Indonesia Sketchers, Menyebar Virus Sketsa ke Seluruh Indonesia

Lahir pada November 2009, Komunitas Indonesia Sketchers berawal dari perkumpulan beberapa ilustrator ibu kota yang telah menjalin komunikasi via media sosial. Kemudian mereka berinisiatif untuk membuat wadah bagi para penggiat dan pecinta sketsa.

Menggambar merupakan salah satu aktivitas tertua yang dilakukan oleh manusia sebelum mengenal aksara atau sistem tulisan. Hal itu bisa dibuktikan melalui gambar purbakala yang ditemukan, baik di dinding gua maupun media lain seperti batu, kayu, dan kulit hewan.

Kegiatan menggambar memiliki proses cukup panjang sehingga menghasilkan sebuah karya dalam bentuk lukisan. Sebagai permulaan untuk menjadi lukisan, seseorang terlebih dulu membuat sketsa atau gambar rancangan bagi sebuah lukisan.

Meski disebut sebagai proses gambar yang belum selesai, sketsa justru memiliki daya tarik bagi orang yang gemar pada gambar atau lukisan. Tidak hanya itu, kini telah bermunculan berbagai komunitas sketsa, salah satunya adalah Indonesia Sketchers.

foto: dokumentasi Indonesia Sketchers

Indonesia Sketchers lahir pada November 2009 di Jakarta. Komunitas ini berawal dari perkumpulan beberapa ilustrator ibu kota yang telah menjalin komunikasi via media sosial. Kemudian mereka berinisiatif untuk membuat wadah bagi para penggiat dan pecinta sketsa.

Meski hampir satu dekade eksis, Indonesia Sketchers tidak memiliki aturan yang kaku dan mengikat pada anggotanya. Siapapun boleh bergabung dan mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Indonesia Sketchers.

“Anggota atau member Indonesia Sketcher tidak ada aturan yang mengikat, enggak ada persyaratan macam-macam. Kalau suka gambar, nyeket , silahkan gabung. Bahkan orang yang cuma senang lihat gambar-gambar sketsa juga boleh bergabung,” kata Ketua Indonesia Sketchers, Yanuar Ikhsan.

Seiring berjalan waktu, geliat dan animo terhadap sketsa cukup besar di beberapa daerah. Hal itu ditandai dengan munculnya komuni tas sketsa yang cukup rutin melakukan kegiatan. Rupanya, beberapa komunitas tersebut di antaranya dicetuskan oleh anggota dari Indonesia Sketchers.

Meski tidak memiliki hubungan secara kelembagaan, hadirnya komunitas sketsa di daerah menjadi sinyal positif bagi Indonesia Sketchers. Karena salah satu tujuan utama mereka adalah menularkan “virus” sketsa ke seluruh penjuru tanah air.

“Di beberapa daerah juga ada komunitas sketsa. Inisiator komunitas itu juga bagian dari Indonesia Sketchers. Itu enggak ada masalah. Tujuan kami adalah untuk membangkitkan orang-orang melakukan sketsa itu berhasil. Jadi, orang-orang makin tahu tentang sketsa,” papar Toni Malakian, salah satu penggawa di Indonesia Sketchers.

Beberapa event besar dalam dan luar negeri telah diikuti oleh Indonesia Sketchers. Terbaru adalah International Island Life Sketchwalk di Banda pada 19-24 Oktober 2018. Acara itu dihadiri beberapa sketser tanah air dan luar negeri seperti Alvin Mark (Singapura) dan Mario Linhares (Portugal).

Selain melakukan workshop tentang sketsa kepada peserta yang mayoritas pelajar, Indonesia Sketchers juga ingin memperkenalkan wilayah Indonesia timur. Selama ini kegiatan sketsa terfokus di Indonesia barat, khususnya Pulau Jawa. Padahal, di wilayah timur banyak tempat yang menarik untuk dijadikan objek sketsa.

“Acara di Banda itu salah satu tujuan kami mengangkat Indonesia bagian timur. Banyak objek di sana yang bagus, selama ini kita selalu di Jawa. Kita juga mengajak urban sketcher internasional. Agar mereka juga tahu bahwa Indonesia timur memiliki tempat-tempat yang bagus untuk nyeket,” ungkap Yanuar.

Kabar baiknya, berkat acara tersebut pemerintah daerah Banda berniat untuk memasukkan materi sketsa ke dalam kurikulum pendidikan. Ide tersebut disambut dengan suka cita oleh Indonesia Sketcher dan berharap akan memberi dampak positif untuk para pelajar.

Indonesia Sketchers juga pernah bekerja sama dengan Pusat Kebudayaan Belanda di Indonesia pada 2015. Kerja sama itu berupa pameran karya-karya sketsa peninggalan arsitektur Belanda di enam kota besar Indonesia.

Hasil sketsa yang terkumpul kemudian dipamerkan di galeri Erasmus Huis Jakarta. Tidak hanya itu, kumpulan karya sketsa tersebut kemudian dihimpun menjadi sebuah buku.

Karakter dan Keunikan Indonesia Sketchers

Salah satu yang menjadi ciri khas dan karakter Indonesia Sketchers adalah melakukan sketsa langsung atau on the spot. Jadi, para sketser dituntut untuk membuat sketsa apa adanya sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi.

Seperti tertuang dalam tagline Indonesia Sketchers, “We Draw What We Witness ” atau menggambar sesuai dengan apa yang disaksikan secara langsung. Hal ini berbeda dengan melakukan sketsa live model atau objek yang diatur lebih dulu.

Indonesia Sketchers juga memberi kebebasan kepada para anggotanya apabila ingin mewarnai gambar sketsa yang mereka hasilkan. Alasannya, tiap orang memiliki latar belakang dan pemahaman yang berbeda tentang sketsa dan gambar.

“Kalau di Indonesia Sketchers tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Yang penting kampanye kita untuk mengajak orang-orang nyeket berjalan dengan baik,” ujar Yanuar.

Keunikan lainnya di Indonesia Sketchers adalah tidak disarankan penggunaan penghapus ketika melakukan sketsa. Hal itu bertujuan agar tiap anggota terbiasa untuk berlaku jujur, menghargai proses, dan dapat mengambil pelajaran berharga dari kesalahan yang telah dilakukan.

Tidak selesai sampai di situ, tiap anggota juga didorong untuk terbiasa menceritakan kembali apa yang telah mereka sketsa. Dengan begitu, anggota Indonesia Sketcher khususnya yang masih muda, memiliki keberanian untuk tampil di depan umum. Juga sebagai cara agar mereka lebih peka terhadap sekitarnya.

Tapi, tidak jarang pula anggota Indonesia Sketchers dari kalangan dewasa dan profesional merasa kaku ketika haru melakukan sketsa langsung. Hal itu karena mereka terbiasa melakukan sketsa dengan bantuan teknologi digital.

Sketsa Sebagai Terapi

Situs The Atlantic memuat sebuah hasil studi dari Jurnal Art Therapy tentang efek aktivitas seni, khususnya menggambar dalam mengurangi tingkat stres atau kecemasan. Studi yang dilakukan pada 2012 itu menunjukkan bahwa menggambar secara signifikan berhasil mengurangi tingkat stres seseorang.

Dr. Anna Elissa, salah satu member Indonesia Sketchers dan juga penggiat Bogor Sketchers, pernah membuat sebuah seminar “Sketsa Sebagai Pereda Stres”. Acara tersebut mendapat sambutan cukup baik dan tidak sedikit peserta yang hadir untuk mengikuti seminar.

Tidak hanya mengurangi stres, sketsa dan kegiatan menggambar juga membantu orang tua yang memiliki anak hiperaktif dan kecanduan gadget. Menggambar mampu membuat anak fokus dan tenang. Juga mengalihkan perhatian anak untuk tidak bergantung kepada gadget.

“Di Bogor juga ada sketsa sebagai terapi untuk pereda stres. Awalnya kita cuma sharing dan ternyata bisa diterapkan dan berkontribusi ke berbagai bidang,” ungkap Yanuar.

Melihat potensi sketsa yang besar tersebut , Yanuar dan kawan-kawan berusaha untuk mengadakan gathering rutin bagi member di Jakarta. Hal itu dilakukan agar solidaritas antar member terjalin kuat sekaligus menjaring orang yang ingin bergabung ke Indonesia Sketchers.

Yanuar yang bergabung pada 2010 berbagi pengalaman bahwa tidak harus pandai menggambar apabila ingin menjadi member Indonesia Sketchers. Bagi yang hanya suka melihat gambar sketsa saja juga boleh bergabung. Dengan sendirinya keinginan untuk ikut menggambar akan timbul secara perlahan.

Beberapa orang memiliki kecenderungan yang berbeda dalam memilih objek yang akan dijadikan sketsa. Tapi, di Indonesia Sketchers tiap orang berkesempatan untuk menggambar apa saja karena objek dilihat secara langsung.

Menggambar objek yang diam atau benda mati berbeda dengan objek yang dinamis seperti orang berjalan atau lalu lintas di jalan. Melalui sesi sharing ketika gathering bersama member, Indonesia Sketchers akan berbagi trik dalam menggambar objek yang bergerak.

“Sebenarnya ada trik untuk menggambar crowd atau suasana di keramaian. Pertama observasi, menentukan objek yang akan digambar. Pilih objek yang tidak banyak bergerak. Kalau orang lalu lalang, gambar secukupnya saja. Gak harus terlihat detail, cukup image bahwa ada pergerakan orang di sana. Triknya seperti itu,” jelas Yanuar yang berprofesi sebagai programmer tersebut. (IY)

Share :