Mewujudkan Konsep Aerotropolis di Bandara Ngloram

Jakarta, airmagz.com – Setelah lama ditunggu oleh masyarakat Blora dan sekitarnya, pembangunan Bandara Ngloram mulai bergulir. Landasan pacu yang awalnya hanya 900 meter sudah diperpanjang menjadi 1.200 meter dan akan ditingkatkan ke 1.600 meter hingga 2.500 meter. Sehingga nantinya bandara bisa didarati oleh pesawat ATR-72 hingga narrow body Boeing maupun Airbus.

Kini, sejak tahun 2018 pembangunan Bandara Ngloram yang luas lahannya mencapai 21,5 hektar ini mulai digarap dan langsung ditangani oleh Kementerian Perhubungan.  Pembangunannya rencananya dilakukkan hingga empat tahap.

Selain runway, juga akan dilakukan pembangunan Terminal tahap I, rekonstruksi Apron dan Taxiway, RESA Threshold Runway, pembuatan akses jalan masuk, pengadaan dan pemasangan AFL, dan pembuatan gedung PKP-PK.

Foto : Istimewa

Lalu dilanjutkan pembuatan drainase sisi udara, pembuatan gedung operasional, pembuatan landscape, pembangunan gedung kantor, pengadaan dan pemasangan Walk Through Metal Detector, pengadaan Hand Held Metal Detector dan lain sebagainya.

Menurut Anggota Tim Koordinasi Percepatan Reaktivasi Bandar Udara Ngloram dan Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Blora, Jati Walujastono, keberadaan bandara ini menjadi penting mengingat sektor pertambangan Migas di wilayah Blok Cepu terus menggeliat.

Tak hanya itu, jalan Blora-Cepu kini ditetapkan sebagai jalan Nasional serta Kecamatan Cepu terpilih menjadi Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) oleh Pemerintah Pusat, menjadikan daerah ini menjadi kawasan penting.

Sejatinya , Bandara Ngloram sudah ada sejak tahun 1980. Bandara ini dibangun untuk mendukung proyek-proyek pertambangan minyak dan gas (migas) di Blora dan sekitarnya yang mulai berkembang. Kali pertama yang mendarat adalah Presiden Soeharto. Namun empat tahun setelah itu bandara tidak lagi beroperasi.

Berfungsinya kembali Bandara Ngloram juga diprediksi akan semakin mamacu berkembangnya pusat aktivitas ekonomi baru. Peningkatan kebutuhan layanan bandara juga tidak terhindarkan semisal, penambahan fasilitas komersial, kluster hote, pusat pertokoan dan hiburan yang ada dalam kawasan operasional bandara.

Foto : Istimewa

“Fenomena ini akan membentuk area disekitar Bandara Ngloram menjadi suatu kota baru. Banyak kegiatan usaha atau jasa komersial di sekitar kawasan bandara udara Ngloram menjadi dasar terbentuknya konsep kota bandara (Airport City) yang merupakan embrio terbentuknya konsep Aerotropolis,” ujar Jati.

Bukan hanya fasilitas bisnis, operasional Bandara Ngloram yang rencananya bakal dilakukan pada tahun 2021 akan memberi angin segar bagi sejumlah perusahaan jasa kegirgantaraan. Di antaranya perusahaan yang bergerak untuk jasa  pemeliharaan, perbaikan dan overhaul  (MRO), kegiatan pendidikan dan pelatihan kedirgantaraan dan sebagainya.

Bergabungnya perusahaan di atas memungkinkan adanya pembangunan kawasan industri kedirgantaraan atau Aerospace Park. Aerospace Park adalah adalah suatu kawasan industri yang melayani kegiatan industri kedirgantaraan.

Di dalam negeri ketua Indonesia Aircraft Maintenance Services Associations (IAMSA), Richard Budihadianto telah mengusulkan pembangunan kawasan industri kedirgantaraan atau Aerospace Park yaitu di Bintan, Kepulauan Riau untuk memenuhi kebutuhan di kawasan barat dan Menado, Sulawesi Utara untuk kawasan timur.

Sedangkan potensi pengembangan Aerospace Park di pulau Jawa adalah sekitar Bandara Soekarno Hatta, Bandara Husein Sastranegara, Bandara Kertajati, Bandara Ahmad Yani, Bandara Adi Sucipto, Bandara Adi Sumarno, Bandara Juanda, dan Bandara Ngloram.

“Melihat potensi bisnis yang besar dengan adanya bandara ngloram ini, Pemerintah Kabupaten Blora dan Provinsi Jawa Tengah mestinya memberi respon mengenai perencanaan konsep Aerotropolis dan Aerospace park,” lanjut Jati.

Dengan adanya Aerotropolis dan Aerospace Park di Kabupaten Blora, akan membuka lapangan pekerjaan untuk menyerap tenaga kerja. Dengan terserapnya tenaga kerja maka akan mengurangi pengangguran dan sekaligus bisa mengurangi kemiskinan di Blora. Pasalnya, jika hanya hanya mengandalkan pekerjaan di sektor pertanian, kehutanan, dan migas, masih tetap saja kurang mencukupi untuk membuka lapangan pekerjaan di Blora. (SS/GR)

Share :
You might also like