Komunitas Indonesian Reenactors (IDR) Mengemas Sejarah Lebih Menarik

Banyak cara untuk merawat ingatan tentang sejarah sebuah bangsa. Meski diakui tak sedikit yang malas mempelajarinya. Apalagi ketika dipaksa untuk menghafal tanggal kejadian, nama tokoh maupun peristiwa tanpa tahu latar belakang yang melingkupinya. Namun ada cara yang unik dan jauh dari kata membosankan, yakni dengan melakukan reenactment. Apa itu?

Reenactment merupakan reka ulang yang bertujuan untuk melakukan edukasi dimana para pelakunya (reenactors) makin mencintai sejarah suatu bangsa. Yang pasti reenactment mampu menampilkan sejarah dengan cara yang berbeda. Dalam hal ini reenactors diajak terlibat langsung berperan dalam sebuah peristiwa sejarah. 

“Mengenalkan sejarah pada anak-anak sekarang tidak mudah. Dengan cara konvensional seperti yang diajarkan di sekolah membuat sebuah peristiwa sejarah menjadi tidak menarik. Mereka harus menghafal segala hal yang terkait dengan semuanya mulai dari nama, tanggal, tempat peristiwa tanpa bisa membayangkan kejadian yang sebenarnya. Dengan menjadi reenactors mereka bisa mendapat gambaran yang jelas dan lebih menarik,” ujar Aryo Bimo Notohadikoesoemo, salah seorang anggota Komunitas Reenactors Indonesia (IDR).

Meski di luar negeri penggemar reka ulang ini sudah ada sejak tahun 1990-an, di Indonesia komunitas ini baru resmi terbentuk tahun 2009 dengan nama Indonesian Reenactors (IDR). Anggota IDR biasanya memiliki ketertarikan yang berbeda, ada yang tertarik dengan peristiwa Perang Dunia II, perang sipil di Amerika, atau perang kemerdekaan Indonesia.

Menurut Bimo, peminat sejarah PD II paling banyak dibandingkan dengan perang lainnya. Salah satu yang paling menarik minat adalah memerankan tentara Jerman. Seragamnya paling bagus dibandingkan tentara lainnya. Pada zaman PD II, seragam tentara Jerman didesain oleh Hugo Boss.

“Di luar negeri ada hoby namanya reenactment, reka ulang secara obyektif lengkap dengan pakaian, bahasa dan gerak geriknya. Bahkan cara makan dan minum pun harus sama. Ini menjadi proses edukasi mengenai sebuah sejarah berdasarkan data-data yang sudah tercatat. Reenactors bukanlah penggemar sejarah biasa. Mereka tidak puas hanya membaca buku sejarah perang, tetapi juga ingin ”menghidupkan” sejarah,” ujar Bimo.

Identik dengan Tentara Jerman

Indonesia Reenactors memang identik dengan seragam tentara Jerman. Sejak awal didirikan para anggotanya lebih tertarik berperan sebagai tentara Jerman. Namun, seperti diungkapkan Bimo, proses pembentukan IDR ternyata tidak mudah. Mereka harus mengantongi ijin dari reenactors Jerman. Salah satu syaratnya, Indonesia harus memiliki hubungan sejarah dengan Jerman.

“Ternyata pada tahun 1944 ketika tentara Sekutu masuk ke Belanda ada pasukan yang namanya Niederland Kampfgruppe yang mana mayoritas anggotanya adalah sukarelawan dari Belanda dan Indonesia, dan ada fotonya. Ada satu pasukan yang orang Indonesia masuk menjadi tentara Jerman. Dengan bukti foto yang ada akhirnya kita mendapat ijin reenactment tentara Jerman,” jelas Bimo.

Foto : Dokumentasi Aryo Bimo Notohadikoesoemo

Dalam perkembangannya selain tentara Jerman muncul juga reenactment tentara Amerika. Menurut Bimo, keputusan itu lebih dipengaruhi karena faktor politik. Jika reenactment Jerman tidak ada tentara Amerikanya maka bisa dicap Neo Nazi. Terlepas dari itu, seragam pasukan Amerika juga tak kalah keren dengan Jerman. Itu juga yang menjadi alasan. Namun dengan bertambahnya anggota banyak yang ingin me-reenactment pasukan lain yakni tentara Jepang, PETA, TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

Agar bisa berperan sebagai tentara Jerman maupun Amerika anggota IDR harus mengenakan kostum seperti aslinya berikut pernak-pernik yang melengkapinya. Tidak sembarang tempat menyediakan pakaian semacam itu. Bahkan, pada tahun 2010-an, komunitas ini terpaksa harus impor untuk mendatangkan seragam tersebut.

“Dulu kita terpaksa harus impor dari Inggris. Kita dituntut untuk seotentik mungkin. Itu juga permintaan dari reenactors Jerman, meskipun tinggal di negara tropis kita mesti ikut mengenakan seragam yang berbahan wol. Bisa dibayangkan dengan suhu udara yang cukup panas, kita harus mengenakan seragam tentara dengan bahan wol,” jelas pria alumnus Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia ini.

Tentu saja untuk mendapatkan seragam tersebut, setiap anggota mesti merogoh kocek yang cukup dalam. Kostum tentara Jerman tercatat yang paling mahal. Harga bajunya saja, lanjut Bimo, sekitar Rp6 juta sedangkan pernak-perniknya mencapai Rp4 juta. Jika ingin mendapatkan satu set baju lengkap dengan assesorisnya anggota IDR mesti menyiapkan uang antara Rp15 juta-Rp20 juta.

“Itu pada 2010-2012 kita terpaksa harus impor. Tapi 2013 ada teman di Bandung yang mulai bisa bikin sendiri. Berbekal pengetahuan atas pola bajunya akhirnya dibuat produk lokalnya. Semua gara-gara kita ingin total dengan detail seragam tentara Jerman, mereka akhirnya mengijinkan. Apalagi bahan disesuaikan juga dengan iklim di Indonesia. Dulu pakai bahan wol, mukanya ditutup juga. Belum perang kita sudah capai,” canda Bimo.

Begitu juga seragam yang lain, PETA dan TKR dibikin di Surabaya. Sementara untuk seragam tentara Jepang, lanjutnya, ada satu anggota IDR yang berasal dari Jepang. Ia membeli seragam dari Jepang di Toko Nakata Shoten yang kemudian dipereteli untuk diambil polanya. Harga seragamnya terbilang murah hanya Rp1 juta-Rp2 juta, tapi justru pernak-perniknya bisa menghabiskan sekitar Rp5 jutaan. Jika diurutkan dari harganya, seragam Jerman yang paling mahal diikuti Inggris, Jepang, PETA dan TKR yang hanya Rp500 ribu. Bahkan seragam lascar bisa lebih murah yang hanya butuh celana tangsi, baju koko dan kopiah.

“Satu orang bisa punya beberapa seragam. Untuk seragam Jerman wajib punya karena identik dengan IDR. Saya sendiri punya seragam Jerman, Inggris dan PETA.  Kalau ada acara di luar kota seperti Surabaya dan Jogja kita tidak harus membuat satu pasukan. Kita bisa mengenakan seragam apa saja karena disana sudah ada berbagai pasukan,” tambahnya.

Tiga Agenda Kegiatan

Dengan anggota yang rata-rata memiliki kesibukan, agenda IDR memang tidak terlalu banyak. Ada tiga agenda kegiatan yang biasanya diikuti yaitu Jambore, acara Surabaya Joeang, dan Serangan Umum 1 Maret. Untuk Jambore, lanjut Bimo diadakan di Sentul selama 2 hari satu malam. Jumlah peserta yang hadir sekitar 30 orang. “Kita nginep disana dengan peserta dari perwakilan Jakarta, Semarang, Jogja dan Surabaya. Di acara ini kita jadi ajang reenactors dari daerah untuk ngumpul bareng,” tambahnya.

Kegiatan berikutnya Surabaya Joeang yang akan diadakan pada 4 November 2018. Biasanya seluruh reenactors akan hadir di acara tersebut yang oleh Bimo disebut sebagai kawah candradimuka-nya para reenactors. Para peserta akan berjalan sejauh 7 kilometer dari Tugu Pahlawan ke Taman Bungkul. Dan sepanjang jalan akan ada adegan perang diantara pasukan yang ada.

“Acaranya meriah karena ada kerjasama dengan pihak TNI Angkatan Laut. Letusan senjatanya pun terdengar seperti asli dan benar-benar berasa sedang perang. Kita sekalian ngetes fisik karena disana akan lari-lari sejauh 7 kilo dengan mengenakan seragam berbahan wol dan pernak-pernik yang beratnya sampai 8 kilo,” tuturnya.

Dan kegiatan lainnya yang diadakan di Yogyakarta terkait peristiwa Serangan Umum 1 Maret. Tak kalah seru dari Surabaya Juang, acara Serangan Umum 1 Maret juga dihadiri reenactors dari berbagai kota. Peserta yang hadir, lanjut Bimo usianya juga beragam dari anak-anak hingga orang dewasa.

“Umurnya tidak dibatasi bahkan ada rekan saya dari Semarang yang anaknya pun dibawa dan didandani juga. Mungkin masih ingat sosok Temon pada film Serangan Umum 1 Maret? Anak itu didandani seperti Temon, yang hanya pakai kolor serta ketapelnya. Yang jelas komunitas reenactors tidak mengikat karena kita tidak punya struktur organisasi resmi tapi hanya punya niat untuk menyebarkan sejarah menjadi menarik,” pungkasnya. (SS)

Share :
You might also like