Tangerang Parrot Lovers (TPL) Kumpulan Penggemar “Si Paruh Bengkok”

Parrot merupakan salah satu jenis burung berparuh bengkok yang kian digemari sebagai burung peliharaan. Meski burung yang punya tubuh bongsor ini rupanya bukan dinikmati dari kicauannya melainkan sebagai burung hias lantaran warna bulunya yang cantik.

Dibalik keindahan warnanya aksi burung ini pun tak kalah ciamik. Pasalnya, Parrot dikenal punya intelegensia yang cukup tinggi. Alhasil, ia bisa menirukan suara manusia, menari, berhitung bahkan bisa dilatih untuk terbang bebas dan kembali (free flight).

Burung ini dinilai mudah dalam melatihnya hingga bounding atau jinak. Namun tidak semua Parrot ini mudah dilatih, karena masing-masing Parrot memiliki jenis dan karakter yang berbeda. Untuk itu, ia perlu dilatih sedini mungkin agar ketika diterbangkan bersama-sama akan kembali ke pemiliknya dengan radius jarak yang cukup jauh.

Setiap burung dikasih nama. Dan uniknya, agar ia mau kembali ke pemiliknya saat diterbangkan, cukup dipanggil namanya dipadu suara khas dari peluit sekaligus piranti yang digunakan untuk menyuapi burung sejak masih piyik (bayi).

Salah satu komunitas penggemar burung Parrot yang tetap aktif hingga saat ini adalah Tangerang Parrot Lovers (TPL). Komunitas yang diketuai Dhesga Selano Margen atau yang akrab disapa Ega, dengan anggota yang kurang lebih sekitar 60 orang ini tersebar di wilayah Tangerang dan sekitarnya. Berdiri sekitar tahun 2014, TPL terbentuk berawal dari segelintir orang pecinta burung Parrot menginisiasikan untuk dibentuknya suatu komunitas.

Ega bersama rekan anggotanya juga tak segan untuk melakukan latihan bersama sembari sosialisasi setiap Sabtu dan Minggu sore di sekitaran kawasan BSD, Serpong. Ketika latihan bersama, yang datang antara 10 sampai 30 anggota dan membawa burung Parrot kesayangan masing-masing.

Jenis burung Parrot yang dimiliki beberapa member di TPL antara lain Parkit Australia (Falk), Lovebird, Betet Jawa, Sunconure, Patagonian Conure, African Grey hingga Macaw. Untuk kisaran harga burung jenis ini sangatlah variatif, dari mulai 150 ribu sampai yang paling mahal yaitu 350 juta rupiah.

Fase Latihan dengan Beberapa Tahapan

Untuk melatih burung agar menjadi Free Flight, lanjut Desgha harus melewati sejumlah tahapan. Antara lain sejak masih berumur dua bulan sudah diberi nama. Kemudian rutin diloloh (disuapi) dengan tangan, atau dapat juga menggunakan alat bantu seperti spet dan pointer untuk mengenali pemiliknya. Tak kalah penting sebelum diberi makan selalu diberi tanda seperti dengan membunyikan peluit dengan suara khas.

Rutin juga dipanggil namanya sewaktu-waktu. Saatnya sudah belajar terbang, diajari terbang bahkan dilepas dari jarak tertentu secara bertahap. Meski burung sudah akrab dengan pemiliknya, ada juga yang sebagian terbang jauh dan tak mau kembali. Ada lagi yang berhenti di suatu pohon, sehingga pemilik terpaksa harus naik ke pohon sambil merayu dengan mendekatkan piranti makan. Semua ini termasuk risiko saat melatih burung untuk menjadikan agar burung  menuruti perintah pemiliknya.

Kecintaan terhadap burung sebagai hewan peliharaan, membuat TPL memiliki visi untuk mengembalikan kodrat burung untuk terbang bebas. Seperti halnya pecinta burung berkicau, TPL menikmati indahnya memelihara burung saat menyaksikan hewan bersayap ini terbang bebas dilangit.

Tak ubahnya hewan peliharaan lain, burung nyatanya dapat dilatih untuk bisa jinak dengan pemiliknya, bersiul, melakukan trik, hingga mendarat saat dipanggil pemiliknya. Namun tentunya, ukuran burung yang relatif kecil dibanding hewan-hewan lain dan memiliki kemampuan terbang jarak jauh menjadi tantangan tersendiri bagi pemiliknya.

“Ada kepuasan tersendiri ketika burung itu sudah Free Flight. Deg-degan juga karena burung terbang dengan jarak yang cukup jauh sampai takjub dan bangga ketika burung sudah landing ke tangan kita” ucap Ega sambil tertawa.

Karenanya, keterikatan burung dengan pemiliknya menjadi kunci trik Free Flight supaya berhasil. Free Flight merupakan trik yang digunakan pemilik agar burung dapat kembali mendarat sesuai perintah.

Perintah ini dapat berupa siulan, bunyi peluit atau panggilan nama dari sang pemilik alias pelatih sesuai metode atau kebiasaan yang digunakan. Sejak dini, pemilik membangun keterikatan dengan si burung dengan cara merawat, memberi makan bayi burung layaknya induk burung.

“Strateginya adalah memanfaatkan masa-masa burung lapar, sehingga kita mendapatkan perhatian dari si burung. Agar sukses, latihan harus intens, maka tidak jarang jika katakanlah burung makan dua kali sehari, maka buatlah jatah makan itu menjadi 3-4 kali dengan variasi makanan buah-buahan dan sayur-sayuran sambil melakukan quality time dengan pemiliknya,” ujar CEO di salah satu showroom mobil ini.

Untuk mempermudah burung mengenali pemiliknya, pemilik biasa menggunakan pointer atau ciri khas yang biasa dikenakan sang pemilik. Ciri atau target itu bisa berupa jaket, topi, baju maupun tempat makan.

Desgha juga menambahkan, beranjak dewasa, burung akan mulai menghafal wajah dan suara pemiliknya, sehingga memungkinkan burung hanya patuh hanya dengan pemiliknya saja atau biasa disebut one man. Idealnya burung dilatih secara One Man untuk meminimalkan risiko escape atau hilang saat terbang. Semua burung bisa dilatih tapi tidak semua bisa one man, tergantung jenis burungnya.

Semakin banyaknya komunitas Parrot di setiap kota membuat Ega berharap agar setiap komunitas saling menjaga kesolidannya serta menjaga silaturahmi dengan baik, serta tidak ada gesekan yang menurutnya dapat memecah belah suatu komunitas. (BP)

Share :