Terdampak Virus Corona, Pemerintah Dorong Pemberian Insentif Kepada Maskapai Penerbangan

Jakarta, airmagz.com – Penyebaran virus corona tipe baru (novel corronavirus 2019-nCoV) memberikan dampak buruk bagi industri penerbangan Indonesia, terutama untuk maskapai yang memiliki rute penerbangan dari dan menuju Cina. Maskapai-maskapai itu adalah Garuda Indonesia, Citilink, Batik Air, Lion Air, dan Sriwijaya.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, untuk mengatasi dampak buruk tersebut Kementerian Perhubungan bekerjasama dengan Kementerian Keuangan, dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tengah menggodok pemberian insentif untuk maskapai-maskapai yang terdampak.

“Tentu insentifnya itu yang paling berguna, oleh karenanya kami dalam beberapa hari ini akan membuat klasifikasi setelah itu kami akan usulkan ke presiden,” kata Budi dalam Rapat Koordinasi Antisipasi Dampak Virus Corona di Gedung Sapta Pesona, Kemenparekraf, Jakarta, Rabu (12/02).

Berdasarkan hasil rapat koordinasi Budi Karya menyampaikan maskapai penerbangan meminta insentif berupa Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), “kalau insentif dari pemerintah katakanlah tadi mengenai aircraft yang harus membayar PNBP akan kita kurangi, terus dari Angkasa Pura I dan II katakanlah landing fee yang dikurangi, sewa ruangannya mungkin ada diskon,” jelasnya.

Dalam pemberian insentif ini Menhub menuturkan pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, harus ada kerjasama dengan operator bandara, maskapai, dan hotel supaya masyarakat tetap punya keinginan untuk berlibur dengan menggunakan transportasi udara.

Senada dengan Menhub, Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengungkapkan perlunya dukungan terhadap maskapai-maskapai yang rutenya ditutup akibat virus corona. “Kita juga harus bantu mereka, kita bisa bantu dengan 2 insentif yaitu operation incetive, dan marketing incentive,” ungkapnya.

Untuk operation incetive misalnya maskapai diberikan diskon landing fee dan parking fee, bahkan jika landing dilakukan malam hari bisa digratiskan, sedangkan untuk marketing incentive bisa dengan membuka rute baru. “Kalau operation incentive bisa kita berikan selama ada kesepakatan B to B, tapi kalau marketing incentive kita harus rembukan bareng-bareng,” ujar Awaluddin.

Terhitung sejak tanggal 5 Februari 2020 pemerintah secara resmi menutup rute penerbangan dari dan menuju Cina, langkah itu diambil untuk mengurangi resiko penyebaran virus corona jenis baru ke Indonesia. Berdasarkan data dari Komisi Kesehatan Nasional Cina (NHC) yang dikutip oleh kompas.com korban meninggal dunia akibat virus corona hingga Kamis (13/02) sebanyak 1.357 orang.

(IH)

Share :
You might also like