengingat program promosi  diatas dapat memuaskan  operator penerbangan, stakeholder pariwisata  dan berlangsung dengan periode singkat, maka diperlukan komitmen  semua pihak terkait  agar program diatas dapat dilaksanakan dengan baik.

Untuk itu  koordinasi antara Operator Penerbangan, Persatuan Hotel dan Restaurant (PHRI), Asosiasi Tour dan Travel Agent (ASITA)  dan Kepala Daerah Terkait  dibawah koordinasi Kementrian  Pariwisata  dapat membuahkan hasil maksimal. Mulai dari pembuatan paket-paket menarik, strategi promosi khususnya dimedia sosial  di negara-negara tersebut diatas dan penggunaan influencer agar menarik pasar  millennial untuk berwisata ke Indonesia.

Semoga ‘musibah’ ini dapat dijadikan kesempatan Operator Penerbangan dan Industri Pariwisata  agar  dapat menciptakan Cash Inflow perusahaan  dan pada gilirannya meningkatkan devisa Negara.

Share :
You might also like